Susu Sapi Perah

Di Balik Segelas Susu Sapi Segar waktu Pagi Hari

(Beritadaerah-Kolom) Matahari baru saja muncul di balik perbukitan Lembang ketika Miran membuka pintu kandang. Udara dingin masih menggantung di antara deretan sapi perah yang perlahan mulai bergerak dari tempat istirahatnya. Suara mesin pendingin susu berdengung pelan, bercampur dengan suara langkah para pekerja yang mulai menjalankan rutinitas harian.

Bagi Miran, pagi selalu dimulai dengan cara yang sama. Memeriksa kesehatan ternak, memastikan pakan tersedia, lalu mengawasi proses pemerahan. Namun, di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, sesungguhnya terdapat sebuah industri besar yang menjadi salah satu penopang kebutuhan susu nasional.Tahun 2025 menjadi tahun yang cukup menarik bagi industri peternakan sapi perah Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik, terdapat 34 perusahaan peternakan sapi perah aktif yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia. Jumlah ini memang tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya karena ada satu perusahaan baru yang muncul dan satu perusahaan lainnya yang menghentikan operasinya.

Potret Industri Sapi Perah Indonesia 2025

Indikator 2025 Perubahan
Perusahaan peternakan sapi perah aktif 34 unit Tetap
Jumlah pekerja 1.816 orang +3,18%
Pekerja tetap 1.430 orang Naik
Pekerja tidak tetap 386 orang Naik
Populasi sapi perah 38.060 ekor +305 ekor
Populasi sapi betina 36.886 ekor
Produksi susu segar 169,2 juta liter +2,55%
Produktivitas 26,53 liter/ekor/hari Turun
Penerimaan usaha Rp2,06 triliun Naik
Pengeluaran usaha Rp876,06 miliar

Sumber: Statistik Perusahaan Peternakan Sapi Perah 2025, BPS

Miran sering membayangkan dirinya bukan sekadar mengurus kandang, melainkan menjadi bagian dari sebuah jaringan besar yang membentang dari Sumatera hingga Jawa. Di Sumatera Utara terdapat tiga perusahaan sapi perah, demikian pula di Sumatera Barat. Lampung memiliki dua perusahaan, sementara Jawa Barat menjadi pusat industri dengan sebelas perusahaan. Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing memiliki tujuh perusahaan, sedangkan DI Yogyakarta memiliki satu perusahaan.

Tak mengherankan jika Jawa Barat menjadi jantung industri susu nasional. Kawasan pegunungan dengan suhu relatif sejuk memberikan lingkungan yang lebih sesuai bagi sapi perah dibandingkan wilayah tropis dataran rendah. Setiap pagi, ribuan liter susu segar bergerak dari peternakan menuju pusat pengolahan, koperasi, dan jaringan distribusi.Di peternakan tempat Miran bekerja, puluhan pekerja telah berkumpul sebelum pukul lima pagi. Mereka adalah bagian dari 1.816 pekerja yang tercatat bekerja di perusahaan peternakan sapi perah Indonesia sepanjang 2025. Sebanyak 1.430 orang berstatus pekerja tetap dan 386 orang merupakan pekerja tidak tetap. Sekitar 90 persen lebih tenaga kerja di sektor ini adalah laki-laki.

Bagi orang luar, pekerjaan memerah susu mungkin terlihat sederhana. Namun kenyataannya, industri susu modern membutuhkan berbagai keahlian. Ada manajer yang mengatur operasi perusahaan, profesional yang menangani kesehatan hewan, teknisi yang memastikan mesin berfungsi optimal, tenaga administrasi yang mengelola keuangan, hingga pekerja produksi yang berinteraksi langsung dengan ternak setiap hari.Miran mengenal hampir semua jenis pekerjaan itu. Ia pernah membantu dokter hewan saat ada sapi yang mengalami mastitis, membantu teknisi memperbaiki alat pendingin, bahkan ikut mengangkut hijauan pakan saat musim hujan membuat rumput sulit dipanen.

Pakan menjadi urusan yang sangat penting. Dalam industri sapi perah, pakan bukan sekadar makanan, melainkan faktor utama yang menentukan produksi susu. Data menunjukkan sekitar 69,19 persen biaya produksi perusahaan peternakan sapi perah digunakan untuk pakan ternak. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan biaya tenaga kerja, listrik, obat-obatan, maupun bahan bakar.Setiap kali harga jagung atau konsentrat naik, Miran bisa merasakan dampaknya secara langsung. Manajemen peternakan harus menghitung ulang biaya operasional, sementara target produksi susu tetap harus dipenuhi.

Struktur Biaya Produksi Perusahaan Sapi Perah

Komponen Biaya Persentase
Pakan ternak 69,19%
Upah dan gaji 10,58%
Pengeluaran lainnya 9,75%
Listrik dan air 4,62%
Obat-obatan 3,38%
Bahan bakar dan pelumas 2,47%

Sumber: Statistik Perusahaan Peternakan Sapi Perah 2025, BPS

Pada akhir 2025, populasi sapi perah yang berada di perusahaan-perusahaan peternakan mencapai 38.060 ekor. Jumlah ini meningkat 305 ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total tersebut, sekitar 96,92 persen merupakan sapi betina.Angka itu terdengar besar, tetapi tidak semua sapi menghasilkan susu. Dari sekitar 36.886 sapi betina yang ada, hanya sebagian yang sedang berada dalam masa laktasi. Sekitar 51,72 persen sedang berproduksi, 41 persen belum berproduksi, 7,16 persen sedang memasuki masa kering, dan sebagian kecil sudah tidak produktif lagi.

Miran memahami siklus itu dengan baik. Seekor sapi tidak bisa diperah terus-menerus sepanjang hidupnya. Ada masa ketika tubuhnya perlu beristirahat sebelum kembali menghasilkan susu. Karena itulah peternakan harus terus menjaga keseimbangan antara pembibitan, pemeliharaan, dan produksi.Ketika matahari semakin tinggi, truk pendingin mulai datang ke peternakan. Tangki-tangki besar siap menampung hasil pemerahan pagi. Dari sinilah perjalanan susu dimulai.

Sepanjang tahun 2025, perusahaan peternakan sapi perah Indonesia menghasilkan sekitar 169,2 juta liter susu segar. Produksi ini meningkat 2,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, kenaikan tersebut bukan karena sapi menjadi lebih produktif, melainkan karena jumlah sapi laktasi bertambah. Produktivitas justru sedikit menurun menjadi rata-rata 26,53 liter per ekor per hari dengan lama laktasi sekitar 280,65 hari dalam setahun.Miran sering merenungkan angka itu saat melihat susu mengalir melalui pipa stainless menuju tangki pendingin. Setiap liter yang dihasilkan merupakan hasil kombinasi antara genetika ternak, kualitas pakan, kesehatan hewan, teknologi peternakan, dan kerja manusia.

Di sisi bisnis, industri ini ternyata memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Pada 2025, total penerimaan perusahaan peternakan sapi perah mencapai sekitar Rp2,06 triliun. Sementara itu, total pengeluaran mencapai Rp876,06 miliar.Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa susu bukan hanya komoditas pangan, melainkan juga sumber aktivitas ekonomi yang melibatkan ribuan tenaga kerja, pemasok pakan, produsen obat hewan, perusahaan logistik, hingga industri pengolahan makanan dan minuman.

Menjelang sore, aktivitas di peternakan kembali meningkat. Pemerahan kedua dilakukan sebelum matahari terbenam. Para pekerja bergerak cepat karena kualitas susu harus dijaga sejak keluar dari ambing hingga masuk ke tangki pendingin.Miran duduk sejenak di pinggir kandang sambil memperhatikan deretan sapi yang sedang makan. Baginya, setiap sapi memiliki karakter berbeda. Ada yang tenang, ada yang mudah terkejut, ada pula yang selalu menjadi pemimpin kelompok.

Ia kemudian teringat sebuah fakta yang pernah dibahas dalam rapat perusahaan. Dari 34 perusahaan sapi perah aktif di Indonesia, sebagian besar berbentuk PT, CV, atau firma. Sebagian lainnya berbentuk koperasi dan yayasan. Mayoritas juga menggunakan modal dalam negeri, sementara hanya dua perusahaan yang berstatus penanaman modal asing.

Sebaran Perusahaan Sapi Perah di Indonesia

Provinsi Jumlah Perusahaan
Jawa Barat 11
Jawa Tengah 7
Jawa Timur 7
Sumatera Utara 3
Sumatera Barat 3
Lampung 2
DI Yogyakarta 1
Indonesia 34

Sumber: Statistik Perusahaan Peternakan Sapi Perah 2025, BPS

Fakta tersebut menunjukkan bahwa industri sapi perah Indonesia masih didominasi oleh pelaku domestik. Dengan kata lain, masa depan sektor ini sangat bergantung pada kemampuan pelaku nasional meningkatkan produktivitas dan efisiensi.Ketika malam tiba dan lampu kandang mulai menyala, aktivitas perlahan mereda. Namun pekerjaan belum benar-benar selesai. Sapi tetap harus dipantau, suhu tangki susu harus dijaga, dan jadwal pakan untuk esok hari harus dipersiapkan.

Bagi banyak orang di kota, segelas susu hanyalah minuman yang menemani sarapan. Namun bagi Miran dan ribuan pekerja peternakan lainnya, segelas susu adalah hasil dari kerja panjang yang dimulai sejak sebelum matahari terbit. Ia adalah hasil investasi miliaran rupiah, pemeliharaan puluhan ribu ternak, dan dedikasi ribuan orang yang bekerja di balik layar.

Di kandang yang mulai sunyi itu, Miran tersenyum. Esok pagi semuanya akan dimulai lagi. Sapi-sapi akan kembali diperah, truk pendingin akan kembali datang, dan jutaan liter susu akan kembali mengalir ke rumah-rumah Indonesia. Karena di balik setiap tetes susu, terdapat kisah tentang manusia, hewan, teknologi, dan harapan akan ketersediaan pangan yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Data statistik mungkin hanya menampilkan angka-angka, tetapi di lapangan angka-angka itu hidup dalam bentuk kandang, pekerja, sapi, dan mimpi-mimpi kecil yang setiap hari menjaga pasokan susu bangsa.