Penyapu Koin Indramayu: Antara Kebiasaan, Bahaya, dan Perjuangan Hidup di Jalan

(Beritadaerah-Indramayu) Di tengah ramainya lalu lintas di pantura, khususnya Kabupaten Indramayu, ada pemandangan yang sering tidak diperhatikan: orang-orang yang menunduk di pinggir sampai tengah jalan, mengumpulkan koin dari jalan yang panas. Mereka dikenal sebagai penyapu koin, yaitu orang-orang yang bergantung hidup dari uang receh yang dilempar oleh pengguna jalan.

Bagi sebagian pengendara, melempar koin adalah bentuk berbagi yang sederhana. Namun bagi penyapu koin, ini bukan hanya menerima bantuan, tetapi sudah menjadi pekerjaan yang butuh kecepatan, keberanian, dan kesiapan menghadapi bahaya setiap saat. Mereka harus cepat mengambil koin di antara kendaraan yang masih berjalan, sering tanpa perlindungan apa pun.

Fenomena ini sudah ada sejak lama. Kebiasaan melempar koin berasal dari tradisi sopir truk dan bus yang lewat di jalur pantura. Mereka melempar uang sebagai tanda berbagi rezeki atau sekedar amal. Tempat seperti jembatan atau perbatasan daerah sering jadi lokasi utama karena dianggap tempat singgah dalam perjalanan.

Awalnya, hanya beberapa warga sekitar yang mengambil koin secara spontan. Namun lama-kelamaan, kegiatan ini menjadi lebih teratur. Orang-orang mulai datang dengan sengaja untuk menunggu koin yang dilempar, hingga akhirnya terbentuk kelompok penyapu koin. Fenomena ini makin berkembang karena masalah ekonomi, terutama di daerah pesisir dan desa sekitar Indramayu yang sulit mendapatkan pekerjaan.

Penyapu koin berasal dari berbagai latar belakang. Kebanyakan dari desa-desa sekitar, tetapi ada juga yang datang dari daerah seperti Cirebon dan Subang. Mereka terdiri dari orang dewasa tanpa pekerjaan tetap, lansia yang sudah tidak kuat bekerja, ibu rumah tangga yang ingin membantu ekonomi keluarga, hingga anak-anak dan remaja yang seharusnya masih sekolah. Kurangnya pendidikan dan sulitnya mencari kerja membuat mereka memilih pekerjaan ini sebagai jalan terakhir.

Tidak semua dari mereka tinggal tetap di lokasi tersebut. Ada yang hanya datang pada waktu tertentu, lalu pulang setelah mendapat uang. Ada juga yang berpindah-pindah tempat, mencari lokasi yang lebih ramai. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak tetap dan tidak menentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, bahaya selalu ada. Kecelakaan sering terjadi. Penyapu koin bisa tertabrak kendaraan karena pengendara tidak sempat berhenti atau karena mereka terlalu fokus mengambil uang. Selain itu, banyak juga kejadian hampir celaka, seperti terpeleset, jatuh saat berebut koin, atau terjebak di antara kendaraan besar seperti truk dan bus.

Bahaya juga dirasakan oleh pengguna jalan lain. Saat koin dilempar, pengendara bisa tiba-tiba melambat atau berhenti, yang dapat menyebabkan tabrakan beruntun. Pengendara motor juga sering jatuh karena menghindari penyapu koin yang tiba-tiba masuk ke jalan. Jadi, kegiatan ini berbahaya bagi semua pihak di jalan.

Dari sisi penghasilan, pekerjaan ini tidak menentu. Pada hari biasa, mereka bisa mendapatkan sekitar Rp100.000 sampai Rp300.000 per hari, dan jika ramai bisa mencapai Rp500.000. Penghasilan ini tergantung pada jumlah kendaraan dan kebaikan pengendara.

Saat musim mudik, penghasilan bisa meningkat cukup banyak. Lebih banyak pemudik yang melempar koin, sehingga pendapatan bisa mencapai Rp500.000 sampai Rp1.000.000 per hari, bahkan bisa sampai Rp1,5 juta saat sangat ramai. Namun, kondisi ini hanya terjadi pada waktu tertentu saja.

Di balik penghasilan tersebut, ada kenyataan lain. Pendapatan tidak selalu stabil, kadang harus dibagi dengan orang lain, dan tidak ada jaminan keamanan atau pekerjaan. Banyak dari mereka tetap melakukan pekerjaan ini bukan karena hasilnya selalu besar, tetapi karena tidak ada pilihan lain.

Fenomena penyapu koin juga menimbulkan dilema. Di satu sisi, ada rasa kasihan terhadap perjuangan mereka. Di sisi lain, kebiasaan melempar koin justru membuat kegiatan berbahaya ini terus ada. Pemerintah daerah sudah mencoba menertibkan melalui sosialisasi dan razia, tetapi tanpa solusi ekonomi yang jelas, banyak yang kembali ke jalan.

Pada akhirnya, penyapu koin di Indramayu bukan hanya soal mencari uang di jalan, tetapi juga gambaran kondisi ekonomi yang sulit dan kurangnya lapangan kerja. Setiap koin yang mereka ambil bukan hanya uang, tetapi harapan untuk bisa bertahan hidup di tengah kehidupan yang keras.