(Beritadaerah-Jakarta) Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai ketidakpastian global kini menjadi tantangan yang akan terus dihadapi negara-negara Asia Tenggara di masa mendatang. Karena itu, menurutnya, negara anggota ASEAN perlu membangun stabilitas kawasan secara bersama-sama agar mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat di tengah berbagai tekanan dunia.
Dalam Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta, Suahasil menjelaskan bahwa kondisi global saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perang dagang, fragmentasi ekonomi, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Situasi tersebut dinilai menuntut ASEAN untuk memperkuat kerja sama ekonomi regional.
Ia menyampaikan, penguatan perdagangan antarnegara ASEAN, pengurangan hambatan non-tarif, serta kolaborasi di bidang ekonomi digital dan transisi energi hijau menjadi langkah penting untuk menjaga daya saing kawasan. Selain itu, kebijakan makroekonomi yang hati-hati, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta optimalisasi kerja sama keuangan regional juga dinilai perlu terus diperkuat.
Suahasil menekankan ASEAN sebaiknya tidak terjebak dalam persaingan geopolitik global. Kawasan ini, menurutnya, perlu tetap membuka hubungan ekonomi dengan berbagai negara besar seperti Amerika Serikat, China, India, Uni Eropa, dan Jepang demi menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan juga disebut terus memperkuat sinergi regional melalui kerja sama riset bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO). Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan fiskal yang lebih adaptif dan tepat sasaran.
Dalam kesempatan itu, Suahasil turut menyoroti capaian ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen dengan inflasi terkendali di level 2,4 persen dan defisit anggaran tetap terjaga pada kisaran 2,9 persen.
Ia menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi disertai inflasi rendah menjadi pencapaian yang cukup baik di tengah ketidakpastian global. Ke depan, target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen disebut akan didorong melalui peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur, dan penguatan kualitas sumber daya manusia guna menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas.


