(Beritadaerah – Kolom) Di sebuah sore yang lengang di Sulawesi bagian tengah, seorang anak bernama Raka duduk di beranda rumah panggung keluarganya memegang ponsel digital. Angin membawa aroma kakao dari kebun yang diolah ayahnya, sementara cahaya matahari sore berkilau di daun-daun yang basah karena hujan singkat. Di tangannya, sebuah ponsel sederhana menyala untuk pertama kalinya dengan sinyal yang stabil. Raka menatap layar itu dengan rasa kagum, karena baru beberapa minggu lalu desa mereka mendapatkan akses internet berkat satelit yang diluncurkan pemerintah untuk wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal.
Selama bertahun-tahun Raka belajar hanya dari buku-buku lusuh yang diwariskan kakaknya. Ketika guru di sekolah bercerita tentang anak-anak kota yang bisa belajar melalui video daring, ia hanya bisa membayangkan. Kini, angka statistik yang biasanya jauh dari kehidupannya menjadi nyata. Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia sudah terhubung internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada tahun sebelumnya. Di beranda rumah sederhana itu, Raka menyadari bahwa dirinya kini termasuk bagian dari persentase tersebut.
Telepon kabel yang pernah menjadi simbol komunikasi bagi generasi sebelumnya sudah lama hilang dari desa itu. Hanya tersisa satu di kantor desa, berdebu dan jarang tersentuh. Data menunjukkan bahwa pada 2024 hanya 0,99 persen rumah tangga di Indonesia yang masih memiliki telepon kabel, dan jumlah itu terus menurun setiap tahun. Raka tersenyum kecil ketika ayahnya bercerita bagaimana dulu menunggu lama di depan warung telepon untuk menghubungi kerabat. Kini dengan sekali sentuhan, suara bisa terdengar seketika, meskipun kualitas sinyal masih naik turun.
Kehidupan di kota berbeda jauh. Ratusan kilometer dari desa Raka, seorang pemuda bernama Nara duduk di apartemennya di Jakarta. Usianya 27 tahun, lulusan perguruan tinggi ternama, bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan teknologi. Meja kerjanya penuh dengan perangkat modern, laptop dengan spesifikasi tinggi, tablet untuk membaca laporan, dan ponsel pintar terbaru yang terus berbunyi dengan notifikasi. Hidupnya sepenuhnya digital, dari belanja kebutuhan sehari-hari, mengikuti kelas olahraga daring, hingga mengatur investasi. Bagi Nara, internet bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan tulang punggung kehidupannya.
Statistik memperlihatkan adanya jurang yang lebar antara kota dan desa. Di daerah perkotaan, 79,13 persen penduduk sudah mengakses internet pada 2024, sementara di desa baru 63,71 persen. Perbedaan itu tidak hanya angka di kertas, tetapi kenyataan yang dialami Raka dan Nara setiap hari. Raka harus bergantian memakai ponsel ayahnya untuk mengerjakan tugas, sementara Nara bahkan memiliki dua ponsel agar urusan pribadi dan pekerjaan tidak bercampur.
Ayah Raka tidak memiliki komputer. Menurut data, hanya 18,52 persen rumah tangga Indonesia yang memiliki komputer pada 2024. Sebagian besar ada di kota, sementara di desa seperti tempat Raka tinggal, angka itu lebih rendah. Meski begitu, ia tetap bersemangat belajar. Dengan ponsel sederhana dan akses internet yang baru hadir, ia mencari video pembelajaran fisika dasar, membaca artikel tentang pertanian modern, dan mencoba memahami dunia yang sebelumnya hanya ia dengar dari cerita.
Nara, dengan segala kemewahan digitalnya, justru sering merasa kelelahan. Setiap hari ia dikejar puluhan rapat daring, ratusan pesan singkat, dan tumpukan data yang harus dianalisis. Hidup yang serba cepat membuatnya merindukan sesuatu yang sederhana. Kadang ia membayangkan duduk di beranda rumah desa, menatap bintang tanpa ada suara notifikasi. Di tengah keramaian kota, ia justru merasa ada kekosongan yang tak bisa diisi oleh layar digital.
Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau, dan perjalanan digitalnya berjalan tidak seragam. Ada kota-kota besar yang sudah menguji jaringan 5G, sementara ada desa-desa yang baru tahun ini mengenal internet. Pemerintah membangun menara BTS, memperluas jaringan 4G, dan meluncurkan satelit untuk menjangkau wilayah yang sulit. Namun infrastruktur bukan satu-satunya tantangan. Literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah. Banyak warga desa yang masih kesulitan membedakan berita benar dan palsu. Di sisi lain, warga kota menghadapi tantangan baru seperti privasi data, kecanduan gawai, hingga tekanan mental akibat banjir informasi.
Di balik angka-angka statistik yang kaku ada wajah manusia yang hidup. Ada ibu rumah tangga di desa Raka yang mulai belajar menggunakan aplikasi keuangan sederhana untuk mencatat pengeluaran. Ada remaja di Jakarta yang belajar desain grafis melalui kursus daring lalu membuka jasa ilustrasi secara mandiri. Ada seorang kakek di pulau kecil yang untuk pertama kalinya melakukan panggilan video dengan cucunya di kota, meneteskan air mata karena jarak ribuan kilometer mendadak terasa dekat.
Raka semakin bersemangat mengejar cita-citanya. Ia menulis dalam sebuah esai sekolah bahwa ia ingin menjadi insinyur teknologi. Ia membayangkan bisa membuat aplikasi sederhana yang membantu petani di kampungnya menjual hasil kakao langsung kepada pembeli tanpa perantara. Ia membaca dari berita bahwa sektor informasi dan komunikasi di Indonesia tumbuh 7,57 persen pada 2024, menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Walau kontribusinya terhadap PDB masih 4,34 persen, ia percaya angka itu akan terus meningkat seiring semakin banyaknya anak desa yang terhubung internet.
Di Jakarta, Nara mulai mencari makna lain dari hidupnya. Ia bergabung dengan sebuah komunitas relawan yang mengajar literasi digital di desa-desa. Ia ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada anak-anak yang baru mengenal dunia maya. Dalam perjalanannya, ia mungkin akan bertemu dengan anak seperti Raka.
Angka perdagangan perangkat TIK juga menceritakan kisah tersendiri. Ekspor barang teknologi informasi turun menjadi 7,37 miliar dolar AS pada 2024, turun 2,22 persen dari tahun sebelumnya. Sementara impor justru meningkat menjadi 13,55 miliar dolar AS, terutama untuk komponen elektronik dan perangkat komputer. Angka itu menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi dari luar negeri. Namun bagi generasi seperti Raka, angka itu juga bisa berarti peluang. Jika anak-anak desa bisa belajar teknologi sejak dini, mungkin suatu hari Indonesia bisa menjadi produsen, bukan hanya konsumen.
Malam turun perlahan di desa Raka. Sinyal internet mulai melemah, tapi hatinya tetap penuh semangat. Ia menutup ponsel digital dengan hati-hati, lalu menatap bintang yang bertaburan di langit. Ia tahu bahwa meskipun masih ada kesenjangan, dirinya kini berjalan di jalan yang sama dengan jutaan anak lain di seluruh dunia. Jalan digital yang baru saja dibuka mungkin masih berliku, tetapi ia yakin akan membawanya menuju mimpi yang lebih besar.
Di apartemennya, Nara menutup laptop dan keluar ke balkon. Ia melihat lampu kota berkilauan, lalu menarik napas panjang. Di balik semua kecanggihan itu, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah teknologi digital benar-benar membuat hidup lebih mudah atau justru semakin rumit. Jawaban mungkin berbeda untuk setiap orang. Namun kisah Raka dan Nara menunjukkan bahwa di balik data BPS, ada cerita manusia tentang perjuangan, harapan, dan perjalanan menuju dunia yang lebih terhubung.
Suatu hari nanti, ketika seluruh penduduk Indonesia sudah terhubung internet, mungkin keduanya akan bertemu. Bukan hanya di ruang virtual, melainkan juga di jalan setapak desa tempat sinyal baru saja hadir. Dan dari pertemuan itu, mungkin akan lahir gagasan baru yang menghubungkan Indonesia bukan hanya melalui angka statistik, melainkan juga melalui mimpi-mimpi yang diwujudkan bersama.
Catatan penulis : Nama tokoh dalam artikel ini hanyalah karangan