(Beritadaerah-Nasional) Pendekatan komunikasi yang lebih aktif dari pemerintah kepada investor global dinilai mulai membawa dampak positif terhadap persepsi pasar. Meski demikian, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, kekuatan fundamental dalam negeri disebut tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan kepercayaan investor.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memandang langkah pemerintah menjalin komunikasi langsung dengan investor internasional sebagai strategi yang tepat untuk mengurangi kesenjangan persepsi antara kondisi ekonomi domestik dan pandangan global. Interaksi tersebut, termasuk pertemuan dengan investor besar di luar negeri, dianggap mampu memperjelas narasi ekonomi Indonesia di mata dunia.
Ia menilai bahwa dalam situasi pasar yang semakin dipengaruhi sentimen dan persepsi, komunikasi yang terarah menjadi instrumen penting. Meski begitu, ia menegaskan bahwa komunikasi tidak dapat menggantikan peran fundamental ekonomi. Konsistensi kebijakan serta implementasi yang efektif di lapangan tetap menjadi faktor penentu utama.
Lebih lanjut, ia melihat adanya perubahan pola komunikasi pemerintah yang kini cenderung lebih proaktif dan berorientasi ke depan, tidak lagi sekadar merespons situasi. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan praktik global yang menempatkan pengelolaan ekspektasi pasar sebagai bagian penting dalam kebijakan ekonomi.
Di sisi lain, tingginya minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai puluhan triliun rupiah mencerminkan kombinasi pengaruh faktor global dan domestik. Meredanya ketegangan geopolitik internasional turut mendorong aliran modal kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun demikian, kondisi tersebut dinilai lebih bersifat jangka pendek dan dipengaruhi sentimen global. Oleh karena itu, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk menarik investasi jangka panjang melalui reformasi berkelanjutan dan penguatan sektor keuangan domestik.
Terkait pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 yang ditargetkan mencapai 5,5 persen, angka tersebut dinilai masih dalam batas realistis. Hal ini didukung oleh sejumlah faktor, seperti efek basis rendah dari periode sebelumnya, peningkatan belanja pemerintah, serta mulai pulihnya aktivitas sektor riil.
Sejumlah indikator ekonomi, termasuk penjualan ritel dan aktivitas manufaktur, menunjukkan tren perbaikan yang menandakan mulai bergeraknya kembali roda perekonomian nasional. Meski begitu, kewaspadaan terhadap tekanan eksternal tetap diperlukan.
Dalam situasi global yang semakin kompleks dan dipengaruhi narasi, keseimbangan antara komunikasi kebijakan dan kekuatan fundamental ekonomi dinilai menjadi hal penting. Pada akhirnya, kepercayaan pasar akan lebih ditentukan oleh kondisi riil ekonomi dan kredibilitas kebijakan yang dijalankan.


