(Beritadaerah-Kolom) Ada tempat-tempat di Indonesia yang mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi menyimpan kisah luar biasa tentang hubungan manusia dengan alam dan sejarahnya. Salah satunya adalah Teon Nila Serua di Kabupaten Maluku Tengah. Di wilayah inilah sebuah tradisi bernama Inasua terus bertahan, bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai simbol identitas masyarakat yang pernah kehilangan tanah kelahirannya.
Perjalanan menuju Teon Nila Serua bukan perjalanan yang sederhana. Dari Jakarta menuju Ambon membutuhkan waktu sekitar tiga jam penerbangan, lalu dilanjutkan menyeberang menggunakan kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu menuju Amahai di Pulau Seram selama sekitar dua jam. Setelah itu perjalanan masih diteruskan melalui jalur darat menuju Masohi sebelum akhirnya tiba di kawasan permukiman masyarakat Teon Nila Serua.
Jarak yang panjang tersebut seolah menjadi pengingat bahwa wilayah ini masih sangat bergantung pada laut sebagai penghubung utama kehidupan. Ombak, angin, dan cuaca bukan sekadar kondisi alam, tetapi bagian dari rutinitas yang membentuk karakter masyarakatnya. Di balik perjalanan yang melelahkan itu tersimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui publik.
Masyarakat Teon Nila Serua yang kini tinggal di Pulau Seram sebenarnya bukan berasal dari sana. Mereka merupakan penduduk asli Kepulauan Teon, Nila, dan Serua di Laut Banda. Pada tahun 1978 pemerintah merelokasi seluruh penduduk dari ketiga pulau tersebut karena ancaman aktivitas Gunung Laworkawra yang dianggap membahayakan keselamatan warga.
Relokasi itu memang menyelamatkan nyawa ribuan orang, tetapi meninggalkan luka yang sangat dalam. Mereka harus meninggalkan rumah, kebun, makam leluhur, hingga seluruh ruang hidup yang telah diwariskan selama berabad-abad. Perpindahan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah masyarakat Teon Nila Serua.
Hingga kini para tetua adat masih mengingat jelas detik-detik terakhir sebelum meninggalkan kampung halaman. Lonceng gereja dibunyikan sebagai tanda seluruh warga berkumpul untuk berdoa sebelum berangkat. Setelah doa selesai, mereka berjalan menuju kapal dengan hati yang dipenuhi kesedihan dan ketidakpastian mengenai masa depan.
Banyak di antara mereka yang menangis ketika hendak menutup pintu rumah untuk terakhir kalinya. Ada yang memandang laut sambil berharap suatu saat dapat kembali ke tanah kelahirannya. Namun mereka juga menyadari bahwa perjalanan tersebut mungkin menjadi perpisahan yang tidak akan pernah terulang.
Di tempat baru, masyarakat harus membangun kehidupan dari awal. Meski kehilangan tanah kelahiran, mereka bertekad agar budaya leluhur tidak ikut hilang. Mereka membawa bahasa, adat istiadat, serta pengetahuan tradisional agar tetap hidup di tengah lingkungan yang sama sekali berbeda.
Salah satu warisan yang berhasil mereka pertahankan adalah Inasua. Sekilas makanan ini tampak sederhana karena hanya dibuat dari ikan dan garam. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Dalam bahasa masyarakat Teon Nila Serua, kata Ina berarti ikan, sedangkan Sua berarti garam. Kedua kata tersebut kemudian membentuk nama Inasua yang secara harfiah berarti ikan yang diawetkan menggunakan garam. Tradisi ini berkembang sebagai cara masyarakat pesisir menjaga ketersediaan pangan ketika hasil tangkapan laut sedang melimpah.
Pada masa lalu masyarakat menyimpan Inasua menggunakan ruas bambu karena belum mengenal wadah plastik atau jeriken. Setelah melalui proses fermentasi alami, ikan dapat bertahan selama berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun. Semakin lama disimpan, warna daging berubah menjadi kemerahan dan cita rasanya justru semakin kaya.
Teknik sederhana tersebut lahir dari pengalaman panjang hidup di pulau-pulau kecil. Ketika cuaca buruk dan nelayan tidak dapat melaut, persediaan Inasua menjadi sumber pangan yang sangat penting. Dengan demikian masyarakat tidak perlu bergantung pada hasil tangkapan harian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tradisi ini juga mengajarkan masyarakat agar tidak mengambil hasil laut secara berlebihan. Mereka menangkap ikan ketika musimnya melimpah, kemudian menyimpannya untuk digunakan dalam jangka waktu panjang. Cara hidup tersebut secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi populasi ikan untuk kembali pulih.
Kini Inasua tidak lagi hanya menjadi makanan keluarga. Melalui Festival Qor Inasua, masyarakat Teon Nila Serua memperkenalkan kembali warisan tersebut kepada generasi muda dan masyarakat luas. Festival ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali sejarah, budaya, sekaligus memperkuat identitas yang pernah terancam hilang.
Suasana paling mengharukan terjadi ketika seorang pemuda Teon Nila Serua diminta menyampaikan harapannya mengenai masa depan Inasua. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia hanya mampu mengucapkan harapan sederhana, yaitu agar warisan leluhurnya jangan sampai mati. Kalimat singkat itu menggambarkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap identitas budayanya.
Bagi masyarakat Teon Nila Serua, Inasua bukan hanya makanan tradisional. Di dalamnya tersimpan kisah perpindahan, perjuangan, dan keteguhan untuk mempertahankan jati diri di tengah perubahan zaman. Selama Inasua tetap dibuat dan diwariskan kepada generasi berikutnya, selama itu pula ingatan tentang tanah leluhur akan terus hidup.


