Manokwari

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Pesisir Manokwari

(Beritadaerah-Kolom) Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama berada di Manokwari terjadi ketika saya memutuskan menyeberang ke Pulau Mansinam menggunakan kapal nelayan. Pagi itu saya ditemani seorang pemuda asli Papua bernama Darius yang dengan ramah menawarkan diri untuk menunjukkan berbagai sudut pulau yang jarang didatangi wisatawan.

Mansinam

Perjalanan melintasi Teluk Doreri berlangsung singkat namun menyenangkan. Kapal kayu yang kami tumpangi bergerak perlahan membelah laut yang tenang. Dari kejauhan, Pulau Mansinam tampak hijau dan teduh. Semakin dekat ke pulau, air laut terlihat semakin jernih dengan gradasi warna biru dan hijau yang memanjakan mata.

Hutan Mansinam
Setibanya di Pulau Mansinam, saya dan para sahabat memulai perjalanan mengelilingi pulau dengan berjalan kaki. Menurut warga setempat, jalur yang mengitari pulau memiliki panjang sekitar 12 kilometer. Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan yang saya alami di Papua Barat karena memperlihatkan alam yang masih sangat terjaga.

Mansinam

Sepanjang perjalanan, kami menyusuri kawasan hutan tropis yang rimbun. Pepohonan besar menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan. Udara terasa lembap namun segar. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung yang saling bersahutan. Sesekali bunyi serangga memenuhi keheningan hutan, menciptakan suasana yang mengingatkan saya betapa dekatnya kehidupan di pulau ini dengan alam liar Papua. Puja nama seorang sahabat beberapa kali menunjuk ke arah pepohonan, menunjukkan jenis burung yang sering dijumpai masyarakat setempat, meskipun saya tidak selalu berhasil melihatnya di balik rapatnya dedaunan.

Bagian perjalanan yang paling saya nikmati adalah ketika jalur mengarah ke tepi pantai. Laut membentang luas dengan warna biru yang berkilau diterpa sinar matahari. Di satu sisi terdapat hutan tropis yang lebat, sementara di sisi lain hamparan laut menghadirkan pemandangan yang menenangkan. Dari beberapa titik terlihat jelas Kota Manokwari di seberang teluk dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilinginya.

Mansinam

Selama perjalanan, Puja tidak hanya menjadi teman berjalan, tetapi juga pemandu yang banyak bercerita mengenai kehidupan masyarakat Papua. Ia menjelaskan hubungan masyarakat dengan laut, pentingnya Pulau Mansinam dalam sejarah daerah tersebut, serta berbagai kisah yang diwariskan turun-temurun oleh warga setempat. Dari cerita-ceritanya, saya mulai memahami bahwa Pulau Mansinam bukan sekadar tujuan wisata, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Manokwari.

Menjelang siang, setelah berjalan cukup jauh, rasa lapar mulai terasa. Kami kemudian menyeberang ke Pulau Lemon untuk makan siang. Pulau kecil itu memiliki suasana yang sangat tenang. Angin laut berembus perlahan sementara suara ombak menjadi latar alami yang menemani waktu makan. Menikmati hidangan laut segar di tepi pantai menjadi pengalaman sederhana yang justru sangat membekas dalam ingatan saya.

Mansinam

Menjelang sore kami kembali ke Manokwari dengan kapal nelayan yang sama. Matahari perlahan bergerak ke barat dan memantulkan cahaya keemasan di permukaan Teluk Doreri. Setelah seharian berjalan kaki mengelilingi pulau, tubuh memang terasa lelah, tetapi pikiran justru terasa segar.

Pasar Ikan Sanggeng

Pada kesempatan lain, saya mengunjungi Pasar Ikan Sanggeng, salah satu tempat terbaik untuk melihat kehidupan masyarakat pesisir Manokwari dari dekat. Sejak memasuki area pasar, perhatian saya langsung tertuju pada deretan ikan yang dipajang di meja-meja dagangan. Ada ikan kecil yang biasa dikonsumsi sehari-hari hingga ikan berukuran sangat besar yang beratnya mencapai puluhan kilogram.

Suasana pasar begitu hidup. Para pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah. Aroma laut yang khas bercampur dengan hiruk-pikuk aktivitas perdagangan menciptakan suasana yang unik.

Pasar Ikan Sanggeng

Saya berjalan dari satu lapak ke lapak lain sambil mengamati berbagai jenis ikan. Ada tuna berukuran besar yang baru diturunkan dari kapal nelayan, kakap merah dengan warna sisik yang mencolok, cakalang, baronang, kerapu, hingga berbagai jenis ikan karang dengan bentuk dan warna yang menarik. Beberapa hasil tangkapan terlihat begitu besar hingga memerlukan lebih dari satu orang untuk mengangkatnya.

Yang paling membuat saya terkesan adalah melimpahnya hasil laut yang tersedia. Pasar ini menjadi bukti nyata betapa kayanya perairan Papua Barat. Saya juga sempat berbincang dengan beberapa nelayan yang baru kembali dari laut. Mereka bercerita bahwa sebagian besar ikan berasal dari perairan sekitar Manokwari dan Teluk Doreri. Kapal-kapal biasanya berangkat sejak dini hari dan kembali saat matahari mulai terbit untuk menjual hasil tangkapan mereka.

Berkeliling Pasar Ikan Sanggeng memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan mengunjungi objek wisata. Di tempat ini saya melihat langsung bagaimana laut menjadi sumber kehidupan masyarakat. Laut bukan hanya pemandangan indah yang dinikmati wisatawan, tetapi juga tempat ribuan keluarga menggantungkan mata pencaharian mereka.

Pantai amban Manokwari

Suatu sore, saya memutuskan menghabiskan waktu di Pantai Amban. Pantai ini memiliki arti khusus bagi masyarakat Papua karena dipercaya sebagai salah satu lokasi tempat Guru Injil Petrus Kaifar pertama kali mendarat ketika membawa kabar Injil ke wilayah tersebut.

Cuaca sore itu sangat bersahabat. Langit biru membentang luas dengan awan-awan tipis yang bergerak perlahan. Ombak kecil datang silih berganti menyentuh bibir pantai. Suasananya tenang dan jauh dari keramaian.

Saya duduk di bawah rindangnya pepohonan sambil memandang laut lepas. Angin yang bertiup dari arah laut membawa aroma air asin yang khas. Beberapa keluarga tampak menikmati waktu bersama, sementara anak-anak berlarian dan bermain di tepi pantai.

Di tempat itu saya membayangkan bagaimana kondisi Pantai Amban puluhan tahun lalu ketika Petrus Kaifar pertama kali tiba. Saat itu tentu belum ada jalan, kendaraan, atau bangunan seperti sekarang. Yang ada hanyalah pantai, hutan, dan masyarakat yang hidup sangat dekat dengan alam. Membayangkan perjalanan panjang para penyebar Injil pada masa lalu membuat saya semakin menghargai sejarah panjang Tanah Papua.

Pantai amban Manokwari

Menjelang senja, warna langit perlahan berubah menjadi keemasan. Cahaya matahari memantul di permukaan laut dan menciptakan pemandangan yang luar biasa indah. Saya memilih duduk dalam diam menikmati suasana tersebut. Tidak banyak tempat yang mampu menghadirkan perpaduan antara keindahan alam, sejarah, dan ketenangan seperti yang saya rasakan di Pantai Amban.

Ketika matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala, langit berubah menjadi perpaduan warna jingga, merah muda, dan ungu. Cahaya terakhir senja perlahan menghilang, meninggalkan suasana yang damai. Saya meninggalkan Pantai Amban dengan perasaan tenang dan rasa syukur karena berkesempatan menikmati salah satu sisi paling indah dari Manokwari.

Hari-hari di Manokwari mengajarkan saya bahwa keindahan Papua tidak hanya terletak pada alamnya yang spektakuler, tetapi juga pada kehidupan masyarakatnya, sejarahnya yang kaya, dan kesederhanaan yang masih terjaga. Dari Pulau Mansinam, Pulau Lemon, Pasar Ikan Sanggeng, hingga Pantai Amban, setiap tempat memberikan cerita yang berbeda dan membuat perjalanan ini menjadi pengalaman yang akan selalu saya kenang.