Gejolak Global Tekan Rupiah, Bank Indonesia Perkuat Kebijakan Stabilitas

(Beritadaerah-Nasional) Tekanan dari ketidakpastian global dinilai turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia mengambil berbagai langkah strategis guna menjaga kestabilan mata uang nasional.

Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti mengungkapkan bahwa otoritas moneter terus memperkuat kebijakan stabilisasi, terutama di tengah meningkatnya dinamika pasar keuangan global. Upaya yang dilakukan antara lain dengan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi di pasar luar negeri (NDF) maupun di dalam negeri melalui mekanisme spot dan DNDF.

Selain itu, penyesuaian kebijakan suku bunga instrumen moneter juga dilakukan agar tetap menarik bagi investor, sehingga mampu menjaga daya saing aset domestik. Langkah ini dinilai penting di tengah dampak konflik geopolitik yang masih membayangi pasar global.

Bank sentral juga melakukan penguatan kebijakan di pasar valas dengan menyesuaikan berbagai batasan transaksi, termasuk pembelian valuta asing, serta transaksi derivatif seperti DNDF, forward, dan swap yang mulai berlaku sejak April 2026.

Dari sisi fundamental, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Cadangan devisa tercatat mencapai sekitar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026, yang dianggap memadai untuk menjaga ketahanan eksternal sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

Otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar dengan kebijakan yang konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah diyakini akan tetap terkendali dan berpotensi menguat, didukung oleh imbal hasil yang kompetitif serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang positif.