(Beritadaerah-Jakarta) Kawasan Cikini di Jakarta Pusat dikenal sebagai wilayah pusat sejarah, seni, dan kuliner. Salah satu kuliner legendaris dan kedai kopi tertua di Indonesia yakni Bakoel Koffie. Kedai ini dikenal karena memiliki nuansa klasik dan sejarah panjang, berdiri sejak tahun 1878.

Kedai ini berasal dari merek kopi “Tek Sun Ho” dan sering disebut sebagai salah satu coffee roaster tertua di Indonesia. Lokasinya ada di Jalan Cikini Raya No.25, Jakarta Pusat. Kedai kopi ini cocok untuk nongkrong santai, meeting, atau menikmati suasana vintage Jakarta tempo dulu. Selain di Kawasan Cikini, Bakoel Koffie memiliki cabang lain di Jakarta seperti Bintaro, Senopati, Kelapa Gading dan Kuningan.

Berbagai menu yang populer seperti kopi klasik Indonesia, es kopi khas Bakoel, jajanan pasar, aneka makanan khas Indonesia dan Western. Pengunjung yang datang bukan hanya menikmati kopinya, tapi juga karena desain interior art deco dan atmosfer heritage-nya yang khas.
Bakoel Koffie telah menjadi merek bersejarah dengan sentuhan modern, yang memberikan pengalaman santai namun membangkitkan semangat. Kedai kopi ini menggabungkan keahlian selama 150 tahun dalam memanggang kopi untuk menciptakan campuran kopi yang kaya, penuh cita rasa, dan menggoda, sambil menyajikannya dalam suasana yang dirancang khusus dan dibuat dengan cermat untuk kenikmatan penuh para pelanggannya.

Sekedar informasi, sejarah Bakoel Koffie dimulai pada abad ke-19, ketika seorang imigran dari Cina Selatan, tepatnya Guangdong, yang bernama Liauw Tek Soen dan istrinya yang merupakan penduduk Indonesia asli mendirikan sebuah warung nasi. Berlokasi di Molenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk 56/57), warung nasi tersebut ramai dikunjungi oleh pengayuh becak saat ini. Dikarenakan letak warung tersebut yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, maka warga lebih sering mengenalnya dengan sebutan “Warung Tinggi”. Sejak tahun 1987, tamu-tamu yang datang lebih menyukai kopi yang dijual Liauw Tek Soen dibandingkan masakan di warung tersebut.
Sejak lama, Liauw Tek Soen membeli biji kopi dari seorang wanita yang membawanya dengan bakul. Liauw Tek Soen menggunakan kayu bakar untuk memanggang biji kopi tersebut dan menyeduhnya untuk para tamu. Pada tahun 1927, Liauw Tek Soen mendirikan pabrik kopi pertama di Weltevreden yang dinamakan Tek Soen Hoo (Baca: Tek Sun Ho), Eerste Weltevredensche Koffiebranderij. Dua tahun kemudian, dia menyerahkan usaha keluarga tersebut ke anaknya Liauw Tek Siong ( Ayah dari Liauw Thian Djie). Para pelanggan toko kopi ini telah meluas, tidak hanya penduduk lokal dan Tionghoa, tetapi juga orang Belanda, Arab, dan Jepang.


