(Beritadaerah-Nasional) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia pada awal Maret 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang kompleks, termasuk kemunculan tiga bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Prakirawan BMKG, Hasalika Nurjana, menjelaskan bahwa beberapa daerah mencatat curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Data pemantauan menunjukkan intensitas hujan harian mencapai sekitar 63,2 mm di Nusa Tenggara Timur, 77,2 mm di Jawa Tengah, 72,5 mm di Jawa Timur, 53,1 mm di Jawa Barat, 67,5 mm di Sumatra Barat, serta 57,5 mm di Jambi.
Menurutnya, tingginya curah hujan tersebut berkaitan dengan aktivitas tiga bibit siklon tropis yang terdeteksi di wilayah selatan Indonesia, yaitu sistem 90S, 93S, dan 92P.
Bibit siklon tropis 90S terpantau berada di Samudra Hindia bagian barat daya selatan Jawa Timur dan bergerak ke arah timur. Sistem ini diperkirakan melemah dalam dua hingga tiga hari mendatang, namun tetap berpotensi memicu terbentuknya aliran angin kencang lapisan rendah (low level jet) di kawasan selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Barat. Selain itu, sistem tersebut juga memicu terbentuknya area pertemuan angin dari perairan selatan Banten hingga selatan Nusa Tenggara Barat serta dari Pulau Jawa menuju wilayah Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, bibit siklon tropis 93S terdeteksi berada di perairan barat Australia Barat dan bergerak ke arah barat hingga barat daya dengan intensitas diperkirakan berada pada kategori sedang dalam beberapa hari ke depan.
Adapun bibit siklon tropis 92P diprakirakan berada di wilayah Teluk Carpentaria dan bergerak ke arah barat hingga barat daya. Meski diperkirakan melemah dalam waktu 48 hingga 72 jam, sistem ini masih berpotensi membentuk aliran angin lapisan rendah serta daerah konvergensi dari wilayah laut timur hingga bagian selatan Laut Arafura.
Selain aktivitas bibit siklon tropis, kondisi atmosfer global juga turut memengaruhi pola cuaca di Indonesia. Pertemuan angin monsun dari utara dengan aliran angin baratan dari Samudra Hindia menjadi salah satu faktor yang memperkuat pembentukan awan hujan.
Fenomena atmosfer lain yang turut berperan adalah aktivitas Madden–Julian Oscillation yang saat ini berada pada fase 5 di wilayah maritim kontinen. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung selama sepekan ke depan dan berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan, terutama di kawasan Indonesia bagian timur.
Selain itu, keberadaan gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin juga dinilai memperkuat pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.
BMKG memprakirakan pada periode 6 hingga 8 Maret 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami hujan ringan hingga sedang. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah daerah, antara lain Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Bali, berbagai wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga sejumlah provinsi di Papua.
Beberapa wilayah juga masuk dalam status peringatan dini siaga terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Daerah tersebut meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Tenggara Timur.
Untuk periode 9 hingga 12 Maret 2026, kondisi cuaca diperkirakan masih didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun sejumlah wilayah tetap perlu mewaspadai potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi, terutama di beberapa daerah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
BMKG juga menetapkan peringatan dini terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Masyarakat serta para pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. BMKG juga mendorong masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru melalui kanal resmi yang tersedia, termasuk situs web dan aplikasi InfoBMKG.


