(Berita Daerah-Pontianak) Tradisi masyarakat Melayu di Pontianak usai perayaan Lebaran atau Idul Fitri masih kental dengan nuansa kekeluargaan dan nilai-nilai religius. Sejumlah tradisi turun-temurun terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya lokal sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Makan Saprahan, yakni makan bersama dengan duduk bersila di lantai. Dalam tradisi ini, berbagai hidangan khas seperti pacri nanas, ketupat patlau, rendang, dan opor ayam disajikan dalam satu wadah untuk dinikmati bersama. Selain sebagai ajang santap bersama, Saprahan juga mengandung makna kebersamaan, kesetaraan, serta adab dalam pergaulan.
Tradisi lainnya adalah ziarah kubur, yang umumnya dilakukan pada hari pertama atau kedua Lebaran. Masyarakat mengunjungi makam keluarga maupun tokoh masyarakat untuk mendoakan arwah yang telah berpulang, sekaligus mengingatkan akan pentingnya hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada.
Di sisi lain, suasana Lebaran juga diramaikan dengan tradisi open house atau silaturahmi terbuka. Tokoh masyarakat, pejabat, hingga warga biasa membuka rumah mereka untuk menerima tamu dari berbagai kalangan. Momentum ini dimanfaatkan untuk saling bermaafan dan mempererat tali persaudaraan tanpa sekat sosial.
Tradisi-tradisi tersebut hingga kini terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Melayu Pontianak. Selain sebagai warisan budaya, praktik ini juga mencerminkan kuatnya nilai religiusitas dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan sosial di daerah tersebut.


