(Beritadaerah-Karawang) Upaya menjaga posisi Kabupaten Karawang sebagai salah satu pusat produksi beras nasional terus diperkuat melalui pemanfaatan inovasi di sektor pertanian. Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, serangan hama dan penyakit tanaman, serta berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi, teknologi perlindungan tanaman dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan produktivitas sawah.
Karawang tercatat sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai lebih dari 1,19 juta ton gabah kering giling pada 2025. Dengan luas lahan pertanian yang masih dominan dan didukung sistem irigasi yang baik, sejumlah wilayah bahkan mampu menghasilkan panen hingga 7–8 ton per hektare.
Untuk mendukung keberlanjutan produksi tersebut, Syngenta Indonesia memperkenalkan fungisida berbasis teknologi ADEPIDYN™ bernama MIRAVIS Duo® di Learning Development Center (LDC), Karawang, Jawa Barat. Produk ini dirancang untuk membantu petani mengatasi penyakit tanaman sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang, Rohman, menyampaikan bahwa kehadiran inovasi pertanian tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mempertahankan produktivitas lahan pangan berkelanjutan yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, Karawang memiliki sekitar 99 ribu hektare lahan pertanian, dengan sebagian besar di antaranya telah masuk kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Teknologi perlindungan tanaman yang lebih efektif diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi para petani.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menjelaskan bahwa peluncuran produk tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Karawang dipilih karena memiliki peran strategis sebagai salah satu simbol ketahanan pangan nasional.
Teknologi yang dibawa MIRAVIS Duo® disebut mampu memberikan perlindungan tanaman lebih lama terhadap penyakit padi, menjaga kesehatan daun, serta mendukung pembentukan gabah yang lebih berkualitas. Selain itu, perlindungan yang tetap efektif meski dalam kondisi cuaca tidak menentu dinilai menjadi nilai tambah bagi petani yang menghadapi perubahan iklim.
Dalam peluncurannya, sekitar 650 petani dari berbagai kecamatan di Karawang turut hadir untuk melihat langsung hasil penerapan teknologi tersebut melalui lahan demonstrasi. Sejumlah petani mengaku memperoleh hasil panen yang lebih baik, baik dari sisi kualitas gabah maupun produktivitas tanaman.
Melalui penguatan teknologi budidaya dan perlindungan tanaman, berbagai pihak berharap produktivitas pertanian di Karawang dapat terus terjaga. Langkah tersebut juga dinilai penting untuk mendukung target swasembada beras dan memperkuat ketahanan pangan nasional di masa mendatang.


