Ilustrasi Petani yang tengah memanen jagung. (Foto: Humas Badan Pangan Nasional)

Produksi Komoditas Jagung Diproyeksi Naik 1,43 Persen pada 2026

(Beritadaerah – Komoditi) Produksi komoditas jagung nasional diperkirakan mencapai 16,39 juta ton sepanjang 2026, meningkat 1,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi perkembangan positif bagi pasokan jagung dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak dan pangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen selama Januari–September 2026 diperkirakan mencapai 13,16 juta ton, naik 2,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, produksi Oktober–Desember 2026 diproyeksikan sebesar 3,23 juta ton.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Peningkatan produksi jagung terjadi di tengah perkembangan produksi padi yang justru diperkirakan mengalami penurunan. Sepanjang Januari–Desember 2026, produksi padi nasional diproyeksikan mencapai 57,45 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 4,57 persen dibandingkan 2025.

Penurunan tersebut sejalan dengan menyusutnya luas panen padi yang diperkirakan mencapai 10,78 juta hektare, atau turun 4,80 persen secara tahunan. Dampaknya, produksi beras untuk konsumsi masyarakat juga diproyeksikan turun 4,57 persen menjadi 33,11 juta ton.

BPS menjelaskan, kondisi cuaca turut memengaruhi perkembangan pertanaman padi. Berdasarkan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada September 2026. Selain itu, potensi serangan hama, banjir, kekeringan, dan perubahan waktu panen masih dapat memengaruhi realisasi produksi hingga akhir tahun.

Untuk jagung, luas panen sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 2,71 juta hektare. Angka ini relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun potensi luas panen pada Oktober–Desember diproyeksikan turun 7,30 persen.

Perbedaan arah produksi padi dan jagung tersebut menjadi perhatian dalam menjaga keseimbangan pasokan pangan nasional. Peningkatan produksi jagung diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri pakan dan peternakan, sekaligus memperkuat ketersediaan bahan baku di dalam negeri.