(Beritadaerah-Kolom) Pagi itu di bulan Februari 2026, Raka berdiri di balik meja resepsionis hotelnya di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dengan secangkir kopi yang mulai dingin di samping keyboard. Layar komputer di hadapannya menampilkan laporan terbaru yang baru saja dibagikan oleh manajemen. Angka-angka itu terlihat rapi, tersusun dalam tabel dan grafik, namun bagi Raka, semuanya terasa seperti potongan cerita yang belum lengkap. Dalam laporan itu tertulis bahwa kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman mencapai 1,16 juta kunjungan. Angka tersebut naik 13,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebuah peningkatan yang dianggap cukup signifikan dalam industri pariwisata.
Manajernya pagi itu terlihat optimis saat menjelaskan data tersebut di ruang briefing kecil di belakang lobi. Ia mengatakan bahwa kenaikan 13,37 persen ini menjadi sinyal bahwa Indonesia semakin kembali ke radar wisata dunia. Raka hanya mengangguk saat itu, belum benar-benar merasakan dampaknya. Namun beberapa minggu berjalan, ia mulai menyadari bahwa angka 1,16 juta kunjungan itu bukan sekadar statistik. Angka itu berubah menjadi antrean tamu di depan meja resepsionis, menjadi suara berbagai bahasa di lobi, dan menjadi wajah-wajah baru yang datang hampir setiap hari.
Siang hari itu, sebuah keluarga dari Malaysia datang untuk check-in. Mereka membawa dua koper besar dan tampak sudah cukup familiar dengan suasana hotel. “Kami sering ke sini,” kata sang ayah sambil tersenyum. Raka langsung teringat bahwa dalam laporan tersebut, Malaysia menyumbang 17,18 persen dari total kunjungan wisman. Tak lama kemudian, rombongan kecil dari Tiongkok juga datang, berbicara cepat satu sama lain sambil menunjukkan reservasi di ponsel mereka. Data menunjukkan Tiongkok menyumbang 13,01 persen, sementara Singapura berada di angka 9,43 persen. Semua angka itu kini terasa hidup, berdiri tepat di hadapan Raka.
Namun di balik peningkatan kunjungan wisatawan asing yang mencapai 1,16 juta itu, Raka merasakan sesuatu yang janggal. Ia membuka sistem reservasi hotel dan melihat angka tingkat penghunian kamar atau TPK. Angkanya hanya 44,89 persen untuk hotel bintang pada Februari 2026. Bahkan, angka itu turun 2,32 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Raka mengernyitkan dahi, mencoba memahami bagaimana mungkin jumlah wisatawan meningkat cukup tajam, tetapi tingkat hunian hotel justru menurun.
Jawabannya perlahan muncul dari pengamatan sehari-hari. Banyak wisatawan asing yang datang ternyata tidak menginap di hotel seperti tempatnya bekerja. Mereka lebih memilih penginapan alternatif seperti homestay, guest house kecil, atau apartemen yang dipesan melalui aplikasi digital. Pilihan tersebut sering kali lebih fleksibel dan menawarkan harga yang lebih kompetitif. Jadi, meskipun jumlah wisman naik 13,37 persen menjadi 1,16 juta kunjungan, tidak semua dari mereka tercatat sebagai tamu hotel.
Arus wisatawan domestik tetap menjadi pemandangan yang paling konsisten bagi Raka. Data menunjukkan bahwa perjalanan wisatawan nusantara atau wisnus mencapai 91,14 juta perjalanan pada Februari 2026. Angka ini naik tipis sebesar 0,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski pertumbuhannya tidak besar, jumlahnya sangat masif dan terasa nyata di lobi hotel setiap akhir pekan.
Setiap Jumat malam, suasana hotel berubah menjadi lebih ramai. Keluarga-keluarga dari berbagai kota datang dengan mobil pribadi atau bus pariwisata. Suatu sore, sebuah keluarga dari Surabaya datang dengan tiga anak yang tampak bersemangat. “Cuma liburan singkat, Mas,” kata sang ibu. Raka teringat bahwa Jawa Timur menyumbang 17,70 persen perjalanan wisnus, menjadikannya yang terbesar. Disusul oleh Jawa Barat sebesar 17,19 persen dan Jawa Tengah 12,41 persen, yang semuanya memperlihatkan dominasi Pulau Jawa dalam perjalanan domestik.
Ada perubahan yang semakin jelas terasa dari waktu ke waktu. Raka mulai menyadari bahwa sebagian besar tamu domestik kini tidak lagi menginap lama. Jika dulu banyak tamu tinggal dua hingga tiga malam, kini sebagian besar hanya memilih satu malam. Data pun mengonfirmasi hal tersebut, dengan rata-rata lama menginap atau RLMT yang hanya mencapai 1,64 malam. Angka itu memang naik tipis 0,06 dibanding tahun sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa durasi tinggal relatif singkat.
Perubahan ini membuat dinamika hotel menjadi berbeda. Meskipun jumlah perjalanan wisnus mencapai 91,14 juta dan terus bertambah 0,70 persen, dampaknya terhadap pendapatan hotel tidak sebesar yang diharapkan. Perputaran tamu menjadi lebih cepat, dan kamar yang kosong tidak selalu bisa segera terisi kembali. Raka menyadari bahwa orang-orang masih bepergian, tetapi cara mereka menikmati perjalanan telah berubah menjadi lebih efisien dan singkat.
Di tengah semua aktivitas itu, Raka juga mulai memperhatikan sesuatu yang tidak lagi sering ia dengar. Percakapan tentang liburan ke luar negeri kini semakin jarang. Dulu, banyak tamu yang bercerita tentang perjalanan ke Singapura, Kuala Lumpur, atau bahkan umrah ke Arab Saudi. Namun kini, cerita-cerita itu terasa berkurang. Data menunjukkan bahwa perjalanan wisatawan nasional atau wisnas hanya mencapai 701,07 ribu perjalanan pada Februari 2026. Angka ini turun cukup dalam, yaitu 7,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Suatu malam, seorang tamu langganan datang dan berbincang santai dengan Raka. “Tahun ini kami liburan dalam negeri saja dulu,” katanya. “Pengeluaran lagi dijaga.” Raka hanya mengangguk, memahami bahwa keputusan tersebut mungkin diambil oleh banyak orang lain. Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa tujuan utama wisnas tetap tidak berubah, yaitu Malaysia dengan porsi 28,96 persen, Arab Saudi 20,33 persen, dan Singapura 12,96 persen. Hanya saja, jumlah orang yang benar-benar pergi menjadi lebih sedikit.
Menjelang tengah malam, suasana hotel mulai sepi. Raka duduk sejenak di kursi dekat pintu masuk, memperhatikan tamu yang datang dan pergi. Ia melihat pasangan wisatawan asing yang baru tiba, bagian dari 1,16 juta kunjungan wisman yang tumbuh 13,37 persen. Ia juga melihat keluarga lokal yang bersiap pulang setelah hanya satu malam menginap, bagian dari 91,14 juta perjalanan wisnus yang naik 0,70 persen. Dan di luar sana, ia tahu ada lebih sedikit orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tercermin dari penurunan 7,64 persen menjadi 701,07 ribu perjalanan wisnas.
Dalam diam, Raka mulai memahami bahwa pariwisata bukan hanya tentang angka yang naik atau turun. Setiap angka memiliki cerita, memiliki alasan, dan memiliki dampak yang berbeda bagi setiap orang. Tingkat hunian hotel yang hanya 44,89 persen bukan berarti sepi, tetapi menunjukkan perubahan pilihan wisatawan. Rata-rata lama menginap 1,64 malam bukan berarti kurang menarik, tetapi mencerminkan gaya perjalanan yang lebih cepat.
Raka berdiri kembali dan merapikan seragamnya. Ia sadar bahwa pekerjaannya bukan sekadar melayani tamu, tetapi juga menjadi saksi dari perubahan besar yang sedang terjadi. Dari 1,16 juta kunjungan wisman yang naik 13,37 persen, hingga 91,14 juta perjalanan wisnus yang tumbuh 0,70 persen, serta 701,07 ribu perjalanan wisnas yang justru turun 7,64 persen, semuanya adalah bagian dari cerita yang terus bergerak.
Dan di balik angka 44,89 persen tingkat hunian hotel itu, Raka tetap berdiri di tempatnya, menyambut setiap tamu dengan senyum yang sama. Karena baginya, setiap orang yang datang bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan bagian dari kisah panjang pariwisata Indonesia yang terus berubah, satu perjalanan dalam satu waktu.


