Jakarta

Jakarta Menuju Kota dengan Transportasi Publik Kelas Dunia

(Beritadaerah-Kolom) Di tengah kemacetan yang selama bertahun-tahun menjadi identitas Jakarta, ibu kota Indonesia mulai menunjukkan perubahan yang semakin nyata. Berbagai investasi pada transportasi massal dalam satu dekade terakhir mulai menghasilkan pengakuan di tingkat internasional. Salah satu indikatornya adalah Urban Mobility Readiness Index 2024 yang disusun Oliver Wyman Forum, yang menempatkan Jakarta pada peringkat ke-28 dunia dalam kategori Public Transit. Posisi tersebut menjadi pencapaian penting karena menunjukkan bahwa kualitas transportasi publik Jakarta mulai mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia yang selama ini dikenal memiliki sistem mobilitas terbaik.

Peringkat tersebut bukan sekadar melihat keberadaan moda transportasi, tetapi merupakan hasil penilaian terhadap berbagai aspek, seperti kepadatan jaringan, efisiensi operasional, tingkat penggunaan transportasi publik, konektivitas antarmoda, hingga kemampuan sistem beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan mobilitas masyarakat. Dengan kata lain, semakin tinggi peringkat sebuah kota, semakin baik pula kemampuannya menyediakan layanan transportasi publik yang cepat, nyaman, mudah diakses, dan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Meski masih berada di bawah kota-kota seperti Singapura, Hong Kong, Stockholm, Copenhagen, Paris, Vienna, Berlin, maupun Tokyo, posisi Jakarta mencerminkan bahwa transformasi yang dilakukan beberapa tahun terakhir mulai menghasilkan dampak yang terukur. Kehadiran MRT Jakarta, LRT Jakarta, TransJakarta, KRL Commuter Line, Kereta Cepat Whoosh yang terintegrasi dengan jaringan perkotaan, serta pengembangan sistem pembayaran digital telah mengubah wajah transportasi ibu kota secara signifikan. Namun, untuk memahami sejauh mana pencapaian tersebut, perlu melihat perkembangan Jakarta dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana kota-kota terbaik dunia membangun sistem mobilitas mereka.

Laporan terbaru BCG City Mobility Compass 2025 memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai kualitas mobilitas perkotaan. Berbeda dengan Oliver Wyman yang menilai kesiapan mobilitas melalui 14 indikator, Boston Consulting Group mengevaluasi 150 kota di seluruh dunia menggunakan 24 indikator utama yang dikelompokkan ke dalam enam dimensi besar, yaitu efektivitas sistem mobilitas, pengelolaan kendaraan pribadi, kinerja transportasi publik, promosi mobilitas aktif, manajemen permintaan perjalanan, serta kesiapan teknologi dan inovasi. Pendekatan ini memungkinkan penilaian tidak hanya terhadap transportasi publik, tetapi juga keseluruhan ekosistem mobilitas kota.

Dalam kajiannya, BCG menemukan bahwa hampir seluruh kota besar dunia menghadapi tantangan yang sama. Sebanyak 95 persen kota telah menetapkan target agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menuju moda transportasi yang lebih berkelanjutan sebelum tahun 2035. Namun kenyataannya, rata-rata kota masih tertinggal sekitar 10 hingga 15 poin persentase dari target tersebut. Bahkan secara historis, sebagian besar kota hanya mampu mengubah pangsa perjalanan masyarakat sekitar tiga hingga lima poin persentase dalam satu dekade. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi mobilitas bukanlah pekerjaan mudah, melainkan membutuhkan investasi jangka panjang, kebijakan yang konsisten, serta perubahan perilaku masyarakat.

BCG juga menunjukkan bahwa kota dengan ketergantungan rendah terhadap kendaraan pribadi memperoleh manfaat yang sangat besar. Penduduk kota-kota tersebut menghabiskan 30 hingga 40 jam lebih sedikit setiap tahun akibat kemacetan dibandingkan kota yang bergantung pada mobil pribadi. Selain itu, perjalanan selama sepuluh menit menghasilkan emisi karbon sekitar 800 gram CO₂ lebih rendah. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan transportasi publik tidak hanya meningkatkan efisiensi perjalanan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas udara, produktivitas ekonomi, serta kesehatan masyarakat.

Kota yang menjadi contoh utama dalam laporan BCG adalah Singapura. Negara kota tersebut kembali menjadi pemimpin dunia dalam kategori Mass-Transit Megacities berkat strategi yang menggabungkan pembangunan jaringan transportasi publik yang luas dengan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Singapura menerapkan Electronic Road Pricing yang secara otomatis mengenakan tarif kendaraan berdasarkan lokasi, waktu, dan tingkat kepadatan lalu lintas. Selain itu, lebih dari 80 persen persimpangan jalan telah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan pengaturan lalu lintas. Pemerintah Singapura juga menargetkan pembangunan 1.300 kilometer jalur sepeda pada tahun 2030, disertai fasilitas pendukung seperti ruang ganti, tempat mandi, dan area parkir sepeda di berbagai pusat aktivitas masyarakat.

Keberhasilan Singapura menunjukkan bahwa transportasi publik tidak dapat berdiri sendiri. Sistem tersebut harus didukung kebijakan pembatasan kendaraan pribadi, pemanfaatan teknologi digital, integrasi berbagai moda transportasi, serta infrastruktur yang mendorong masyarakat berjalan kaki dan bersepeda. Dengan kata lain, keberhasilan transportasi publik merupakan hasil dari keseluruhan ekosistem mobilitas, bukan sekadar jumlah kereta atau panjang jalur rel.

Berlin memberikan contoh berbeda. Kota ini menjadi pemimpin dunia dalam kategori Multimodal Metropolises karena berhasil mengintegrasikan berbagai moda transportasi dalam satu sistem yang mudah digunakan masyarakat. Berlin memiliki lebih dari 2.000 kilometer jalur sepeda, sementara berbagai stasiun kereta telah dikembangkan menjadi pusat perpindahan antarmoda. Pengguna dapat merencanakan perjalanan, memesan tiket, hingga melakukan pembayaran melalui satu aplikasi digital yang menghubungkan seluruh moda transportasi. Integrasi inilah yang membuat masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.

BCG juga mengidentifikasi bahwa kota-kota terbaik memiliki karakteristik yang hampir sama. Sekitar 80 persen penduduk tinggal dalam jarak yang mudah dijangkau menuju halte bus atau stasiun kereta. Sebaliknya, pada kelompok kota berkembang, tingkat aksesibilitas tersebut hanya berkisar 53 hingga 57 persen. Artinya, masih terdapat sebagian besar masyarakat yang harus menempuh perjalanan cukup jauh sebelum dapat menggunakan transportasi umum. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab tingginya penggunaan kendaraan pribadi di banyak kota berkembang.

Jika dikaitkan dengan Jakarta, tantangan tersebut masih cukup relevan. Meskipun jaringan MRT, LRT, TransJakarta, dan KRL terus berkembang, cakupan pelayanan transportasi massal belum sepenuhnya menjangkau seluruh kawasan metropolitan Jabodetabek. Banyak masyarakat yang masih harus menggunakan sepeda motor atau mobil untuk mencapai stasiun maupun halte terdekat. Oleh karena itu, pembangunan jalur pengumpan, integrasi antarmoda, serta konektivitas kawasan permukiman menjadi faktor penting dalam meningkatkan penggunaan transportasi publik.

Di sisi lain, Jakarta telah memperlihatkan berbagai kemajuan yang cukup signifikan. Pengembangan MRT fase utara–selatan terus berlanjut, sementara proyek MRT Timur–Barat dipersiapkan menjadi tulang punggung baru transportasi massal ibu kota. TransJakarta telah berkembang menjadi salah satu jaringan Bus Rapid Transit terbesar di dunia, dengan ratusan rute yang menghubungkan hampir seluruh wilayah Jakarta dan kota penyangga. Integrasi pembayaran melalui JakLingko juga semakin mempermudah perpindahan antarmoda tanpa harus membeli tiket secara terpisah.

Kemajuan tersebut selaras dengan salah satu rekomendasi utama BCG, yaitu membangun sistem mobilitas yang seamless, atau memungkinkan masyarakat berpindah dari satu moda ke moda lain secara mudah. Pengalaman pengguna menjadi faktor yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Ketika perpindahan moda semakin cepat, sederhana, dan nyaman, masyarakat akan lebih terdorong meninggalkan kendaraan pribadi.

Meskipun demikian, laporan BCG juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Kota perlu mengembangkan berbagai kebijakan pendukung agar perubahan perilaku masyarakat dapat berlangsung lebih cepat. Salah satunya adalah mengelola penggunaan kendaraan pribadi melalui tarif parkir, pengaturan lalu lintas, kawasan rendah emisi, hingga kebijakan harga yang mencerminkan biaya sosial akibat kemacetan. Banyak kota terbaik dunia justru berhasil karena berani mengurangi ruang bagi kendaraan pribadi sambil meningkatkan kualitas transportasi publik.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan teknologi. Menurut BCG, kecerdasan buatan mulai menjadi bagian penting dalam pengelolaan transportasi modern. AI dimanfaatkan untuk memprediksi kepadatan penumpang, mengatur jadwal kendaraan secara dinamis, mengoptimalkan lampu lalu lintas, hingga melakukan pemeliharaan armada secara prediktif. Teknologi ini memungkinkan peningkatan kapasitas sistem tanpa selalu harus membangun infrastruktur baru yang membutuhkan biaya sangat besar.

Selain teknologi, konsep 15-minute city juga menjadi salah satu rekomendasi penting BCG. Konsep ini mendorong pembangunan kota sehingga masyarakat dapat menjangkau tempat kerja, sekolah, pusat kesehatan, ruang terbuka hijau, maupun pusat perbelanjaan hanya dalam waktu sekitar lima belas menit berjalan kaki atau bersepeda. Pendekatan tersebut diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan perjalanan hingga 15–20 persen, sekaligus menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan rendah emisi.

Bagi Jakarta, pendekatan tersebut dapat menjadi arah pembangunan jangka panjang. Seiring berkembangnya kawasan bisnis baru di luar pusat kota, kebutuhan perjalanan menuju satu titik dapat dikurangi melalui pengembangan kawasan campuran yang mengintegrasikan hunian, perkantoran, perdagangan, pendidikan, dan layanan publik dalam satu wilayah. Dengan demikian, mobilitas masyarakat tidak hanya bergantung pada perjalanan jarak jauh setiap hari.

Keberhasilan Jakarta masuk dalam 30 besar dunia untuk kategori transportasi publik merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, perjalanan menuju kota dengan sistem mobilitas terbaik masih cukup panjang. Pengalaman Singapura, Berlin, Copenhagen, maupun kota-kota unggulan lainnya menunjukkan bahwa keberhasilan transportasi publik bukan hanya ditentukan oleh pembangunan rel kereta atau penambahan armada bus. Keberhasilan tersebut lahir dari integrasi kebijakan transportasi, tata ruang, teknologi, pembatasan kendaraan pribadi, serta perubahan budaya masyarakat.

Transformasi transportasi Jakarta bukan lagi sekadar membangun moda baru, melainkan membangun ekosistem mobilitas yang mampu memberikan perjalanan yang cepat, nyaman, terjangkau, aman, dan berkelanjutan. Pengakuan internasional melalui peringkat Oliver Wyman menjadi bukti bahwa arah pembangunan Jakarta sudah berada pada jalur yang benar. Sementara itu, berbagai rekomendasi dalam BCG City Mobility Compass memberikan peta jalan yang jelas mengenai langkah-langkah yang perlu ditempuh agar Jakarta tidak hanya menjadi salah satu kota dengan transportasi publik terbaik, tetapi juga berkembang menjadi salah satu sistem mobilitas perkotaan paling maju di dunia.