Hortikultura

Ketika Hortikultura Menjadi Penyangga Pangan Indonesia

(Beritadaerah-Kolom) Di tengah perhatian publik yang sering tertuju pada beras sebagai komoditas pangan utama, sektor hortikultura sesungguhnya memainkan peran yang tidak kalah penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bawang merah, bawang putih, cabai, kentang, tomat, hingga berbagai buah-buahan dan tanaman biofarmaka bukan hanya hadir di meja makan setiap hari, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan stabilitas harga dan tingkat inflasi nasional.

Data Statistik Hortikultura 2025 menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu produsen hortikultura terbesar di kawasan Asia Tenggara. Publikasi tersebut mencakup 18 komoditas strategis yang meliputi sayuran semusim, buah-buahan tahunan, tanaman biofarmaka, dan tanaman hias. Gambaran yang muncul dari data tersebut menunjukkan sektor hortikultura yang terus berkembang, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan terkait produktivitas, konsumsi, dan perdagangan internasional.

Salah satu komoditas paling strategis adalah bawang merah. Pada tahun 2025, produksi bawang merah nasional mencapai 2,19 juta ton atau meningkat 4,82 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga mencapai 945,40 ribu ton, naik 17 persen dibandingkan tahun 2024. Tingkat partisipasi konsumsi bawang merah mencapai 94,02 persen rumah tangga Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa bawang merah merupakan kebutuhan yang hampir tidak tergantikan dalam pola konsumsi masyarakat.

Dominasi produksi bawang merah masih berada di Pulau Jawa. Jawa Tengah menjadi produsen terbesar dengan produksi mencapai 584,03 ribu ton atau sekitar 26,72 persen dari total produksi nasional. Jawa Timur berada di posisi kedua dengan produksi 500,30 ribu ton atau 22,89 persen dari produksi nasional. Sementara itu, Sulawesi Selatan menghasilkan 322,74 ribu ton atau sekitar 14,76 persen produksi nasional.

Meski produksi domestik cukup besar, perdagangan luar negeri bawang merah memperlihatkan perkembangan yang menarik. Nilai ekspor bawang merah pada tahun 2025 hanya mencapai US$3,34 juta, turun 82,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor meningkat 180,33 persen menjadi US$3,98 juta. Thailand menjadi tujuan utama ekspor bawang merah Indonesia, sedangkan India menjadi negara asal impor terbesar.

Kondisi berbeda terlihat pada bawang putih. Produksi nasional pada tahun 2025 hanya mencapai 36,86 ribu ton, turun 6,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun konsumsi rumah tangga mencapai 635,50 ribu ton atau meningkat 16,74 persen dibandingkan tahun 2024. Kesenjangan yang sangat besar antara produksi dan konsumsi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Ketergantungan tersebut tercermin dari nilai impor bawang putih yang mencapai US$608,57 juta pada tahun 2025. Sebagian besar impor berasal dari Tiongkok dengan nilai mencapai US$591,62 juta atau setara 531,13 ribu ton. Sementara itu, produksi nasional sangat terkonsentrasi di Jawa Tengah yang menyumbang 63,87 persen produksi nasional, disusul Nusa Tenggara Barat sebesar 31,63 persen.

Komoditas lain yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi adalah cabai besar. Produksi cabai besar pada tahun 2025 mencapai 1,72 juta ton, meningkat 16,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga mencapai 641,93 ribu ton atau naik 6,91 persen. Jawa Barat menjadi produsen terbesar dengan kontribusi 20,93 persen terhadap produksi nasional, diikuti Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Cabai rawit juga menunjukkan peningkatan produksi yang cukup signifikan. Produksi nasional mencapai 1,74 juta ton pada tahun 2025, naik 11,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun konsumsi rumah tangga justru turun 5,32 persen menjadi 556,62 ribu ton. Jawa Timur menjadi pusat produksi utama dengan kontribusi 34,61 persen terhadap produksi nasional. Provinsi tersebut menghasilkan sekitar 604 ribu ton cabai rawit dengan luas panen mencapai 85,76 ribu hektare.

Pada kelompok umbi-umbian, produksi kentang nasional mencapai 1,25 juta ton pada tahun 2025. Angka ini sedikit turun sebesar 1,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, konsumsi rumah tangga meningkat menjadi 720,14 ribu ton. Jawa Tengah tetap menjadi sentra produksi terbesar dengan kontribusi 28,59 persen terhadap total produksi nasional, diikuti Jawa Timur dan Jawa Barat.

Meski Indonesia termasuk produsen kentang yang cukup besar, impor kentang masih sangat tinggi. Nilai impor kentang mencapai US$204,90 juta pada tahun 2025, jauh melampaui nilai ekspor yang hanya sebesar US$5,65 juta. Tiongkok, India, dan Amerika Serikat menjadi tiga negara pemasok utama kentang bagi pasar Indonesia.

Komoditas tomat menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Produksi tomat nasional mencapai 1,22 juta ton pada tahun 2025 atau meningkat 6,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 24,48 persen sehingga total konsumsi rumah tangga mencapai 741,57 ribu ton. Tingkat partisipasi rumah tangga dalam konsumsi tomat tercatat sebesar 51,11 persen.

Jawa Barat kembali menjadi produsen tomat terbesar di Indonesia dengan kontribusi 21,86 persen terhadap produksi nasional. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Utara dengan kontribusi 19,10 persen dan Jawa Timur sebesar 10,33 persen. Dalam perdagangan internasional, nilai ekspor tomat mencapai US$4,25 juta, sedangkan nilai impor mencapai US$22,83 juta. Filipina menjadi tujuan utama ekspor tomat Indonesia, sementara Tiongkok menjadi pemasok impor terbesar.

Jika dicermati secara keseluruhan, data hortikultura tahun 2025 memperlihatkan dua kecenderungan utama. Pertama, sebagian besar komoditas strategis mengalami peningkatan produksi, terutama bawang merah, cabai besar, cabai rawit, dan tomat. Kedua, sejumlah komoditas masih menghadapi ketergantungan impor yang cukup tinggi, terutama bawang putih dan kentang.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi, produktivitas lahan, efisiensi distribusi, dan daya saing perdagangan. Di tengah pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat, sektor hortikultura akan semakin penting dalam menopang kebutuhan pangan nasional.

Di balik setiap siung bawang, cabai, kentang, dan tomat yang hadir di pasar tradisional maupun modern, terdapat jutaan petani yang mengelola lahan, menghadapi perubahan cuaca, serta menjaga pasokan pangan tetap tersedia sepanjang tahun. Karena itu, hortikultura bukan sekadar sektor pertanian. Ia adalah bagian dari fondasi ketahanan pangan, stabilitas harga, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sementara kebutuhan terus bertumbuh, kebun-kebun hortikultura akan tetap menjadi salah satu penyangga utama kehidupan bangsa.