Indonesia Menyongsong Era Energi Matahari di Depan Mata

(Beritadaerah-Kolom) Ada momentum baru dalam perjalanan energi matahari (surya) di Indonesia. Pada 25 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp sekaligus memulai pembangunan proyek PLTS di Gilimanuk, Jembrana, Bali, dengan kapasitas 300 MWp. Program tersebut menjadi bagian dari tahap awal pengembangan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.

Indonesia memang memiliki alasan kuat untuk mengembangkan energi ini. Kita memiliki wilayah yang luas, ribuan pulau dan sumber daya energi surya yang tersedia hampir sepanjang tahun.

Melihat Potensi dari Global Solar Atlas

Global Solar Atlas yang merupakan aplikasi berbasis web interaktif memberikan ringkasan data potensi energi surya dan sumber daya tenaga surya di seluruh dunia. Platform pemetaan potensi energi surya tersebut dikembangkan dengan dukungan World Bank dan ESMAP bersama Solargis.

Dalam studinya yang mengenai Global Photovoltaic Power Potential by Country yang dikeluarkan pada Juni 2020, memberikan gambaran mengenai radiasi matahari dan potensi produksi listrik photovoltaic di berbagai wilayah dunia. Untuk Indonesia, rata-rata Global Horizontal Irradiation atau GHI berada sekitar 4,6 kWh per meter persegi per hari, sementara potensi produksi listrik photovoltaic atau PVOUT berada di kisaran 3,8 kWh per kWp per hari.

Di ASEAN, PVOUT Indonesia sedikit di atas Vietnam yang sekitar 3,55 kWh dan Malaysia 3,74 kWh. Filipina berada di kisaran 3,93 kWh, sedangkan Thailand sekitar 4,06 kWh/kWp per hari.

Gambar : Potensi Produksi Listrik Photovoltaic di beberapa Negara (Sumber: Global Solar Atlas)
Gambar : Potensi Produksi Listrik Photovoltaic di beberapa Negara (Sumber: Global Solar Atlas)

 

Angka ini tentu berbeda antarwilayah karena dipengaruhi kondisi geografis, cuaca dan karakteristik lokasi. Namun secara umum, peta tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya surya yang besar dan tersebar. Artinya, peluangnya bukan hanya berada di satu wilayah atau satu proyek besar.

Dari Cirata di Jawa Barat hingga Gilimanuk di Bali

Pengembangan PLTS Indonesia sebenarnya sudah berjalan dari beberapa tahun yang lalu. Salah satu proyek yang paling dikenal adalah PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat dengan kapasitas 192 MWp. Proyek ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Pembangkit yang mulai beroperasi pada 2023 ini menunjukkan bahwa energi surya juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan permukaan waduk.

Ada pula PLTS Likupang di Sulawesi Utara berkapasitas sekitar 21 MWp dan PLTS Kupang di Nusa Tenggara Timur sebesar 5 MWp. Kini skalanya mulai bergerak lebih besar. Proyek Gilimanuk 300 MWp menjadi bagian dari program 100 GWp yang dicanangkan pemerintah. Jika target tersebut dapat berjalan sesuai rencana, energi surya akan memiliki ruang yang jauh lebih besar dalam sistem energi nasional.

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara ASEAN, kapasitas PLTS Indonesia masih relatif kecil. Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina telah mengembangkan tenaga surya dalam kapasitas yang lebih besar.

Namun justru di situlah peluang Indonesia. Kita masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas. Yang dibutuhkan bukan sekadar membangun pembangkit besar. PLTS dapat berkembang dari berbagai skala: dari atap rumah, fasilitas publik, kawasan industri hingga pembangkit berskala ratusan megawatt. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan juga membuka peluang lain.

Daerah 3T dan Pengembangan Kawasan Ekonomi Baru 

Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) menjadi salah satu ruang yang menarik untuk pengembangan PLTS. Di pulau-pulau kecil dan daerah terpencil, penyediaan listrik sering menghadapi tantangan jarak, keterbatasan jaringan, serta biaya distribusi bahan bakar yang tidak sederhana. Bahkan, sejumlah daerah masih sangat bergantung pada pasokan BBM dari wilayah lain untuk mengoperasikan pembangkit listrik. Ketika cuaca buruk menghambat transportasi laut maupun udara, distribusi BBM pun dapat ikut terganggu. Dalam kondisi seperti ini, pengembangan PLTS yang dipadukan dengan baterai bukan hanya menjadi pilihan energi terbarukan, tetapi juga peluang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi di daerah.

Manfaatnya pun tidak berhenti pada penerangan rumah. Listrik dari PLTS dapat mendukung cold storage dan mesin pembuat es bagi nelayan, pompa air untuk pertanian, pengolahan hasil perkebunan, hingga kebutuhan sekolah, fasilitas kesehatan dan usaha kecil masyarakat. Dengan begitu, kehadiran energi dapat ikut membuka ruang bagi kegiatan ekonomi yang sebelumnya sulit berkembang karena keterbatasan listrik.

Peluang serupa juga terbuka dalam pengembangan kawasan ekonomi baru. Ketika kawasan industri, pariwisata, pertanian modern, perikanan atau pusat pertumbuhan baru mulai dirancang, kebutuhan energi dapat menjadi bagian dari perencanaannya sejak awal. PLTS dapat ditempatkan di atap bangunan, fasilitas publik, area usaha maupun dikembangkan dalam skala pembangkit kawasan. Dengan pendekatan ini, energi terbarukan bukan sekadar tambahan, tetapi dapat menjadi bagian dari infrastruktur yang menopang pertumbuhan kawasan.

Pengembangan kawasan baru juga memberikan kesempatan untuk membangun sistem energi yang lebih modern sejak awal. Kawasan yang memiliki potensi surya dapat menggabungkan PLTS, baterai dan jaringan listrik untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Selain membantu efisiensi penggunaan energi, langkah ini dapat membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Pada akhirnya, pengembangan energi terbarukan dan pembangunan kawasan ekonomi dapat berjalan beriringan, sehingga pertumbuhan daerah tidak hanya membutuhkan lebih banyak energi, tetapi juga mulai memiliki sumber energi yang lebih beragam.

Potensi yang Menunggu Langkah Nyata

Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak modal. Sumber dayanya tersedia, teknologinya semakin berkembang dan kebutuhan listrik terus meningkat.

Peluncuran program PLTS 100 GWp di Bali memberikan momentum baru. Tantangannya sekarang adalah bagaimana momentum tersebut diterjemahkan menjadi semakin banyak proyek nyata di berbagai daerah.

Tidak harus selalu dimulai dari proyek raksasa. Bisa dari satu rumah, satu sekolah, satu desa, pabrik, industri, satu pulau hingga satu kawasan ekonomi baru. Dari yang kecil kemudian berkembang.

Indonesia memiliki sumber energi yang tersedia hampir setiap hari. Kini tinggal bagaimana kita semakin cepat mengubah potensi tersebut menjadi listrik, menggerakkan ekonomi dan membuka peluang baru di berbagai wilayah. Potensinya sudah ada. Sekarang tinggal mempercepat langkah untuk memanfaatkannya.