Tol Serpong–Bogor Lewat Parung Dipacu, Waktu Perjalanan Ditargetkan Hanya 45 Menit

(Beritadaerah-Jakarta) Kementerian Pekerjaan Umum terus mempercepat persiapan pembangunan Jalan Tol Serpong–Bogor melalui Parung yang dirancang menjadi salah satu jalur strategis baru di kawasan Jabodetabek. Kehadiran ruas tol sepanjang 32 kilometer tersebut diperkirakan mampu memangkas waktu perjalanan antara Bogor dan Tangerang menjadi sekitar 45 menit sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi logistik.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan bahwa proses penyusunan perencanaan teknis proyek saat ini telah mencapai hampir 80 persen. Pemerintah menargetkan seluruh tahapan perencanaan dapat diselesaikan pada akhir 2026 agar proyek segera memasuki tahap berikutnya.

Nilai investasi pembangunan tol ini diperkirakan mencapai Rp12,35 triliun dan akan dikerjakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) tanpa menggunakan dana APBN. Pelaksanaan konstruksi serta pengoperasian jalan tol dengan masa konsesi 40 tahun akan dilakukan oleh PT Bogor Serpong Infra Selaras yang merupakan konsorsium sejumlah perusahaan BUMN dan swasta.

Dalam rancangan pembangunan, ruas tol dibagi menjadi empat seksi, yakni Salabenda–Pondok Udik sepanjang 3,97 kilometer, Pondok Udik–Putat Nutug sepanjang 9,27 kilometer, Putat Nutug–Rumpin sepanjang 8,23 kilometer, serta Rumpin–Serpong sepanjang 10,56 kilometer.

Untuk mendukung konektivitas dengan jalan tol eksisting, proyek tersebut juga akan dilengkapi dua junction utama di Salabenda dan Serpong. Selain itu, akses keluar masuk kendaraan akan diperkuat melalui simpang susun di kawasan Pondok Udik, Putat Nutug, dan Rumpin.

Kementerian PU menegaskan pembangunan fisik nantinya harus memenuhi standar teknis dan keselamatan yang berlaku, termasuk ketentuan geometrik jalan serta Standar Pelayanan Minimal jalan tol.

Keberadaan ruas Serpong–Bogor via Parung diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur arteri sekaligus mendorong tumbuhnya pusat ekonomi baru di sepanjang koridor Parung. Efisiensi distribusi barang dan jasa dari proyek tersebut juga diyakini mampu membantu menekan biaya logistik nasional.