(Beritadaerah-Kupang) Pantai Lasiana merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tempat ini kerap menjadi ruang berkumpul anak muda yang ingin bersantai sambil menikmati keindahan matahari terbenam. Suasana pantainya tenang, dipadu deretan pohon lontar dan pepohonan rindang, menghadirkan nuansa damai bagi setiap pengunjung.
Namun, daya tarik Pantai Lasiana tidak berhenti pada keindahan alamnya. Kawasan ini juga menyimpan nilai edukasi yang kuat. Di sisi liain, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan kapal kayu tradisional. Pembuatan kapal kayu nelayan merupakan warisan keterampilan yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Kapal yang dibuat di kawasan ini umumnya memiliki panjang sekitar 19 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 1,5 meter, tergolong sebagai kapal nelayan skala menengah yang digunakan untuk melaut hingga jarak yang cukup jauh. Proses pembuatannya tidak sekadar pekerjaan teknis, melainkan perpaduan antara pengalaman, ketelitian, dan naluri para pengrajin. Mereka harus memperhitungkan keseimbangan kapal, kekuatan struktur, hingga nilai ekonomisnya sebelum kapal benar-benar siap digunakan.
Dalam kondisi normal, pembuatan satu unit kapal nelayan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Lamanya proses ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku serta kondisi cuaca yang dapat memengaruhi pekerjaan di lapangan.
Proses Pembuatan Kapal Nelayan
Pembuatan kapal diawali dengan tahap perencanaan yang matang. Para pengrajin terlebih dahulu menentukan ukuran dan bentuk kapal sesuai kebutuhan. Dengan panjang sekitar 19 meter, lebar 4 meter, dan tinggi lambung 1,5 meter, desain kapal dirancang agar mampu menghadapi gelombang laut sekaligus menampung hasil tangkapan dalam jumlah besar tanpa mengorbankan stabilitas.
Setelah desain ditetapkan, proses berlanjut pada pemilihan bahan kayu. Tidak sembarang kayu digunakan, melainkan jenis-jenis yang dikenal kuat dan tahan terhadap air laut seperti jati, merbau, dan ulin. Ketepatan dalam memilih bahan ini menjadi fondasi utama agar kapal tidak mudah rusak dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama.

Tahap berikutnya adalah pembuatan rangka kapal. Pada fase ini, pengrajin mulai memasang lunas sebagai dasar kapal, diikuti dengan pemasangan gading-gading yang berfungsi sebagai tulang struktur. Perlahan, bentuk kapal mulai terlihat saat bagian haluan dan buritan dibentuk dengan presisi tinggi. Tahap ini menjadi penentu utama kekuatan dan karakter kapal secara keseluruhan.
Setelah rangka selesai, papan-papan kayu dipasang mengikuti bentuk kerangka. Pemasangan dilakukan dengan sangat rapat menggunakan paku atau pasak, sehingga tidak menyisakan celah yang dapat menyebabkan kebocoran. Namun demikian, celah-celah kecil yang masih ada kemudian disempurnakan melalui proses pengedapan.

Pada tahap pengedapan, celah antara papan satu dan lain ditutup menggunakan bahan alami seperti sabut kelapa yang dipadukan dengan damar atau resin. Proses ini memastikan kapal benar-benar kedap air dan siap menghadapi tekanan dari luar saat berada di laut.
Selanjutnya, kapal memasuki tahap finishing. Permukaan kapal dilapisi cat khusus anti air serta bahan pelindung dari rayap dan jamur. Tahap ini tidak hanya memperindah tampilan kapal, tetapi juga berfungsi penting dalam memperpanjang usia pakainya.
Setelah itu, kapal dilengkapi dengan berbagai perlengkapan penunjang. Mesin diesel dipasang sebagai sumber tenaga utama, sementara ruang penyimpanan ikan dan peralatan tangkap seperti jaring juga disiapkan sesuai kebutuhan nelayan.

Sebelum benar-benar digunakan, kapal akan melalui tahap uji coba di laut. Pengujian ini bertujuan memastikan kapal dalam kondisi stabil, tidak mengalami kebocoran, serta mesin dapat berfungsi dengan baik. Jika semua aspek telah memenuhi standar, kapal pun siap diluncurkan dan digunakan untuk melaut.
Pantai Lasiana bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang hidup yang mencerminkan budaya maritim Indonesia. Proses pembuatan kapal kayu yang dapat disaksikan secara langsung memberikan pemahaman tentang kerja keras, ketelitian, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari proses pembuatan kapal kayu ini, generasi saat ini diharapkan dapat lebih menghargai budaya maritim Indonesia sekaligus memahami pentingnya peran nelayan dalam kehidupan masyarakat pesisir.


