(Beritadaerah-Kolom) Gagasan tentang “memakmurkan Jawa” yang pernah dirumuskan oleh Jan Blomstein pada dasarnya bukan hanya berbicara tentang satu pulau, melainkan tentang cara pandang terhadap ruang, sumber daya, dan konektivitas. Ia lahir dari pengamatan terhadap Pulau Jawa, tetapi prinsip yang dikandungnya jauh melampaui batas geografis tersebut. Dalam konteks Indonesia hari ini—sebuah negara kepulauan terbesar di dunia—gagasan itu justru menemukan relevansi yang lebih luas: bagaimana laut dan air dijadikan fondasi utama pembangunan ekonomi.
Indonesia bukan negara daratan yang kebetulan memiliki laut, melainkan negara laut yang memiliki daratan. Lebih dari dua pertiga wilayahnya adalah perairan. Namun dalam praktik pembangunan selama beberapa dekade, orientasi kebijakan justru cenderung berbasis darat. Jalan tol, kendaraan, dan logistik berbasis truk menjadi tulang punggung distribusi barang. Akibatnya, biaya logistik tetap tinggi, konektivitas tidak merata, dan potensi laut sebagai jalur ekonomi belum dimanfaatkan secara optimal.
Gagasan Blomstein menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia melihat air bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai medium utama pergerakan—baik untuk manusia, barang, maupun sumber daya. Dalam konteks Jawa, ia mengusulkan pembangunan kanal sebagai sistem terintegrasi yang berfungsi sebagai jalur transportasi, reservoir air, dan pelindung dari ancaman laut. Namun jika diperluas, prinsip yang sama dapat diterapkan pada skala nasional.
Di Indonesia, laut sebenarnya adalah “jalan raya” alami yang sudah tersedia tanpa perlu dibangun dari nol. Tidak seperti jalan darat yang membutuhkan pembebasan lahan, konstruksi mahal, dan perawatan intensif, laut hanya membutuhkan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, kapal, dan sistem navigasi. Dengan kata lain, biaya marginal untuk memperluas kapasitas transportasi laut jauh lebih rendah dibandingkan transportasi darat.
Namun selama ini, laut sering dipersepsikan sebagai pemisah antar wilayah. Pulau-pulau dianggap terisolasi satu sama lain, sehingga pendekatan pembangunan lebih berfokus pada memperkuat konektivitas di dalam pulau, bukan antar pulau. Ini menciptakan fragmentasi ekonomi, di mana pusat-pusat produksi dan konsumsi tidak terhubung secara efisien.
Jika cara pandang ini diubah, maka laut justru menjadi penghubung utama. Barang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dapat bergerak melalui jalur laut dengan biaya yang jauh lebih efisien. Dalam banyak kasus, satu kapal dapat menggantikan ratusan truk, dengan konsumsi energi yang lebih rendah dan emisi yang lebih kecil.
Prinsip ini sebenarnya telah diterapkan di berbagai negara maritim. Di Belanda, misalnya, kanal dan jalur air menjadi bagian integral dari sistem logistik nasional. Kota-kota industri terhubung melalui jaringan air yang memungkinkan distribusi barang berlangsung secara stabil dan terjadwal. Ketergantungan terhadap jalan raya dapat dikurangi, dan biaya logistik menjadi lebih kompetitif.
Di Indonesia, potensi untuk menerapkan sistem serupa bahkan lebih besar. Selain laut yang luas, banyak wilayah memiliki sungai-sungai besar yang dapat dimanfaatkan sebagai jalur transportasi. Di Kalimantan, misalnya, sungai telah lama menjadi urat nadi distribusi barang. Di Sumatera, jaringan sungai juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Sementara di Papua, akses darat yang terbatas justru membuat transportasi air menjadi pilihan yang paling logis.
Namun untuk mewujudkan hal ini, diperlukan perubahan paradigma. Selama ini, kebijakan logistik sering kali terjebak pada upaya menurunkan biaya transportasi darat, termasuk melalui subsidi bahan bakar. Padahal, seperti yang terlihat dalam berbagai kasus, murahnya bahan bakar tidak serta-merta membuat sistem logistik menjadi efisien. Yang lebih penting adalah keandalan dan struktur sistem secara keseluruhan.
Dengan memanfaatkan laut sebagai jalur utama, sistem logistik dapat menjadi lebih terjadwal dan dapat diprediksi. Kapal beroperasi dengan jadwal yang jelas, rute yang tetap, dan kapasitas yang besar. Hal ini memungkinkan pelaku usaha merencanakan distribusi dengan lebih baik, mengurangi kebutuhan stok berlebih, dan menekan biaya secara keseluruhan.
Selain itu, transportasi laut juga memiliki keunggulan dalam skala ekonomi. Semakin besar volume yang diangkut, semakin rendah biaya per unit. Ini berbeda dengan transportasi darat yang memiliki keterbatasan kapasitas per kendaraan. Dalam jangka panjang, pergeseran ke laut dapat menciptakan efisiensi yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Gagasan ini juga sejalan dengan konsep tol laut yang pernah diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan konektivitas antar pulau. Namun implementasi konsep tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari infrastruktur pelabuhan hingga integrasi dengan sistem logistik darat. Di sinilah pendekatan yang lebih menyeluruh diperlukan, bukan hanya membangun jalur laut, tetapi juga memastikan keterhubungan dengan sistem distribusi di darat.
Di Pulau Jawa sendiri, konsep kanal yang diusulkan Blomstein dapat menjadi bagian dari solusi. Kanal tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi internal, tetapi juga sebagai penghubung dengan jaringan laut yang lebih luas. Barang dari kawasan industri dapat langsung dialirkan ke pelabuhan melalui jalur air, mengurangi beban jalan raya dan meningkatkan efisiensi distribusi.
Lebih jauh lagi, sistem berbasis air ini juga memiliki manfaat lingkungan. Transportasi laut menghasilkan emisi yang lebih rendah per unit dibandingkan transportasi darat. Selain itu, kanal dan sistem pengelolaan air dapat membantu mengurangi risiko banjir dan meningkatkan ketersediaan air bersih. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.
Namun, seperti halnya di Jawa, tantangan terbesar adalah implementasi. Dibutuhkan investasi yang besar, perencanaan yang matang, dan koordinasi antar berbagai pihak. Selain itu, perubahan cara berpikir juga tidak dapat terjadi dalam waktu singkat. Pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat perlu memahami manfaat jangka panjang dari sistem ini.
Dalam konteks ini, pendekatan bertahap menjadi penting. Proyek-proyek percontohan dapat dikembangkan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi, seperti koridor industri atau jalur distribusi utama. Keberhasilan proyek ini dapat menjadi bukti nyata yang mendorong adopsi lebih luas.
Gagasan “memakmurkan Jawa” dapat berkembang menjadi “memakmurkan Nusantara”. Prinsip yang sama—memanfaatkan air sebagai fondasi ekonomi—dapat diterapkan di berbagai pulau dengan penyesuaian terhadap kondisi lokal. Di Sumatera, fokus mungkin pada integrasi sungai dan pelabuhan. Di Kalimantan, penguatan jalur sungai yang sudah ada. Di Sulawesi dan Papua, pengembangan pelabuhan dan konektivitas laut.
Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara, laut yang luas dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia. Jika dimanfaatkan dengan baik, laut tidak hanya menjadi penghubung internal, tetapi juga pintu masuk ke pasar global. Dengan sistem logistik yang efisien, produk-produk Indonesia dapat bersaing lebih baik di pasar internasional.
Gagasan Blomstein mengingatkan bahwa solusi besar sering kali sudah ada di depan mata, hanya perlu dilihat dengan perspektif yang berbeda. Air, yang selama ini dianggap sebagai masalah—banjir, rob, keterbatasan akses—sebenarnya adalah aset yang sangat berharga. Dengan pengelolaan yang tepat, air dapat menjadi sumber kemakmuran.
Menggeser orientasi dari darat ke laut bukan berarti meninggalkan pembangunan darat, tetapi menciptakan keseimbangan. Jalan raya tetap diperlukan, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya tulang punggung. Laut dan jalur air menjadi bagian integral dari sistem yang lebih besar.
Perubahan ini dapat mengubah wajah ekonomi Indonesia. Biaya logistik menurun, konektivitas meningkat, dan ketimpangan antar wilayah dapat dikurangi. Lebih dari itu, pendekatan ini juga menciptakan sistem yang lebih tahan terhadap perubahan, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
Dengan demikian, gagasan yang awalnya ditujukan untuk Jawa dapat menjadi inspirasi bagi seluruh Indonesia. Sebuah pengingat bahwa sebagai negara kepulauan, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di darat, tetapi juga oleh bagaimana laut dan air dikelola. Dalam konteks ini, memakmurkan Nusantara berarti kembali pada jati diri sebagai bangsa maritim—bangsa yang menjadikan air sebagai kekuatan, bukan kelemahan.


