(Beritadaerah-Kolom) Para peminum kopi masih mengeluh di 2026. Jika pada 2025 lonjakan harga terasa seperti kejutan mendadak, tahun ini situasinya berubah menjadi kelelahan kolektif. Harga memang tak lagi melonjak setajam sebelumnya, tetapi juga belum benar-benar turun. Dari Amerika Serikat hingga Indonesia, secangkir kopi menjadi simbol kecil dari tekanan ekonomi yang lebih luas.
Laporan awal 2026 dari Business Insider yang diterbitkan oleh Business Insider mencatat bahwa harga kopi ritel di Amerika Serikat tetap berada di level tinggi historis meskipun inflasi umum mulai melandai. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa harga kopi roasted di rak supermarket masih bertahan di kisaran tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, mencerminkan tekanan biaya yang belum sepenuhnya surut.
Data penjualan dari NielsenIQ menunjukkan belanja masyarakat Amerika untuk kopi kemasan secara nominal kembali meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun kenaikan ini lebih disebabkan harga yang tinggi ketimbang lonjakan volume konsumsi. Konsumen mungkin mengurangi kunjungan ke kedai, tetapi mereka tetap membeli kopi untuk diseduh di rumah.
Di kota-kota besar AS, latte dua digit dolar bukan lagi anomali. Raksasa seperti Starbucks dan Dunkin’ telah melakukan penyesuaian harga dalam beberapa tahap sejak dua tahun terakhir. Kenaikan dilakukan bertahap untuk meredam kejutan konsumen, tetapi dampaknya akumulatif dan terasa nyata.
Salah satu pemicu utama lonjakan harga pada 2025 adalah cuaca ekstrem di negara produsen seperti Brazil dan Vietnam. Kekeringan dan gangguan panen mendorong harga arabika dan robusta naik tajam. Pada saat yang sama, kebijakan tarif impor yang diberlakukan sebelumnya menambah tekanan biaya bagi importir dan roaster di AS. Saat perdebatan tarif memuncak, banyak politisi bahkan menyinggung sejarah pajak teh Amerika dalam dorongannya untuk membebaskan kopi dari tarif.
Indonesia Di Antara Petani dan Konsumen
Dinamika ini juga terasa di Indonesia—negara yang bukan hanya konsumen besar, tetapi juga salah satu produsen kopi utama dunia. Sebagai eksportir robusta, Indonesia berada dalam posisi unik. Ketika harga global naik, petani berpotensi menikmati harga jual lebih baik. Namun konsumen domestik ikut merasakan tekanan di rak ritel dan kedai kopi.
Sepanjang 2025, nilai ekspor kopi Indonesia meningkat karena harga internasional yang tinggi. Petani di sentra produksi seperti Sumatra dan Lampung sempat menikmati harga biji kering yang lebih menguntungkan. Namun volatilitas tetap menjadi risiko. Ketika produksi global mulai pulih pada 2026, tekanan harga di pasar internasional berpotensi kembali muncul.
Di sisi konsumen domestik, harga kopi bubuk dan biji sangrai di ritel modern mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir dan belum sepenuhnya turun. Kenaikan harga gula, susu, serta biaya operasional turut mendorong harga minuman berbasis espresso di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.
Pemilik kedai kopi independen mengaku sulit menyerap kenaikan biaya bahan baku. Sebagian menaikkan harga minuman beberapa ribu rupiah per cangkir. Namun menariknya, arus pelanggan relatif bertahan. Generasi muda masih menjadikan kedai kopi sebagai ruang kerja, tempat rapat informal, dan lokasi bersosialisasi.
Adaptasi Tanpa Berhenti
Baik di Amerika maupun Indonesia, konsumen cenderung beradaptasi, bukan berhenti. Di AS, data dari NielsenIQ menunjukkan pergeseran ke kemasan lebih besar dan merek yang lebih terjangkau. Di Indonesia, penjualan kopi sachet ekonomis dan pembelian biji untuk seduh manual di rumah meningkat di kalangan kelas menengah perkotaan.
Fenomena ini mencerminkan kopi sebagai “kemewahan terjangkau.” Di tengah mahalnya perjalanan, properti, atau hiburan besar, secangkir kopi masih terasa sebagai hadiah kecil yang bisa dibenarkan. Orang mungkin mengurangi frekuensi nongkrong, tetapi tetap menyisihkan anggaran untuk ritual pagi.
Media sosial di kedua negara memperlihatkan pola serupa, keluhan soal harga berdampingan dengan konten tips hemat. Dari berburu promo aplikasi hingga meracik cold brew sendiri di rumah, konsumen menunjukkan kreativitas untuk mempertahankan kebiasaan mereka.
Tekanan Rantai Pasok Masih Membayangi
Di hulu, pelaku industri global masih berhati-hati. Perubahan cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir membuat pelaku pasar sadar bahwa risiko pasokan tetap ada. Meskipun proyeksi produksi membaik, satu musim buruk bisa kembali mendorong harga naik.
Di Indonesia, upaya memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah domestik menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Dengan memperbesar industri roasting dan produk turunan, pelaku usaha berharap dapat menciptakan bantalan ketika harga biji mentah berfluktuasi.
Realitas Harga Baru
Yang paling kentara pada 2026 adalah perubahan psikologis. Konsumen mulai membentuk “jangkar harga” baru. Latte dengan harga lebih tinggi kini dianggap normal di banyak kota besar. Harga kopi kemasan yang dulu memicu kemarahan kini lebih sering disambut dengan desahan panjang ketimbang protes keras.
Sebagaimana dicatat dalam laporan Business Insider, kopi menjadi cerminan paradoks ekonomi, sentimen konsumen rapuh, tetapi pengeluaran untuk kebutuhan yang memberi kenyamanan emosional tetap bertahan. Di Indonesia, pola yang sama terlihat—daya beli tertekan, tetapi warung dan kedai kopi tetap ramai.
Kopi pada 2026 bukan lagi sekadar komoditas. Ia adalah kebiasaan, identitas, dan penyangga rutinitas. Harga boleh membuat orang menggerutu, baik di New York maupun Jakarta. Namun berhenti total hampir tak terpikirkan. Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global, secangkir kopi tetap menjadi konsolasi kecil yang sulit dilepaskan.
Apakah Harga Akan Turun?
Prospek 2026–2027 bergantung pada tiga faktor utama, stabilitas cuaca di negara produsen, kebijakan perdagangan, dan kekuatan permintaan global. Jika panen global benar-benar mencetak rekor dan biaya logistik terus normal, ada peluang harga grosir turun lebih signifikan. Namun transmisi ke harga ritel biasanya lambat.
Beberapa analis memperkirakan harga di toko mungkin hanya turun moderat, bukan kembali ke level pra-2020. Struktur biaya yang lebih tinggi—dari upah hingga energi—menciptakan lantai harga baru.
Bagi peminum kopi, ini berarti satu hal, kemungkinan besar mereka harus berdamai dengan realitas harga baru. Murka mungkin mereda, tetapi keterkejutan telah berubah menjadi penerimaan setengah hati.
Cangkir yang Tetap Penuh
Di 2026, kopi tetap menjadi ritual yang tidak tergantikan. Kedai kopi di distrik bisnis masih ramai pada pagi hari. Rak supermarket tetap dipenuhi berbagai merek, dari yang ekonomis hingga yang eksotis. Diskusi soal harga masih muncul, tetapi tidak lagi sekeras tahun lalu.
Ekonomi boleh bergejolak, tarif boleh berubah, dan panen boleh naik turun. Namun selama jutaan orang masih membutuhkan dorongan kafein untuk memulai hari, permintaan akan tetap ada.
Dan mungkin di situlah letak paradoksnya di tengah keluhan dan kelopak mata yang setengah tertutup, peminum kopi tetap mengantre, membayar, lalu menyeruput dengan lega. Harga boleh membuat mereka menggerutu—tetapi bukan berhenti.


