(Beritadaerah-Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengembangkan sistem prakiraan berbasis dampak atau impact based forecast (IBF) sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Pendekatan ini diarahkan agar informasi cuaca dan iklim tidak berhenti sebagai peringatan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipasi yang lebih cepat dan tepat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap sistem tersebut semakin besar seiring meningkatnya risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari kesehatan, ketersediaan air, pangan, hingga energi.
Indonesia sendiri menghadapi peningkatan suhu yang turut memperbesar potensi risiko hidrometeorologi. Karena itu, penguatan sistem peringatan dini menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Melalui IBF, informasi peringatan dini dikembangkan secara menyeluruh sejak proses pengamatan hingga penyampaian informasi kepada masyarakat. Data hasil observasi terlebih dahulu dianalisis menggunakan berbagai metode dan model, termasuk Numerical Weather Prediction, prediksi iklim, model hidrologi, kecerdasan artifisial (AI), serta pemodelan tsunami.
Informasi tersebut kemudian dipadukan dengan analisis mengenai potensi dampak yang mungkin terjadi. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan tiga komponen utama, yakni bahaya atau hazard, tingkat keterpaparan (exposure), dan kerentanan (vulnerability).
Dengan pendekatan tersebut, informasi yang diterima masyarakat tidak hanya menjelaskan jenis ancaman yang akan terjadi. Sistem ini juga dapat memberikan gambaran mengenai wilayah, kelompok masyarakat, maupun sektor yang berpotensi terdampak serta tingkat risikonya.
BMKG tetap mempertahankan prinsip ilmiah dalam setiap proses pengembangan prakiraan. Hal itu dilakukan melalui pengamatan berkualitas, pemodelan berbasis ilmu pengetahuan, validasi dan verifikasi data, serta penyampaian informasi yang mempertimbangkan tingkat probabilitas dan ketidakpastian.
Penerapan IBF juga terus diperluas agar dapat digunakan oleh berbagai sektor pembangunan yang memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana. Pendampingan dilakukan hingga tingkat kelurahan melalui jaringan unit pelaksana teknis BMKG yang tersebar di 191 lokasi.
Pendekatan berbasis dampak diharapkan dapat mengubah fungsi peringatan dini menjadi dasar pengambilan keputusan. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan langkah adaptasi sesuai dengan kondisi cuaca dan iklim yang diperkirakan terjadi.
Sektor pertanian menjadi salah satu contoh penerapan informasi tersebut. Di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, informasi kondisi iklim digunakan untuk menyesuaikan jadwal tanam. Petani mempercepat masa tanam dari pekan keempat Maret hingga pekan pertama April dengan memilih varietas padi berumur relatif pendek, yakni sekitar 65–90 hari.
Untuk mengantisipasi keterbatasan air, petani juga memanfaatkan sejumlah sumber air alternatif melalui sumur bor, embung, dan pompa. Strategi tersebut membantu menjaga produktivitas pertanian dan dilaporkan mampu melindungi sekitar 7.067 hektare lahan dari ancaman gagal panen.
Penguatan sistem peringatan dini juga membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah menilai informasi yang akurat hanya akan memberikan manfaat maksimal apabila segera diikuti tindakan nyata dari masyarakat maupun pemangku kepentingan terkait.
Karena itu, pengembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta kerja sama antarlembaga menjadi bagian penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan. Peringatan dini diharapkan tidak lagi sekadar menjadi informasi mengenai potensi bencana, tetapi menjadi dasar bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengambil keputusan sebelum dampak yang lebih besar terjadi.
Melalui penguatan IBF, BMKG berupaya membangun sistem informasi kebencanaan yang semakin responsif dan sesuai kebutuhan pengguna. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi memperkuat ketangguhan Indonesia dalam menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.


