Jakarta
Sepeda Onthel, salah satu ciri khas wisata di Kota Tua Jakarta (Foto: Jilly L/ Beritadaerah)

Jejak Panjang Penduduk Asli Jakarta

(Beritadaerah-Kolom) Siapakah penduduk asli Jakarta? Pertanyaan ini terus muncul dari generasi ke generasi dan kerap memantik perdebatan. Sebagian orang menunjuk masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta, sementara yang lain berargumen bahwa wilayah ini telah dihuni jauh sebelum identitas Betawi terbentuk. Sejarah Jakarta memang tidak sederhana. Ia adalah sejarah tentang pelabuhan, perdagangan, penaklukan, migrasi, percampuran budaya, dan lahirnya identitas baru yang berlangsung selama berabad-abad.

Jika menengok catatan sejarah, salah satu sumber paling rinci mengenai pembentukan masyarakat Jakarta berasal dari masa ketika VOC mendirikan Batavia pada 1619. Namun jejak kehidupan di wilayah ini jauh lebih tua daripada Batavia.

Sejumlah sejarawan memperkirakan kawasan yang kini menjadi Jakarta telah dihuni sejak awal Masehi. Dalam naskah Wangsakerta disebutkan adanya kerajaan Salakanegara yang diperkirakan berdiri sekitar abad ke-2 Masehi dan memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah Nusantara. Meski keabsahan naskah tersebut masih diperdebatkan karena ditulis jauh setelah peristiwa yang diceritakan, ia menunjukkan bahwa wilayah pesisir Jakarta telah lama menjadi bagian dari jaringan perdagangan kuno.

Bukti yang lebih kuat muncul pada masa Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi. Prasasti Tugu yang ditemukan di Jakarta Utara mencatat pembangunan saluran air Gomati oleh Raja Purnawarman. Proyek sepanjang sekitar 21 kilometer itu menunjukkan adanya masyarakat yang terorganisasi, mengenal sistem pemerintahan, dan memiliki kemampuan mengerahkan tenaga kerja dalam skala besar. Wilayah kekuasaan Tarumanegara diperkirakan meliputi Banten, Jakarta, Bogor, Bekasi, hingga daerah aliran Sungai Citarum.

Setelah Tarumanegara meredup, kawasan Jakarta berada dalam pengaruh Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Pelabuhan Sunda Kelapa berkembang menjadi pusat perdagangan penting yang ramai didatangi pedagang Tiongkok dan berbagai bangsa lain. Posisi strategis ini menarik perhatian Portugis yang pada awal abad ke-16 menjalin perjanjian dengan Kerajaan Sunda dan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.

Hubungan Portugis dan Pajajaran kemudian dianggap mengancam oleh Kesultanan Demak. Sultan Trenggana menugaskan Fatahillah merebut Sunda Kelapa, dan pada 22 Juni 1527 kota pelabuhan itu berhasil dikuasai lalu dinamai Jayakarta. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Jakarta, meski sebagian sejarawan menilai penetapan tersebut masih menyisakan perdebatan karena bukti dokumenternya tidak sepenuhnya tegas.

Perubahan besar berikutnya terjadi ketika VOC merebut Jayakarta pada 1619. Di atas puing kota lama, Jan Pieterszoon Coen membangun Batavia, kota benteng bergaya Belanda yang dirancang sebagai pusat perdagangan VOC di Asia.Masalah utama VOC saat itu adalah kekurangan penduduk. Banyak warga lokal meninggalkan kota setelah jatuh ke tangan Belanda. Untuk mengisi Batavia, VOC mendatangkan orang dari berbagai daerah yang jauh dari Jawa agar tidak mudah bersekutu dengan kekuatan lokal.

Gelombang pertama pendatang mencakup orang Tionghoa yang diberi peran penting dalam perdagangan. Mereka ditempatkan di dalam tembok kota dan menjadi motor ekonomi Batavia. Selain itu VOC juga membawa tawanan perang dan budak dari Banda, Bali, Makassar, Bugis, Melayu, India, hingga Afrika.

Setelah penaklukan Banda pada 1621, ribuan orang Banda dipindahkan ke Batavia dan sebagian menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Bandan. Orang Bali juga didatangkan dalam jumlah sangat besar. Catatan 1683 menyebut terdapat lebih dari 14 ribu orang Bali di Batavia dan wilayah sekitarnya, meski sebagian besar berstatus budak. Jejak mereka masih terlihat pada nama-nama kawasan seperti Kampung Bali Angke, Kampung Bali Krukut, dan Kampung Bali Tanah Abang.

Dari sinilah muncul pola yang unik, Batavia bukan dibangun oleh satu kelompok etnis, melainkan oleh percampuran banyak kelompok yang dipaksa atau didorong tinggal bersama.Pada abad ke-17 hingga ke-18, Batavia berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia. Orang Arab dari Hadramaut, pedagang India, Tionghoa, Melayu, Bugis, Makassar, Jawa, Bali, hingga Eropa datang untuk berdagang dan bekerja. Kota ini menjadi ruang pertemuan berbagai bahasa, agama, dan budaya.

Dalam kondisi seperti itu, batas-batas etnis perlahan mencair. Banyak pendatang yang lahir dan besar di Batavia tidak lagi merasa sepenuhnya berasal dari daerah leluhur mereka. Bahasa Melayu pasar menjadi alat komunikasi bersama. Perkawinan antarkelompok semakin umum terjadi.

Seorang pelancong Tiongkok abad ke-18 yang dikutip dalam buku Jakarta, Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn mencatat bahwa keturunan Tionghoa di Batavia sering meninggalkan bahasa dan adat leluhur mereka, lalu menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat. Fenomena serupa terjadi pada kelompok-kelompok lain.Ketika VOC bubar pada 1799 dan pusat pemerintahan kolonial dipindahkan ke Weltevreden, proses percampuran itu justru semakin intens. Populasi Batavia meningkat pesat sepanjang abad ke-19, dari sekitar 33 ribu jiwa pada 1815 menjadi sekitar 78 ribu jiwa pada 1900.

Pada masa inilah istilah “Betawi” mulai digunakan untuk menyebut penduduk pribumi yang lahir di Batavia dan sekitarnya. Kata “Betawi” berasal dari “Batavia”, menandai munculnya identitas baru yang berbeda dari Jawa, Sunda, atau etnis lain.Menariknya, identitas Betawi tidak lahir dari satu garis keturunan tunggal. Ia terbentuk dari asimilasi panjang orang Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Melayu, Tionghoa, Arab, India, bahkan unsur Eropa. Kesamaan pengalaman hidup di Batavia dan penggunaan bahasa Melayu menjadi perekat utama.

Pengakuan politik terhadap etnis Betawi menguat pada awal abad ke-20. Tokoh Betawi Mohammad Husni Thamrin tampil sebagai wakil kaum pribumi Batavia dan memperjuangkan kepentingan masyarakat Betawi di Dewan Kota. Sejak saat itu Betawi semakin diakui sebagai salah satu suku bangsa di Nusantara.Namun sejarah Jakarta tidak berhenti di sana. Setelah Indonesia merdeka, arus urbanisasi meningkat tajam. Penduduk Jakarta melonjak dari sekitar 600 ribu jiwa pada 1945 menjadi 1,75 juta jiwa pada 1950. Kota yang semula dirancang untuk kurang dari satu juta orang tiba-tiba harus menampung penduduk berlipat ganda.

Gelombang pendatang dari Jawa, Sunda, Sumatra, Sulawesi, dan daerah lain mengubah komposisi demografi Jakarta. Orang Betawi yang sebelumnya menjadi kelompok terbesar perlahan tergeser oleh jumlah pendatang yang terus meningkat.Meski demikian, budaya Betawi tetap menjadi fondasi identitas kota. Bahasa Betawi berkembang menjadi lingua franca Jakarta modern, memengaruhi cara bicara lintas etnis dan melahirkan budaya urban khas ibu kota.

Karena itu, ketika ditanya siapa penduduk asli Jakarta, jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu kelompok. Jika merujuk pada sejarah paling awal, wilayah Jakarta telah dihuni masyarakat sejak masa Tarumanegara dan mungkin lebih tua lagi. Jika merujuk pada identitas etnis yang diakui sebagai penduduk asli Batavia, maka masyarakat Betawi adalah pewaris utama kota ini.

Namun yang membuat Betawi unik justru kenyataan bahwa mereka sendiri lahir dari percampuran banyak bangsa dan suku. Jakarta sejak awal adalah kota pelabuhan yang terbuka bagi pendatang. Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta modern, kota ini terus dibentuk oleh arus manusia yang datang, menetap, berbaur, dan menciptakan identitas baru.

Sejarah Jakarta menunjukkan bahwa “keaslian” di kota ini bukanlah soal kemurnian darah, melainkan hasil perjalanan panjang akulturasi. Masyarakat Betawi menjadi simbol paling jelas dari proses tersebut: sebuah etnis yang lahir dari pertemuan Nusantara dan dunia, lalu tumbuh menjadi identitas khas Jakarta yang kita kenal hari ini.