(Beritadaerah – Kudus, Jawa Tengah) Kabut tipis dan rintik hujan menyelimuti lereng Gunung Muria saat Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengunjungi Pusat UMKM Desa Wisata Dukungwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Di tengah udara dingin, Nawal menyeduh dan mencicipi kopi produksi UMKM Kopi Tjolo. Tertarik dengan cita rasanya yang khas, ia pun langsung memborong beberapa varian kopi lokal tersebut.
Kopi Tjolo berasal dari biji kopi petani lokal di lereng Gunung Muria. Berkat inovasi produk dan pengolahan yang konsisten, kopi ini berhasil menembus pasar internasional, seperti Malaysia, Thailand, hingga sejumlah negara Timur Tengah. Bahkan, Kopi Tjolo pernah menjadi sajian bagi para pejabat dunia dalam KTT G20 Bali 2022.
Nawal menilai Kopi Tjolo memiliki keunikan yang jarang ditemui, salah satunya inovasi kopi yang dipadukan dengan bubuk alpukat (avocado). Inovasi tersebut memanfaatkan potensi unggulan daerah setempat, yakni kopi dan alpukat.
Menurut Nawal, keberhasilan Kopi Tjolo menjadi bukti bahwa potensi lokal dapat memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dengan inovasi dan kreativitas. Ia pun mendorong UMKM di Jawa Tengah untuk terus menggali kekayaan daerah masing-masing.
Selain kopi, Nawal juga membeli berbagai produk UMKM lain, seperti tas anyaman pandan dan tape singkong khas Desa Wisata Dukungwaringin. Ia menegaskan, Dekranasda Jawa Tengah akan terus mendukung UMKM melalui pelatihan, pendampingan, kurasi produk, serta penguatan pemasaran digital agar mampu bersaing di pasar global.
Sementara itu, pengelola UMKM Kopi Tjolo, Anggung Safitri, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi dilakukan secara terstandar, mulai dari pemetikan biji merah, penyortiran, perendaman, hingga penjemuran. Untuk menjaga kualitas, Kopi Tjolo juga dilengkapi mini laboratorium.
Selain varian alpukat, Kopi Tjolo menghadirkan inovasi lain seperti kopi dengan gula kelapa, serta paket 4 in 1 berisi kopi, gula, krimer, dan bubuk alpukat. Dengan harga mulai Rp2.500 per sachet, Kopi Tjolo mampu meraih omzet puluhan juta rupiah per bulan dan terus memperluas pasar hingga mancanegara.
Keberhasilan Kopi Tjolo menunjukkan bahwa UMKM berbasis potensi lokal memiliki peluang besar menembus pasar global. Inovasi produk, konsistensi kualitas, serta cerita asal-usul daerah menjadi nilai tambah yang semakin diminati konsumen, baik di dalam maupun luar negeri.
Dukungan pemerintah daerah dan Dekranasda menjadi faktor penting, terutama dalam membuka akses pemasaran, meningkatkan kualitas produk, serta membangun kepercayaan pasar internasional.
Ke depan, pengembangan UMKM kopi di Kudus dan wilayah lereng Muria perlu diarahkan pada penguatan branding daerah, sertifikasi produk, serta ekspansi pemasaran digital dan ekspor. Jika dikelola secara berkelanjutan, kopi khas Muria tidak hanya menjadi produk unggulan, tetapi juga dapat mengangkat citra Kudus sebagai daerah penghasil kopi inovatif.
Sinergi antara petani, UMKM, dan pemerintah menjadi kunci agar kopi lokal tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menjadi ikon ekonomi kreatif daerah yang berdaya saing global.


