Indonesia El Niño
Mentan saat melaporkan progres penanganan dampak kekeringan akibat fenomena El Nino di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, (Foto: Kementan)

Indonesia dan Asia Bersiap Hadapi Super El Niño

(Beritadaerah-Kolom) Ada sesuatu yang sedang berubah di atas hamparan luas Samudra Pasifik. Air laut yang menghangat, perubahan pola atmosfer, dan pergeseran curah hujan mulai menjadi perhatian serius berbagai negara Asia. Fenomena El Niño yang berkembang saat ini diperkirakan dapat mencapai intensitas sangat kuat pada akhir tahun dan berlanjut hingga tahun berikutnya. United States National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang yang sangat tinggi terjadinya El Niño kuat, sementara sejumlah ahli kembali menggunakan istilah “Super El Niño” atau “El Niño Godzilla” untuk menggambarkan potensi besarnya. Namun, di balik istilah tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih nyata: bagaimana negara-negara Asia memastikan pangan tetap tersedia, air tetap mengalir, listrik tetap menyala, dan masyarakat tetap aman ketika suhu serta pola hujan berubah secara ekstrem?

Perhatian terhadap fenomena ini juga datang dari lembaga internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa melihat El Niño sebagai ancaman yang dapat memperbesar tekanan terhadap masyarakat yang sudah rentan terhadap krisis pangan dan iklim. World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa puluhan juta orang dapat terdorong menuju kondisi kelaparan akut apabila kombinasi kekeringan, gagal panen dan kenaikan harga pangan berlangsung dalam waktu panjang. Pengalaman El Niño 2015–2016 menjadi pengingat penting. Episode tersebut berdampak terhadap puluhan juta orang di berbagai belahan dunia dan menunjukkan bagaimana perubahan iklim dalam beberapa bulan dapat berubah menjadi persoalan ekonomi dan kemanusiaan dalam skala global.

Ketika Ancaman Iklim Masuk ke Meja Makan

Bagi Asia, salah satu kekhawatiran terbesar berada pada sektor pangan. Kawasan ini merupakan salah satu pusat produksi beras dunia sekaligus rumah bagi miliaran konsumen. Ketika kekeringan mengganggu sawah, dampaknya tidak berhenti pada petani. Produksi yang lebih rendah dapat mengurangi pasokan, mengubah arus perdagangan, meningkatkan harga komoditas dan akhirnya menekan daya beli masyarakat. Indonesia, Filipina, Thailand dan India menjadi negara yang perlu memperhatikan risiko tersebut karena ketergantungan masyarakat terhadap komoditas pangan pokok sangat tinggi.

Indonesia memiliki alasan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan. Kekeringan telah memengaruhi puluhan ribu hektare lahan pertanian di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menunjukkan betapa cepat perubahan pola cuaca dapat masuk ke dalam sistem produksi pangan. Persoalannya bukan hanya berapa banyak sawah yang mengalami kekeringan, tetapi juga apakah petani memiliki cukup air untuk mempertahankan musim tanam berikutnya. Ketika sumber air semakin terbatas, keputusan mengenai kapan menanam, jenis tanaman yang dipilih, serta bagaimana air irigasi dibagi menjadi semakin penting.

Pemerintah Indonesia merespons dengan memperkuat distribusi pompa air, memperbaiki irigasi dan mengarahkan upaya perlindungan lahan pertanian di wilayah yang mengalami tekanan kekeringan. Langkah tersebut menjadi semakin penting karena ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga kemampuan menjaga produktivitas lahan ketika kondisi iklim berubah. Dalam situasi seperti ini, setiap sumber air menjadi aset strategis yang menentukan apakah satu musim tanam dapat diselamatkan atau justru berubah menjadi kerugian bagi petani dan konsumen.

Air Menjadi Persoalan Ekonomi Baru

Ancaman El Niño juga memperlihatkan bahwa air tidak hanya berkaitan dengan pertanian. Air memiliki hubungan langsung dengan energi dan industri. Vietnam menjadi salah satu contoh bagaimana berkurangnya aliran sungai dapat memberikan tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air. Ketika produksi listrik tenaga air menurun, negara harus mencari sumber energi alternatif yang berpotensi memiliki biaya lebih tinggi. Kenaikan biaya energi kemudian dapat merambat kepada industri, transportasi, hingga harga barang yang dikonsumsi masyarakat.

Thailand menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks. Pertumbuhan industri modern, termasuk fasilitas pusat data yang membutuhkan air dan energi dalam jumlah besar, menciptakan kebutuhan baru di tengah keterbatasan sumber daya. Pemerintah perlu memastikan bahwa kebutuhan industri tidak berbenturan dengan kebutuhan rumah tangga dan sektor pertanian. Di sinilah perubahan iklim mulai mengubah cara negara menyusun kebijakan investasi. Sebuah kawasan industri mungkin membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar, tetapi sumber daya yang sama juga dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya.

Krisis air bahkan mendorong sejumlah negara untuk mempertimbangkan teknologi pengolahan air laut. Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana negara mulai mencari sumber air alternatif ketika sumber konvensional semakin tertekan. Tetapi teknologi semacam ini juga membutuhkan investasi, energi dan infrastruktur. Dengan demikian, menghadapi El Niño bukan hanya persoalan menyediakan air sebanyak mungkin, melainkan bagaimana mengelola seluruh sistem air agar tetap berfungsi ketika tekanan meningkat.

Kota Asia Bersiap Menghadapi Panas Ekstrem

Di kawasan perkotaan, ancaman lain muncul dalam bentuk gelombang panas. Ketika suhu meningkat, masyarakat yang bekerja di luar ruangan menjadi kelompok yang sangat rentan. Pekerja konstruksi, petani, petugas transportasi dan berbagai pekerja lapangan menghadapi risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan apabila harus bekerja dalam kondisi panas ekstrem.

Korea Selatan telah memperbarui sistem peringatan gelombang panas setelah bertahun-tahun menggunakan sistem sebelumnya. Perubahan tersebut mencerminkan kebutuhan untuk menyesuaikan perlindungan masyarakat dengan kondisi suhu yang semakin ekstrem. Pemerintah juga memperhatikan aktivitas pekerjaan luar ruangan pada saat suhu mencapai tingkat yang membahayakan. Jepang pun memperkuat sistem peringatan dan kesiapsiagaan menghadapi suhu ekstrem, termasuk perhatian terhadap fasilitas publik yang berpotensi menjadi lokasi berbahaya ketika terjadi hujan ekstrem setelah periode panas panjang.

Hong Kong mengambil pendekatan melalui perlindungan terhadap pekerja. Pengusaha didorong atau diwajibkan menerapkan langkah keselamatan seperti waktu istirahat dan fasilitas pendinginan ketika kondisi panas mencapai tingkat tertentu. Perubahan kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa gelombang panas kini semakin dipandang sebagai persoalan keselamatan kerja, bukan sekadar kondisi cuaca yang harus ditoleransi.

Dampaknya bahkan dapat masuk ke aspek kesehatan reproduksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan panas dan dehidrasi dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk parameter reproduksi. Artinya, ketika suhu ekstrem menjadi semakin sering, konsekuensinya dapat bersifat lebih luas daripada sekadar meningkatnya kasus kelelahan akibat panas.

India Mengubah Strategi Tanaman

India menghadapi tantangan serupa dengan skala yang sangat besar. Negara tersebut mulai mendorong konservasi air dan penggunaan tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering, termasuk millet dan pulses. Perubahan jenis tanaman merupakan salah satu bentuk adaptasi yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur besar.

Strategi tersebut juga memperlihatkan perubahan cara berpikir dalam menghadapi risiko iklim. Pertanyaan yang sebelumnya hanya berbunyi “bagaimana meningkatkan produksi?” kini berkembang menjadi “bagaimana mempertahankan produksi dengan air yang lebih sedikit?” Perubahan pertanyaan tersebut penting karena ketersediaan air kemungkinan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlanjutan pertanian di banyak wilayah Asia.

Cadangan pangan juga menjadi bagian dari pertahanan. Ketika produksi menurun, stok pemerintah dapat digunakan sebagai penyangga untuk menjaga pasokan dan mengurangi tekanan harga. Namun cadangan hanya menjadi solusi sementara. Dalam jangka panjang, negara tetap membutuhkan sistem pertanian yang mampu beradaptasi dengan perubahan pola hujan dan suhu.

Indonesia Menghadapi Ujian Ketahanan Pangan

Indonesia berada pada posisi yang sangat penting dalam menghadapi ancaman El Niño karena dampaknya dapat dirasakan secara bersamaan oleh sektor pertanian, energi, air dan rumah tangga. Pemerintah perlu memastikan bahwa langkah mitigasi tidak hanya dilakukan ketika kekeringan sudah terjadi. Pompa air, jaringan irigasi, embung, bendungan dan sistem distribusi air harus dipersiapkan sejak awal agar petani memiliki kesempatan mempertahankan produksi.

Peringatan dari para ahli iklim Indonesia juga menjadi pengingat bahwa dampak El Niño dapat berlangsung lebih lama daripada sekadar satu periode musim kemarau. Karena itu, perencanaan harus mempertimbangkan kemungkinan perubahan kondisi dari satu bulan ke bulan berikutnya. Ketika air tanah mulai berkurang, pemerintah daerah harus mengetahui wilayah yang paling rentan. Ketika sawah mulai kekurangan air, distribusi pompa harus dapat dilakukan dengan cepat. Dan ketika produksi mulai menurun, sistem pangan harus memiliki cadangan untuk menghindari tekanan harga yang terlalu besar.

Di tingkat masyarakat, persoalan ini pada akhirnya kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana: air dan makanan. Dua hal tersebut merupakan kebutuhan sehari-hari yang sering terasa tidak terlihat ketika tersedia. Tetapi ketika kekeringan berlangsung lama, keduanya dapat berubah menjadi sumber tekanan ekonomi terbesar bagi rumah tangga.

Asia Memasuki Era Adaptasi

Super El Niño menunjukkan bahwa perubahan iklim semakin sulit dipisahkan dari persoalan ekonomi. Kekeringan dapat mengurangi produksi beras. Berkurangnya produksi dapat menaikkan harga. Gelombang panas dapat menurunkan produktivitas pekerja. Suhu tinggi dapat meningkatkan penggunaan listrik. Berkurangnya debit sungai dapat menekan pembangkit listrik tenaga air. Dan keterbatasan air dapat memunculkan persaingan antara masyarakat, pertanian dan industri.

Karena itu, respons negara-negara Asia mulai bergerak dari sekadar menghadapi bencana menuju pengelolaan risiko. China memperkuat perlindungan tanaman dan pemetaan risiko. Taiwan melakukan simulasi keadaan darurat. India mendorong konservasi air dan tanaman yang lebih hemat air. Vietnam mencari alternatif ketika sumber air untuk pembangkit listrik tertekan. Thailand mulai memperhatikan keseimbangan kebutuhan air antara industri dan masyarakat. Sementara Indonesia memperkuat irigasi, pompa air dan perlindungan produksi pertanian.

Tantangan El Niño bukan hanya tentang seberapa tinggi suhu akan naik atau seberapa sedikit hujan yang turun. Tantangan sebenarnya adalah seberapa cepat pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dapat menyesuaikan diri sebelum tekanan berubah menjadi krisis.Asia sedang memasuki periode ketika air, pangan dan energi semakin saling terhubung. Ketiganya tidak bisa lagi dikelola secara terpisah. Ketika satu terganggu, dua lainnya ikut terdampak. Karena itu, persiapan menghadapi Super El Niño pada dasarnya adalah persiapan menghadapi sebuah dunia yang menuntut kemampuan beradaptasi lebih cepat, lebih terkoordinasi dan lebih jauh ke depan.