(Beritadaerah-Jakarta) Program beasiswa bagi generasi muda kini semakin diarahkan tidak hanya untuk membantu pembiayaan pendidikan, tetapi juga membekali penerima manfaat dengan keterampilan, pengalaman praktis, pendampingan, serta kesempatan berkontribusi langsung di tengah masyarakat. Pendekatan tersebut diterapkan melalui program SCG Sharing the Dream yang telah berlangsung selama 14 tahun di Indonesia.
Program yang digagas SCG tersebut mengembangkan ekosistem pendidikan dengan melibatkan pelajar, sekolah, guru, komunitas, dan dunia industri. Tujuannya adalah membentuk generasi muda yang memiliki kemampuan akademik sekaligus siap menghadapi tantangan sosial, lingkungan, dan kebutuhan dunia kerja.
President Director PT SCG Indonesia Pattaraphon Charttongkum menjelaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama program. Dukungan tidak berhenti pada pemberian biaya pendidikan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapan penerima beasiswa agar mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara.
Selama 14 tahun pelaksanaannya, SCG Sharing the Dream telah memberikan bantuan kepada lebih dari 5.200 pelajar di Indonesia dengan total dukungan sekitar Rp22 miliar. Penerima beasiswa juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan berbasis komunitas untuk mengasah kemampuan mereka dalam mengidentifikasi persoalan dan merancang solusi.
Hingga saat ini, tercatat 12 proyek komunitas telah dijalankan oleh penerima manfaat dan memberikan dampak kepada sekitar 7.600 anggota masyarakat. Program tersebut mencakup berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, pendidikan, lingkungan, dan pengembangan potensi lokal.
Pendekatan yang diterapkan SCG juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian dari pengembangan talenta. Generasi muda didorong memahami isu lingkungan, prinsip environmental, social, and governance (ESG), serta pentingnya membangun hubungan yang positif dengan komunitas di sekitarnya.
Vice President Corporate Administration SCG Paramate Nisnagornsen menilai pendidikan perlu dipandang sebagai proses yang berlangsung lebih luas daripada sekadar kegiatan di sekolah. Generasi muda perlu memperoleh kesempatan untuk terus belajar, aktif di masyarakat, serta mengembangkan kemampuan yang dapat memberikan manfaat bagi keluarga, komunitas, dan bangsa.
Apresiasi terhadap pola pengembangan tersebut juga disampaikan Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Maria Veronica Irene Herdjiono. Menurutnya, pelajar bertalenta membutuhkan dukungan pembiayaan sekaligus ruang untuk mengembangkan kapasitas diri. Pelatihan dan pengalaman langsung dinilai penting agar prestasi yang dimiliki dapat berkembang menjadi kemampuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Salah satu contoh terlihat dari pengalaman Lulita Sauman, alumni SCG Sharing the Dream 2025. Melalui proyek Wanoja Green Academy di daerah asalnya, Lulita mengajak sekitar 50 anak muda mengembangkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus menggali potensi ekowisata desa.
Program tersebut turut mengajak masyarakat mengolah sampah plastik menjadi suvenir dan mengembangkan desa wisata. Kegiatan itu telah mendatangkan sekitar 20 wisatawan internasional dari 12 negara, dengan anak muda setempat terlibat sebagai pemandu wisata berbahasa Inggris.
Pengalaman tersebut juga memperluas pemahaman Lulita mengenai kepemimpinan. Ia melihat bahwa pemimpin tidak hanya bertugas memberikan arahan, tetapi juga perlu memahami kebutuhan masyarakat dan melibatkan warga sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah.
Sementara itu, survei terhadap 121 penerima SCG Scholar dari 13 kota menunjukkan sejumlah tantangan yang menjadi perhatian generasi muda. Persoalan ekonomi dan kemiskinan menjadi kekhawatiran terbesar dengan porsi 28,94 persen. Kekhawatiran lainnya meliputi perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, kesenjangan pendidikan, masalah lingkungan, serta kesehatan mental.
Meski menghadapi berbagai tantangan, mayoritas responden menunjukkan optimisme terhadap masa depan. Sebanyak 73,55 persen menyatakan percaya diri dalam menghadapi masa depan, sementara 47,11 persen mengaitkan keinginan berkontribusi dengan kepedulian terhadap generasi berikutnya.
Survei tersebut juga memperlihatkan bahwa dukungan pendidikan masih menjadi kebutuhan utama. Sebanyak 61,98 persen responden membutuhkan bantuan pendidikan, sedangkan 43 persen menginginkan lebih banyak kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang memberikan dampak langsung.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa beasiswa dapat menjadi pintu masuk untuk membangun talenta muda secara lebih menyeluruh. Dukungan finansial perlu dilengkapi dengan pendampingan, jejaring, pengalaman, dan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Melalui pendekatan tersebut, program SCG Sharing the Dream diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga mampu membaca persoalan di sekitarnya, membangun kolaborasi, dan menghasilkan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.


