(Beritadaerah-Nasional) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama 30 pemerintah daerah mempercepat pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai upaya memperluas pemerataan pendidikan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia. Program ini diprioritaskan untuk meningkatkan akses pendidikan unggulan, terutama di daerah yang masih memiliki keterbatasan sekolah negeri bermutu pada jenjang SMP dan SMA.
Percepatan program ditandai dengan penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) serta Berita Acara Serah Terima (BAST) lahan pembangunan SNT di Tangerang. Langkah tersebut menjadi bagian dari kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam menyiapkan infrastruktur pendidikan yang berkelanjutan.
Data Kemendikdasmen menunjukkan pemerataan mutu pendidikan masih menjadi tantangan. Dari 7.288 kecamatan di Indonesia, hanya sekitar 263 kecamatan yang memiliki SMP dan SMA negeri dengan kualitas pendidikan yang sama-sama baik. Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah memperluas pembangunan SNT sebagai pusat layanan pendidikan unggulan di berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa hibah lahan dari pemerintah daerah merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kawasan sekolah yang dibangun nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar bagi peserta didik, tetapi juga menjadi pusat pengembangan mutu pendidikan, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan kualitas sekolah-sekolah di sekitarnya.
Sebanyak 16 pemerintah daerah telah menyelesaikan penandatanganan NPHD dan BAST sebagai tahap awal pembangunan sekolah, sementara 14 daerah lainnya menandatangani komitmen untuk mempercepat penyelesaian hibah lahan beserta dokumen pendukung. Dengan demikian, total 30 pemerintah daerah telah bergabung dalam program percepatan pembangunan SNT.
Daerah yang telah menyerahkan hibah lahan meliputi Kabupaten Sumba Tengah, Buton Tengah, Sigi, Gayo Lues, Aceh Jaya, Dharmasraya, Tulang Bawang, Karo, Purbalingga, Tanjung Jabung Timur, Jepara, Tebo, Bangka Tengah, Sambas, Tasikmalaya, serta Kota Subulussalam.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa SNT dirancang sebagai sekolah negeri yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pembelajaran berkesinambungan. Seluruh biaya pendidikan akan ditanggung pemerintah, sementara penyelenggaraannya tidak menggunakan sistem asrama.
Selain memberikan layanan pendidikan, SNT juga dipersiapkan sebagai pusat pengembangan kompetensi guru, inovasi pembelajaran, serta penguatan mutu sekolah di wilayah sekitarnya. Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan pembangunan SNT di 37 kabupaten dan kota, dengan 17 lokasi mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027. Program ini menjadi bagian dari target pembangunan 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi secara bertahap hingga 2029.
Ke depan, SNT akan menerapkan kurikulum nasional melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam berbasis STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports). Sekolah juga akan dilengkapi fasilitas pembelajaran modern serta Teaching and Learning Center sebagai pusat peningkatan kompetensi guru dan kolaborasi antar-satuan pendidikan.
Setelah penandatanganan hibah lahan, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah akan mempercepat proses pematangan lokasi, penyelesaian legalitas, perizinan, hingga pembangunan sekolah melalui skema multiyears. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan pendidikan berkualitas sekaligus mendukung lahirnya sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.


