(Beritadaerah-Kolom) Beberapa waktu lalu, saat membuka media sosial dan membaca pesan yang masuk melalui aplikasi perpesanan, penulis menerima sebuah video dari seorang teman. Isinya sederhana, hanya menampilkan sebuah tempat kuliner yang disebut legendaris. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya makanannya, melainkan antrian pengunjung yang mengular. Sebagian besar adalah anak-anak muda yang rela menunggu cukup lama hanya untuk menikmati seporsi makanan yang sedang viral.
Fenomena seperti ini bukan lagi sesuatu yang langka. Hampir setiap hari selalu ada informasi mengenai kuliner baru, warung yang mendadak populer, pasar malam yang ramai, atau jajanan tradisional yang kembali naik daun setelah diulas oleh kreator konten. Tanpa disadari, video-video singkat tersebut mampu membangkitkan rasa penasaran. Kita pun mulai menyusun rencana untuk datang, mencicipi, lalu membagikan pengalaman itu kepada orang lain.
Penulis pun sering mengalaminya. Berkali-kali perjalanan yang awalnya hanya bertujuan mengunjungi sebuah kota berubah arah karena ada rekomendasi kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Bahkan, tidak sedikit perjalanan yang justru dimulai dari keinginan mencoba kuliner tertentu, lalu menggunakan google untuk menemukan lokasi tersebut, baru kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitarnya.
Inilah wajah baru pariwisata yang sedang berkembang. Wisata tidak lagi hanya berbicara tentang gunung, pantai, air terjun, atau bangunan bersejarah. Kini, kuliner, sentra jajanan, pasar malam, festival UMKM, hingga pasar tradisional telah menjadi daya tarik utama yang mampu menggerakkan orang untuk bepergian. Fenomena ini dikenal dengan istilah snackpacking, yaitu perjalanan yang menjadikan aktivitas berburu jajanan khas sebagai tujuan utama wisata.
Ketika Kuliner Menjadi Alasan Orang Bepergian
Tren snackpacking tumbuh seiring perubahan perilaku wisatawan, terutama di kalangan generasi Z dan millennial. Mereka tidak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto, tetapi juga pengalaman yang autentik, mudah dijangkau, dan ramah di kantong. Seporsi jajanan tradisional yang memiliki cerita, dibuat dengan resep turun-temurun, atau hanya dijual di satu daerah tertentu sering kali lebih menarik dibandingkan restoran mewah yang bisa ditemukan di berbagai kota.
Di sinilah media sosial memainkan peran yang sangat besar. Satu unggahan media sosial di Instagram, atau YouTube mampu mengubah sebuah warung kecil menjadi tujuan wisata dalam hitungan hari. Promosi yang dahulu membutuhkan biaya besar kini dapat dilakukan melalui telepon genggam dan kreativitas para pengunjung.
Fenomena tersebut dapat dilihat di berbagai daerah. Pasar Gede Solo, misalnya, tidak hanya dikenal sebagai pasar tradisional, tetapi juga telah berkembang menjadi destinasi kuliner yang wajib dikunjungi. Wisatawan datang sejak pagi untuk menikmati tengkleng, cabuk rambak, es dawet, hingga aneka jajanan khas Solo sebelum melanjutkan perjalanan ke Keraton Surakarta atau destinasi lainnya.
Hal serupa terlihat di Pasar Ngasem Yogyakarta. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai pasar burung kini berkembang menjadi ruang wisata yang memadukan sejarah, budaya, dan kuliner. Wisatawan dapat menikmati jajanan tradisional sambil merasakan suasana kampung wisata di sekitar Tamansari yang sarat nilai sejarah.

Foto: Antrian Pembeli Wingko dan Bakpia di Pasar Ngasem, Yogyakarta (Sumber : Beritadaerah.co.id)
Di Kota Bandung, Jalan Cibadak menghadirkan contoh lain bagaimana kuliner mampu menghidupkan sebuah kawasan. Ketika malam tiba, jalan ini berubah menjadi pusat wisata kuliner dengan berbagai pilihan makanan, mulai dari hidangan legendaris hingga kuliner kekinian. Banyak wisatawan yang sengaja memasukkan Jalan Cibadak ke dalam daftar kunjungan mereka saat berlibur ke Bandung.
Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa kuliner tidak lagi menjadi pelengkap perjalanan. Justru, kuliner telah menjadi alasan utama seseorang mengunjungi sebuah daerah.
Generasi Muda Mengubah Peta Pariwisata
Setiap kali mengunjungi suatu daerah, penulis hampir selalu melakukan hal yang sama. Setelah menentukan objek wisata yang akan dikunjungi, penulis mencari informasi mengenai kuliner khas yang direkomendasikan warga setempat atau sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Rasanya ada yang kurang jika pulang tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Bahkan, sering kali pengalaman menikmati kuliner justru menjadi kenangan yang paling membekas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kuliner dan pariwisata kini menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Destinasi wisata menghadirkan alasan untuk datang, sedangkan kuliner memberikan pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali.
Perubahan perilaku tersebut diperkuat oleh struktur demografi Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik, Generasi Z merupakan kelompok penduduk terbesar dengan proporsi 24,93 persen, disusul generasi milenial sebesar 24,34 persen. Artinya, hampir separuh penduduk Indonesia berasal dari dua generasi yang aktif menggunakan media sosial, gemar menjelajahi pengalaman baru, dan memiliki pengaruh besar terhadap tren konsumsi.

Gambar : Klasifikasi Penduduk Indonesia – SUPAS 2025 (Sumber: BPS)
Dominasi generasi produktif ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah pasar wisata masa kini sekaligus masa depan. Cara mereka memilih destinasi berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih percaya rekomendasi kreator konten dibandingkan iklan, lebih tertarik pada pengalaman yang unik daripada kemewahan, dan lebih senang mengunjungi tempat yang memiliki cerita untuk dibagikan.
Peluang Besar bagi Daerah
Perubahan perilaku wisatawan tersebut seharusnya dibaca sebagai peluang oleh pemerintah daerah. Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa. Hampir setiap kabupaten dan kota memiliki makanan khas dengan cita rasa, sejarah, dan karakter yang berbeda. Sayangnya, belum semua daerah mampu mengemas kekayaan tersebut menjadi produk wisata yang menarik.
Padahal, manfaat ekonomi yang dihasilkan sangat besar. Ramainya kunjungan wisatawan akan meningkatkan pendapatan UMKM, menghidupkan kembali pasar tradisional, mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif, memperkuat identitas daerah, sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay). Semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar pula perputaran ekonomi yang tercipta, mulai dari sektor transportasi, penginapan, perdagangan, hingga jasa lainnya.
Lebih jauh lagi, tren ini menjadi peluang untuk melestarikan kuliner tradisional. Makanan yang selama ini hanya dinikmati oleh masyarakat setempat dapat naik kelas menjadi ikon daerah sekaligus aset ekonomi yang bernilai tinggi.
Keberhasilan sebuah destinasi kuliner tentu tidak terjadi begitu saja. Di balik ramainya sebuah kawasan wisata kuliner selalu ada ekosistem yang mendukung, mulai dari kualitas produk, kebersihan, keamanan pangan, akses transportasi, hingga promosi yang konsisten. Karena itu, pemerintah daerah perlu melihat tren snackpacking bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan ekonomi daerah.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menata kawasan kuliner dan pasar tradisional agar lebih bersih, nyaman, aman, dan ramah wisatawan. Pasar tradisional tidak lagi hanya diposisikan sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang wisata yang memperlihatkan kekayaan budaya dan cita rasa lokal.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan peningkatan kualitas produk, desain kemasan, sertifikasi keamanan pangan, digitalisasi pembayaran, hingga pemasaran berbasis media sosial.
Selain itu, terdapat sejumlah program yang layak dipertimbangkan sebagai strategi pengembangan wisata kuliner daerah. Pertama, One Region One Signature Snack, yaitu menetapkan satu atau beberapa jajanan khas sebagai identitas resmi setiap kabupaten atau kota. Kedua, Festival Snackpacking Nusantara, sebagai agenda tahunan yang mempertemukan pelaku UMKM, komunitas kuliner, dan wisatawan. Ketiga, Snack Trail, yaitu jalur wisata yang menghubungkan pasar tradisional, sentra UMKM, kawasan heritage, dan destinasi wisata dalam satu paket perjalanan. Keempat, Paspor Kuliner Daerah, yang memberikan pengalaman berburu kuliner melalui sistem stempel atau poin digital yang dapat ditukarkan dengan suvenir atau insentif tertentu. Kelima, Digital Culinary Map, berupa peta digital yang memudahkan wisatawan menemukan kuliner legendaris maupun sentra jajanan lokal.
Program-program tersebut tidak membutuhkan pembangunan destinasi baru. Sebaliknya, pemerintah cukup mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki daerah dan mengemasnya menjadi pengalaman wisata yang menarik, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Foto: Pengunjung yang membeli berbagai kuliner di Pasar Gede Solo (Sumber : Beritadaerah.co.id)
Jadikan Kuliner Pintu Masuk Promosi Daerah
Pada akhirnya, tren snackpacking mengajarkan satu hal penting: daya tarik sebuah daerah tidak selalu harus dibangun melalui proyek besar atau destinasi yang megah. Kadang-kadang, semangkuk tengkleng di Pasar Gede Solo, jajanan tradisional di Pasar Ngasem Yogyakarta, atau semangkuk bakmi hangat di Jalan Cibadak Bandung mampu menjadi alasan seseorang membeli tiket perjalanan dan datang ke sebuah kota.
Di era media sosial, kuliner telah berubah menjadi pintu masuk promosi daerah. Di balik setiap makanan yang viral tersimpan peluang untuk menggerakkan UMKM, menghidupkan pasar tradisional, memperkuat identitas budaya, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan cerita. Setiap daerah memiliki resep turun-temurun, makanan khas, dan pasar tradisional yang menjadi bagian dari sejarah masyarakatnya. Yang masih dibutuhkan adalah keberanian pemerintah daerah untuk mengubah kekayaan tersebut menjadi strategi pembangunan ekonomi berbasis pariwisata.
Ketika kuliner menjadi alasan seseorang melakukan perjalanan, sesungguhnya sebuah daerah telah menemukan identitas pariwisatanya. Dan ketika identitas itu mampu menggerakkan ekonomi lokal, menciptakan peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka snackpacking bukan lagi sekadar tren yang viral di media sosial. Ia telah berkembang menjadi salah satu peluang paling menjanjikan bagi masa depan pariwisata Indonesia.


