(Beritadaerah-Kolom) Ketika membicarakan produksi kehutanan Indonesia, perhatian sering kali tertuju pada Sumatera dan Kalimantan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kedua pulau tersebut memang mendominasi produksi kayu bulat nasional. Namun, Jawa memiliki cerita yang berbeda. Dengan produksi kayu bulat sebesar 5,53 juta m³ pada 2025, Jawa menyumbang sekitar 8,93 persen dari total produksi nasional yang mencapai 61,90 juta m³.
Angka tersebut membuat Jawa berada jauh di bawah Sumatera yang menghasilkan 42,76 juta m³ dan Kalimantan yang mencapai 11,19 juta m³. Tetapi melihat Jawa hanya dari besarnya produksi kayu bulat akan membuat gambaran kehutanan pulau ini menjadi terlalu sederhana. Struktur produksinya justru menunjukkan karakter yang khas: kayu bulat didominasi kelompok rimba campuran dan kelompok indah, sementara hasil hutan bukan kayu memperlihatkan peran yang jauh lebih beragam.
Rimba campuran menjadi tulang punggung produksi kayu Jawa
Dari total 5,53 juta m³ kayu bulat yang diproduksi di Jawa sepanjang 2025, sekitar 4,82 juta m³ berasal dari kelompok rimba campuran. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 87,13 persen produksi kayu bulat Jawa. Kelompok indah menyumbang sekitar 490,25 ribu m³ atau 8,87 persen. Sementara itu, akasia hanya sekitar 84,58 ribu m³, kelompok meranti 18,46 ribu m³, dan jenis lainnya sekitar 118,36 ribu m³.
Komposisi tersebut sangat berbeda dengan Sumatera. Di Sumatera, produksi kayu bulat terutama berasal dari akasia dan rimba campuran. Di Jawa, kedua kelompok yang paling dominan justru rimba campuran dan kelompok indah, yang secara bersama-sama mencapai 96 persen produksi kayu bulat pulau tersebut atau sekitar 5,31 juta m³.
Perbedaan ini penting karena menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki struktur kehutanan dan basis produksi yang berbeda. Jawa bukan sekadar versi lebih kecil dari pusat produksi kayu di Sumatera atau Kalimantan. Pola produksinya memiliki karakter sendiri.
Produksi Jawa justru menguat pada paruh kedua tahun
Pergerakan produksi sepanjang 2025 juga menarik untuk diperhatikan. Produksi kayu bulat Jawa meningkat cukup konsisten dari 940,31 ribu m³ pada triwulan pertama menjadi 1,10 juta m³ pada triwulan kedua. Pada triwulan ketiga produksinya melonjak menjadi 1,69 juta m³ dan kembali meningkat menjadi 1,79 juta m³ pada triwulan keempat. Dengan demikian, produksi semester kedua jauh lebih tinggi dibandingkan semester pertama.
Pola tersebut sejalan dengan kecenderungan nasional. Secara keseluruhan, produksi kayu bulat Indonesia meningkat dari 13,76 juta m³ pada triwulan pertama menjadi 17,47 juta m³ pada triwulan keempat. BPS mencatat bahwa produksi pada semester kedua lebih tinggi dibandingkan semester pertama, yang mengindikasikan meningkatnya aktivitas pemanenan kayu pada paruh akhir 2025.
Bagi Jawa, peningkatan tersebut terutama terlihat pada kelompok rimba campuran. Produksinya naik dari sekitar 781,73 ribu m³ pada triwulan pertama menjadi 953,24 ribu m³ pada triwulan kedua, kemudian meningkat tajam menjadi 1,49 juta m³ pada triwulan ketiga dan 1,59 juta m³ pada triwulan keempat.
Kayu Jawa tidak berhenti sebagai kayu bulat
Karakter kehutanan Jawa semakin terlihat ketika produksi kayu olahan diperhatikan. BPS mencatat bahwa produk kayu olahan yang paling banyak dihasilkan di Jawa pada 2025 adalah kayu lapis, kayu gergajian, veneer, wood working, dan barecore.
Angkanya menunjukkan adanya aktivitas pengolahan yang cukup beragam. Produksi kayu lapis mencapai sekitar 2,73 juta m³, kayu gergajian sekitar 1,88 juta m³, veneer sekitar 910,83 ribu m³, wood working sekitar 104,15 ribu m³, dan barecore sekitar 93,99 ribu m³. Selain itu terdapat sekitar 212,97 ribu m³ produk kayu olahan lainnya dan sekitar 577,44 ribu m³ chip dan partikel/serpih kayu.
Dengan demikian, cerita kehutanan Jawa bukan hanya mengenai berapa banyak kayu yang ditebang dan diproduksi. Ada rantai pengolahan yang mengubah bahan baku tersebut menjadi berbagai produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Hal ini menjadi semakin relevan bagi Jawa karena pulau ini memiliki basis industri dan pasar yang besar. Namun, publikasi BPS yang menjadi sumber tulisan ini berfokus pada statistik produksi kehutanan dan tidak secara khusus mengukur nilai ekonomi, nilai ekspor, jumlah tenaga kerja, maupun kontribusi industri pengolahan kayu Jawa terhadap perekonomian pulau tersebut. Karena itu, data produksi sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai ukuran nilai ekonomi tanpa data tambahan.
Hutan Jawa menghasilkan lebih dari sekadar kayu
Salah satu bagian paling menarik dari statistik kehutanan Jawa justru terdapat pada hasil hutan bukan kayu atau HHBK.
Pada 2025, Jawa menghasilkan berbagai jenis HHBK, antara lain bambu, gula aren, getah pinus, getah karet hutan, buah-buahan, umbi-umbian, madu, daun kayu putih, rotan, dan produk lainnya.
Bahkan pada sejumlah komoditas, Jawa menjadi pulau dengan produksi terbesar. Produksi bambu di Jawa mencapai sekitar 15 juta batang. Produksi gula aren tercatat sekitar 401,72 ribu liter, getah pinus sekitar 80,33 ribu ton, getah karet hutan sekitar 59,83 ribu ton, buah-buahan sekitar 3.760,96 ton, umbi-umbian sekitar 15.215,81 ton, madu 146,57 ton, dan daun kayu putih sekitar 3.119,04 ton.
Angka-angka ini memperlihatkan bahwa hutan Jawa memiliki fungsi ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan kayu. Bambu, getah, buah-buahan, umbi-umbian, madu hingga daun kayu putih merupakan bagian dari aktivitas ekonomi yang memanfaatkan sumber daya hutan tanpa bergantung sepenuhnya pada kayu.
Dalam konteks inilah kehutanan Jawa menjadi menarik. Produksi kayu bulatnya memang tidak sebesar Sumatera dan Kalimantan, tetapi struktur hasil hutannya lebih beragam. Ada kayu bulat, kayu olahan, sekaligus berbagai hasil hutan bukan kayu.
Dari produksi menuju nilai tambah
Data 2025 memberikan satu pesan penting: ukuran keberhasilan sektor kehutanan tidak seharusnya hanya dilihat dari volume kayu bulat.
Jawa menghasilkan 5,53 juta m³ kayu bulat, tetapi pada saat yang sama juga memiliki aktivitas pengolahan kayu yang menghasilkan plywood, sawn timber, veneer, wood working dan barecore. Di luar kayu, pulau ini juga menghasilkan jutaan batang bambu serta berbagai komoditas hasil hutan bukan kayu dalam jumlah besar.
Artinya, potensi kehutanan Jawa terletak bukan semata-mata pada luas atau volume hutannya, melainkan pada bagaimana berbagai hasil tersebut dapat dikelola menjadi rantai nilai yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan fungsi hutan.
BPS sendiri menempatkan pemanfaatan hutan dalam kerangka yang lebih luas, yakni pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan, hasil hutan kayu dan bukan kayu, termasuk pengolahan dan pemasaran hasil hutan secara optimal dan adil untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian hutan.
Kerangka tersebut menjadi sangat relevan bagi Jawa. Dengan tekanan kebutuhan ruang, penduduk, industri dan pembangunan yang tinggi, kehutanan Jawa tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Yang lebih penting adalah bagaimana produksi tersebut menghasilkan nilai tambah, menciptakan manfaat bagi masyarakat, dan tetap menjaga fungsi ekologis hutan.
Jawa memiliki cerita kehutanan yang berbeda
Jika Sumatera menggambarkan kekuatan produksi kayu bulat berskala besar dan Kalimantan tetap menjadi salah satu pusat produksi penting, Jawa memperlihatkan model yang berbeda. Produksi kayu bulatnya mencapai 8,93 persen dari produksi nasional, tetapi 96 persen produksinya terkonsentrasi pada kelompok rimba campuran dan kelompok indah.
Di sisi hilir, kayu tersebut masuk ke berbagai bentuk pengolahan, terutama kayu lapis, kayu gergajian, veneer, wood working dan barecore. Sementara di luar kayu, Jawa memiliki basis produksi HHBK yang kuat, terutama bambu, gula aren, getah pinus, getah karet hutan, buah-buahan, umbi-umbian, madu dan daun kayu putih.
Karena itu, membaca kehutanan Jawa hanya dari angka 5,53 juta m³ kayu bulat akan kehilangan sebagian besar ceritanya. Di balik angka tersebut terdapat sistem produksi yang mencakup kayu, industri pengolahan dan hasil hutan bukan kayu.
Tantangan Jawa bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak dari hutan, tetapi bagaimana menghasilkan nilai yang lebih besar dari setiap sumber daya yang tersedia tanpa mengorbankan keberlanjutan. Di situlah masa depan kehutanan Jawa kemungkinan akan ditentukan: bukan pada seberapa banyak hutan menghasilkan, tetapi pada seberapa baik hasil tersebut dikelola menjadi nilai ekonomi, sosial dan lingkungan yang berjalan bersama.


