Suasana sejuk dan asri di salah satu dataran tinggi di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, foto Rabu 3 Desember 2025.
Suasana sejuk dan asri di salah satu dataran tinggi di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, foto Rabu 3 Desember 2025.

Cibuni Menatap Pembangkit Panas Bumi 10 MW

(Beritadaerah-Kolom) Proyek panas bumi Cibuni di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memasuki fase penting menuju pengembangan pembangkit listrik berkapasitas 10 MW. Proyek yang berlokasi di Desa Cipanganten, Kecamatan Rancabali, ini memiliki karakteristik sumber daya yang dinilai cukup untuk mendukung pengembangan panas bumi secara berkelanjutan. Pengembangannya juga telah memiliki dasar komersial melalui perubahan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) yang ditandatangani pada 10 November 2023.

Cibuni berada di kawasan yang dikelilingi perkebunan teh milik PTPN VIII. Lokasi proyek memiliki akses jalan beraspal sekitar 2,5 kilometer dari jalan utama menuju area proyek. Materi proyek juga menyebutkan tidak terdapat persoalan sosial di lokasi tersebut. Dari Jakarta, perjalanan menuju lokasi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat jam dengan kendaraan. Kondisi akses dan lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung tahapan konstruksi dan pengembangan fasilitas panas bumi.

Secara historis, wilayah Cibuni bukan lokasi baru dalam eksplorasi panas bumi. Tiga sumur eksplorasi telah dibor pada periode 1996–1998, yakni CBN-1 dan CBN-2 di Cluster A serta CBN-3 di Cluster B. Hasil pengeboran menunjukkan CBN-1 memiliki kemampuan menghasilkan sekitar 36 ton uap kering per jam, yang diperkirakan setara dengan kapasitas sekitar 4,2 MW. Sementara itu, CBN-2 dan CBN-3 mengalami kegagalan yang dikaitkan dengan persoalan lubang sumur serta krisis moneter pada 1998.

Pengalaman pengeboran tersebut memberikan dasar penting bagi pemahaman terhadap karakteristik reservoir Cibuni. Dalam materi proyek, Cibuni digambarkan sebagai reservoir dua fase dengan steam cap yang telah berkembang penuh pada kedalaman relatif dangkal. Karakteristik tersebut menjadi salah satu dasar keyakinan terhadap potensi pengembangan pembangkit di kawasan tersebut.

Estimasi sumber daya menunjukkan ruang pengembangan yang lebih besar dibandingkan kapasitas pembangkit tahap awal. Berdasarkan integrasi data 3G, luas sumber daya Cibuni diperkirakan berada pada rentang 1 kilometer persegi untuk skenario P10, 2 kilometer persegi untuk P50, dan 7 kilometer persegi untuk P90. Dengan asumsi kepadatan daya sebesar 15 MWe per kilometer persegi, kapasitas yang diperkirakan masing-masing mencapai 15 MW, 30 MW, dan 105 MW.

Angka tersebut menunjukkan bahwa proyek 10 MW yang sedang dikembangkan merupakan tahap awal dari potensi sumber daya yang lebih besar. Materi proyek menyebutkan bahwa cadangan Cibuni diperkirakan mencukupi untuk mendukung pengembangan lebih dari 45 MW secara berkelanjutan selama 30 tahun. Model reservoir menggunakan ukuran P50 sebagai area yang paling mungkin, sementara model P90 digunakan untuk menangani ketidakpastian mengenai ukuran sumber daya.

Tahapan berikutnya diarahkan untuk mengubah potensi tersebut menjadi fasilitas pembangkit yang beroperasi secara komersial. Rencana pengembangan mencakup pekerjaan sipil, pengeboran dan pengujian sumur, pembangunan fasilitas pembangkit, sistem uap, hingga jaringan transmisi. Pada sisi sipil, pekerjaan mencakup pembangunan drilling pad, gudang dan area logistik, stasiun pompa air serta jaringan air, dan pekerjaan pendukung lainnya.

Untuk kegiatan pengeboran, proyek merencanakan big hole well hingga kedalaman sekitar 1.800 meter dalam salah satu bagian rencana pengembangan, sementara tahapan perkembangan proyek juga mencantumkan rencana big hole well hingga sekitar 2.000 meter. Selain itu, direncanakan dua sumur produksi dan satu sumur injeksi. Pengujian sumur akan menggunakan metode lip pressure testing.

Setelah tahap pengeboran dan pengujian, pembangunan pembangkit menjadi bagian penting dari tahapan EPCC. Pekerjaan tersebut meliputi instalasi pembangkit, pembangunan fasilitas steam field above ground, commissioning, serta pembangunan jaringan transmisi. Infrastruktur transmisi dirancang menggunakan jaringan 150 kV dengan konduktor Double Hawk, menara tipe tension tower, dan penggunaan leg extension. Total panjang jaringan diperkirakan mencapai 5,6 kilometer dengan 23 menara.

Dari sisi komersial, proyek Cibuni telah memiliki pijakan melalui perubahan PPA untuk pembangkit berkapasitas 1 x 10 MW. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 10 November 2023 dengan masa kontrak selama 30 tahun sejak tanggal Commercial Operation Date atau COD. Tarif listrik yang tercantum dalam materi proyek adalah USD0,067 per kWh.

Target COD ditetapkan pada Maret 2028 atau lebih cepat. Proyek menggunakan konsep Build, Own, Operate atau BOO, sementara pembangunan jaringan transmisi dilakukan oleh pengembang termasuk perpanjangan fasilitas gardu induk PLN yang telah tersedia. Perjanjian juga menetapkan minimum availability factor sebesar 80 persen per tahun.

Target tersebut menempatkan 2028 sebagai titik penting bagi proyek Cibuni. Sebelum pembangkit dapat memasuki tahap operasi komersial, sejumlah pekerjaan harus diselesaikan secara berurutan, mulai dari perizinan, pekerjaan sipil, pengeboran, pengujian sumur, pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, hingga konstruksi dan commissioning.

Materi proyek menunjukkan sejumlah pekerjaan telah berjalan. Jalan menuju lokasi telah selesai, pekerjaan well pad dan fasilitas pendukung berada dalam proses, begitu pula jaringan transmisi. Subsurface telah selesai dan FEED untuk pembangkit juga telah selesai. AMDAL masih dalam proses, sementara izin lokasi dan ANDALALIN telah selesai. SIPPA juga tercatat telah diperoleh, sedangkan proses pembebasan atau pengadaan lahan masih berlangsung.

Pada sisi pembiayaan, total kebutuhan proyek yang tercantum dalam materi mencapai USD49,3 juta, tidak termasuk pajak 12 persen. Komponen terbesar berasal dari EPC sebesar USD22,5 juta. Pengeboran dan pengujian membutuhkan sekitar USD12 juta, sedangkan pembangunan transmisi diperkirakan mencapai USD7,5 juta. Pekerjaan sipil membutuhkan USD4,5 juta, studi USD1,8 juta, serta kontingensi dan kebutuhan lainnya sekitar USD1 juta.

Struktur biaya tersebut memperlihatkan bahwa pengeboran dan konstruksi pembangkit menjadi dua komponen utama dalam kebutuhan investasi. Dalam proyek panas bumi, pengeboran merupakan tahapan yang membawa risiko teknis sekaligus finansial karena keberhasilan proyek sangat bergantung pada kemampuan sumur menghasilkan fluida panas bumi sesuai dengan karakteristik reservoir yang diperkirakan.

Cibuni juga memiliki pengalaman masa lalu yang menunjukkan pentingnya faktor tersebut. Dari tiga sumur eksplorasi sebelumnya, hanya CBN-1 yang tercatat mampu menghasilkan uap kering secara produktif. Dua sumur lainnya mengalami kegagalan akibat persoalan lubang dan situasi ekonomi pada akhir 1990-an. Karena itu, kegiatan pengeboran dan pengujian dalam pengembangan terbaru menjadi tahap strategis untuk memastikan kapasitas produksi yang dapat menopang pembangkit 10 MW.

Keberadaan sumber daya yang diperkirakan lebih besar memberikan peluang pengembangan lanjutan. Estimasi P50 sebesar 30 MW dan P90 sebesar 105 MW menunjukkan bahwa proyek 10 MW bukan satu-satunya kemungkinan kapasitas yang tersedia di kawasan Cibuni. Namun, angka tersebut merupakan estimasi sumber daya berdasarkan model yang digunakan dalam materi proyek, sehingga realisasi kapasitas pengembangan tetap bergantung pada hasil pengeboran, pengujian, karakteristik reservoir, dan kelayakan teknis serta komersial.

Dengan target operasi pada Maret 2028, fase beberapa tahun ke depan menjadi periode penentuan bagi Cibuni. Proyek harus menyelesaikan pekerjaan sipil, pengeboran dan pengujian, pengadaan, pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, serta proses konstruksi dan commissioning. Pada saat yang sama, pembiayaan proyek perlu memastikan seluruh tahapan tersebut dapat berjalan sesuai jadwal.

Jika target tersebut tercapai, Cibuni akan memasuki tahap operasi sebagai pembangkit panas bumi 10 MW dengan kontrak listrik 30 tahun. Lebih jauh, karakteristik reservoir dan estimasi sumber daya yang tercantum dalam materi proyek membuka kemungkinan pengembangan kapasitas lebih besar. Dengan demikian, nilai strategis Cibuni tidak hanya terletak pada pembangkit 10 MW yang menjadi tahap awal, tetapi juga pada potensi sumber daya panas bumi yang dapat dikembangkan secara bertahap dalam jangka panjang.

Pengembangan Cibuni memperlihatkan bagaimana proyek panas bumi membutuhkan rangkaian panjang dari eksplorasi, pemodelan sumber daya, pengeboran, pengujian, pembangunan infrastruktur hingga kepastian pembelian listrik. Dengan PPA yang telah ditandatangani, target COD Maret 2028, serta estimasi kebutuhan investasi USD49,3 juta, proyek kini berada pada tahap penting untuk mengubah potensi panas bumi di kawasan Rancabali menjadi kapasitas pembangkit listrik yang nyata.