Unggas

Sepuluh Provinsi dengan Omzet Industri Unggas Terbesar di Indonesia

(Beritadaerah-Kolom) Jumlah perusahaan tidak selalu menceritakan ukuran sebuah industri. Ada provinsi yang memiliki banyak perusahaan, tetapi ada pula yang jumlah perusahaannya lebih sedikit namun menghasilkan nilai produksi yang jauh lebih besar.Jika industri unggas Indonesia dibayangkan sebagai sebuah peta ekonomi, maka pusat gravitasinya terlihat sangat jelas. Pada 2025, perusahaan peternakan unggas di Indonesia menghasilkan nilai produksi dan penerimaan lain sebesar Rp49,82 triliun. Dari angka sebesar itu, hampir seluruhnya terkonsentrasi pada sejumlah provinsi utama.

Jawa Barat berada di kelasnya sendiri.

Dengan nilai produksi dan penerimaan mencapai Rp13,27 triliun, Jawa Barat menjadi provinsi dengan industri unggas terbesar di Indonesia. Nilai tersebut berasal dari produksi utama sebesar Rp11,27 triliun, produksi lainnya Rp1,15 triliun, dan penerimaan lain Rp853,56 miliar. Angka Rp13,27 triliun ini menarik jika dibandingkan dengan jumlah perusahaan. Jawa Barat memiliki 242 perusahaan—jumlah tertinggi di Indonesia. Dengan kata lain, provinsi ini bukan hanya memiliki banyak perusahaan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar.

Jawa Timur mengikuti dari belakang.

Dengan Rp9,26 triliun, Jawa Timur menempati posisi kedua. Nilai produksi utamanya mencapai Rp8,31 triliun, sementara produksi lainnya mencapai Rp650,96 miliar dan penerimaan lain Rp303,33 miliar.Jarak dengan Jawa Barat memang cukup besar, tetapi Jawa Timur tetap menunjukkan bahwa kekuatan industri unggas Indonesia tidak hanya berada di sekitar Jakarta dan Jawa bagian barat. Jawa Timur merupakan sebuah pusat produksi tersendiri dengan skala ekonomi miliaran bahkan triliunan rupiah.

Banten berada di posisi ketiga.

Provinsi yang hanya berjarak sangat dekat dari pusat ekonomi nasional ini mencatat nilai produksi sebesar Rp5,49 triliun. Produksi utama menyumbang Rp5,32 triliun, sedangkan produksi lainnya Rp156,65 miliar.Banten memperlihatkan hubungan menarik antara produksi dan pasar. Letaknya yang dekat dengan kawasan metropolitan memberikan akses terhadap basis konsumen yang sangat besar. Tidak mengherankan jika industri unggas tumbuh menjadi salah satu aktivitas ekonomi penting di wilayah tersebut.

Jawa Tengah menempati urutan keempat dengan Rp3,96 triliun.

Nilai produksi utama Jawa Tengah mencapai Rp3,33 triliun, ditambah produksi lainnya hampir Rp199 miliar dan penerimaan lain sekitar Rp438 miliar.Jika empat provinsi teratas digabungkan, nilainya mencapai sekitar Rp31,98 triliun. Itu berarti empat provinsi saja menyumbang sekitar 64 persen dari total nilai produksi dan penerimaan industri unggas nasional.

Lampung menjadi kejutan dari luar Jawa.

Dengan Rp3,63 triliun, Lampung berada di posisi kelima. Provinsi ini bahkan menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan beberapa provinsi di Pulau Jawa. Produksi utama Lampung mencapai Rp3,36 triliun, sementara penerimaan lain mencapai sekitar Rp200,65 miliar.Lampung memperlihatkan bahwa industri unggas Indonesia memiliki pusat penting di luar Jawa. Secara geografis, posisinya juga menarik: menjadi salah satu pintu gerbang utama Sumatra menuju Jawa.

Sumatera Utara berada di posisi keenam dengan Rp2,64 triliun.

Provinsi ini mencatat produksi utama sekitar Rp2,52 triliun, produksi lainnya Rp95,23 miliar dan penerimaan lain Rp17,88 miliar.Sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Sumatra, Sumatera Utara memiliki pasar regional yang besar. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri unggas di Sumatra bagian utara telah memiliki skala yang signifikan.

Sumatera Selatan menyusul dengan Rp2,35 triliun.

Nilai tersebut terutama berasal dari produksi utama sebesar Rp2,26 triliun. Produksi lainnya mencapai Rp81,73 miliar dan penerimaan lain sekitar Rp12,43 miliar.Jika Sumatera Utara dan Sumatera Selatan digabungkan, kedua provinsi tersebut menghasilkan hampir Rp5 triliun. Ini menunjukkan bahwa Sumatra bukan sekadar pasar tambahan bagi industri unggas nasional, tetapi memiliki pusat produksi sendiri dengan skala ekonomi yang besar.

Jawa Tengah memang berada di empat besar, tetapi provinsi lain mulai mengejar dari belakang.

Di urutan berikutnya terdapat Sulawesi Selatan dengan Rp1,54 triliun. Provinsi ini menjadi salah satu pusat industri unggas terbesar di kawasan Indonesia timur. Produksi utamanya mencapai Rp1,17 triliun dan penerimaan lainnya sekitar Rp286,53 miliar.Kemudian Kalimantan Selatan mencatat Rp1,02 triliun. Nilai produksi utamanya mencapai Rp864,24 miliar, sementara penerimaan lain mencapai Rp124,51 miliar.Dan posisi kesepuluh ditempati Bali dengan Rp802,53 miliar. Menariknya, nilai tersebut cukup besar meskipun jumlah perusahaan di Bali jauh lebih sedikit dibandingkan pusat-pusat utama di Jawa.

Table Sepuluh Besar  Provinsi Dengan Omzet Industri Unggas Terbesar

Peringkat Provinsi Omzet
1 Jawa Barat Rp13,27 triliun
2 Jawa Timur Rp9,26 triliun
3 Banten Rp5,49 triliun
4 Jawa Tengah Rp3,96 triliun
5 Lampung Rp3,63 triliun
6 Sumatera Utara Rp2,64 triliun
7 Sumatera Selatan Rp2,35 triliun
8 Sulawesi Selatan Rp1,54 triliun
9 Kalimantan Selatan Rp1,02 triliun
10 Bali Rp802,53 miliar

Sumber : BPS

Data tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar ranking. Industri unggas Indonesia sangat terkonsentrasi. Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Jawa Tengah saja menghasilkan sekitar Rp31,98 triliun, atau hampir dua pertiga dari total nasional. Namun ketika kita melihat sisi keuntungan, ceritanya menjadi sedikit berbeda.

Jawa Barat mencatat laba sekitar Rp5,76 triliun, sedangkan Jawa Timur sekitar Rp5,18 triliun. Lampung menghasilkan laba sekitar Rp2,27 triliun dan Jawa Tengah Rp2,12 triliun. Banten, meskipun berada di posisi ketiga dalam nilai produksi, mencatat laba sekitar Rp1,96 triliun.Secara nasional, perusahaan peternakan unggas menghasilkan laba agregat sekitar Rp24,51 triliun pada 2025, berdasarkan selisih antara nilai produksi dan pengeluaran yang dicatat BPS.

Di sinilah peta industri unggas menjadi semakin menarik

Jumlah perusahaan menunjukkan seberapa banyak pelaku usaha yang ada di sebuah wilayah. Nilai produksi menunjukkan seberapa besar aktivitas ekonominya. Sementara laba menunjukkan seberapa efektif aktivitas tersebut menghasilkan nilai setelah biaya produksi diperhitungkan.Karena itu, Jawa Barat bukan hanya menjadi provinsi dengan perusahaan unggas terbanyak. Ia juga menjadi pusat dengan nilai produksi dan laba terbesar. Jawa Timur memiliki pola yang hampir sama. Sementara Lampung menunjukkan bahwa sebuah provinsi di luar Jawa dapat masuk ke kelompok elite industri unggas nasional.

Dan di balik seluruh angka tersebut terdapat satu biaya yang sangat menentukan, pakan. Pada 2025, pakan menyerap 64,26 persen dari total pengeluaran perusahaan peternakan unggas. Upah pekerja mencapai 10,41 persen dan pembelian DOC sekitar 9,81 persen.Artinya, ketika kita berbicara tentang industri unggas, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang lebih dari sekadar ayam dan telur. Kita sedang berbicara tentang jagung dan bahan baku pakan, tenaga kerja, energi, transportasi, investasi, pembibitan, distribusi, pasar konsumen, hingga ketahanan pangan.

Sepuluh provinsi ini pada akhirnya bukan hanya daftar angka.

Mereka adalah sepuluh pusat ekonomi yang membuat industri unggas Indonesia terus bergerak. Dari kandang di Jawa Barat sampai peternakan di Sulawesi Selatan, dari Lampung sampai Kalimantan Selatan, terdapat sebuah jaringan produksi yang setiap hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan Indonesia.Dan jika Rp49,82 triliun adalah ukuran keseluruhan mesin itu, maka sepuluh provinsi teratas memperlihatkan di mana mesin tersebut berputar paling cepat.