(Berita Daerah-Pontianak)Menghadapi peningkatan kebutuhan pangan masyarakat pada Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Barat mengandalkan program unggulan “Geraiku” sebagai senjata utama mengendalikan harga komoditas peternakan.
Kepala Disbunnak Provinsi Kalbar, Ignasius, mengakui bahwa tren kenaikan harga di momen Hari-Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) seperti Ramadhan memang tidak bisa dihindari. Namun, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus melalui Geraiku untuk meredam gejolak harga di pasaran.
“Ini nggak bisa dihindari, karena kebutuhan itu seringkali meningkat sekian kali lipat. Tapi kami punya terobosan dengan menyediakan Geraiku,” ujarnya dalam wawancara, Jumat (26/4).
Geraiku, menurut Ignasius, menjadi andalan Disbunnak karena menjual telur langsung di harga tingkat peternak, tanpa rantai distribusi yang memicu kenaikan harga. Program ini juga diperluas dengan menyediakan daging beku yang telah melalui proses higienis dan bersertifikat halal.
“Geraiku ini menyediakan telur dengan harga di tingkat peternak, bukan harga setelah keluar dari peternak. Ini paling tidak membantu masyarakat untuk mengurangi beban dan mengendalikan harga,” jelas Ignasius.
“Kami juga menyiapkan daging beku melalui proses yang higienis dan sesuai syariat agama. Produk kita halal semua dan mengalami proses sesuai ketentuan perundangan,” tegasnya.
Ignasius menuturkan, Geraiku menjadi ujung tombak intervensi pasar karena menjual kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dibanding pedagang umum. Meski demikian, ia mengakui bahwa produksi lokal terkadang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.
Dalam situasi tersebut, Disbunnak tidak memiliki pilihan lain selain mendatangkan pasokan dari luar Kalbar, terutama untuk komoditas daging. Namun, Ignasius menekankan bahwa pihaknya lebih mengutamakan peningkatan produksi lokal melalui imbauan kepada peternak jauh-jauh hari.
“Jauh-jauh hari sudah kita himbau teman-teman untuk antisipasi, menjaga ketersediaan. Jangan sampai harga tinggi, barang tidak ada. Lebih mending harga agak naik sedikit, tapi barangnya tersedia dan masyarakat masih bisa mendapatkan,” pungkasnya.


