(Beritadaerah-Kolom) Perjalanan menuju industri rendah karbon tidak dimulai dengan menerapkan satu kebijakan yang sama kepada seluruh sektor industri. Karakter setiap industri berbeda, mulai dari kebutuhan energi, bahan baku, proses produksi, hingga besarnya emisi yang dihasilkan. Perbedaan tersebut membuat strategi dekarbonisasi tidak mungkin disamaratakan. Apa yang efektif diterapkan pada industri nikel belum tentu sesuai untuk industri semen, begitu pula solusi bagi industri baja tidak selalu relevan bagi industri aluminium.
Karena itu, pendekatan berbasis kawasan (place-based approach) dipilih sebagai langkah awal transformasi. Pendekatan ini berangkat dari fakta bahwa sekitar 41 persen emisi sektor industri Indonesia berasal dari kelompok industri hard-to-abate, yaitu sektor-sektor yang hingga kini masih sulit didekarbonisasi menggunakan teknologi dan praktik yang tersedia. Emisi tersebut juga tidak tersebar secara merata, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah kawasan industri utama. Kondisi inilah yang membuka peluang untuk membangun solusi secara kolektif melalui pengembangan kawasan industri rendah karbon.
Alih-alih mendorong setiap perusahaan membangun infrastruktur dan teknologi sendiri, pendekatan berbasis kawasan memungkinkan berbagai kebutuhan dipenuhi secara bersama. Penyediaan energi rendah karbon, pengembangan utilitas kawasan, hingga penerapan teknologi dekarbonisasi dapat dilakukan secara lebih efisien karena dimanfaatkan oleh banyak tenant dalam satu kawasan. Pendekatan seperti ini juga memungkinkan sumber daya dialokasikan secara lebih strategis sehingga penurunan emisi dapat dicapai tanpa mengorbankan produktivitas maupun daya saing industri.
Empat Kawasan Dipilih Melalui Berbagai Pertimbangan
Transformasi tersebut dimulai melalui empat kawasan industri prioritas yang dipilih berdasarkan sejumlah pertimbangan, yaitu karakter industri, kondisi geografis, aspek teknis, serta kesiapan para pemangku kepentingan. Keempat kawasan ini bukan hanya menjadi lokasi proyek percontohan, tetapi juga menjadi laboratorium untuk menguji berbagai pendekatan yang nantinya dapat diterapkan di kawasan industri lain di Indonesia.
Masing-masing kawasan mewakili sektor industri yang berbeda. Halmahera menjadi representasi industri nikel, Sumatera Utara mewakili industri oleokimia dan aluminium, Tuban menjadi pusat pembelajaran bagi industri semen, sedangkan Cilegon dipilih sebagai representasi industri besi dan baja. Dengan komposisi seperti ini, hampir seluruh kelompok industri penyumbang emisi terbesar dapat dipelajari dalam satu program yang terintegrasi.
Halmahera Menguji Masa Depan Industri Nikel
Kawasan pertama berada di Halmahera melalui Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Kawasan ini memiliki luas sekitar 1.000 hektare dengan kapasitas listrik sekitar 3.400 megawatt, menjadikannya salah satu kawasan industri dengan kebutuhan energi terbesar di Indonesia. Besarnya kapasitas tersebut menggambarkan skala industri pengolahan nikel yang berkembang di kawasan ini.
Pertumbuhan industri nikel berlangsung sangat cepat seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku kendaraan listrik dan baterai. Namun, di balik peluang tersebut terdapat tantangan besar berupa tingginya konsumsi energi. Proses pengolahan nikel membutuhkan pasokan listrik yang stabil dalam jumlah besar sehingga upaya menurunkan emisi tidak cukup hanya dilakukan melalui efisiensi energi.
Karena itu, Halmahera menjadi lokasi penting untuk mengembangkan berbagai alternatif dekarbonisasi, termasuk penguatan sistem energi kawasan, pengembangan infrastruktur bersama, serta integrasi teknologi rendah karbon yang mampu mendukung pertumbuhan industri dalam jangka panjang.
Sumatera Utara Menghubungkan Hilirisasi dengan Efisiensi Kawasan
Kawasan kedua berada di Sumatera Utara yang menggabungkan KEK Sei Mangkei dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). KEK Sei Mangkei memiliki luas sekitar 2.002 hektare dan telah terhubung dengan jaringan listrik PLN, memberikan karakter yang berbeda dibandingkan kawasan lain yang mengandalkan pembangkit mandiri.
Kawasan ini dipilih karena memperlihatkan bagaimana pengembangan industri hilir dapat berjalan seiring dengan upaya membangun sistem industri yang lebih efisien. Hubungan antara kawasan industri, penyedia energi, dan industri pengolahan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri rendah karbon.
Keberadaan Inalum juga memberikan perspektif berbeda mengenai tantangan industri aluminium yang membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar. Dengan karakter tersebut, Sumatera Utara menjadi lokasi yang tepat untuk mengembangkan model integrasi kawasan yang menghubungkan pasokan energi, proses produksi, dan efisiensi kawasan secara bersamaan.
Tuban Mewakili Industri Semen yang Sulit Didekarbonisasi
Berbeda dengan dua kawasan sebelumnya, Tuban dipilih sebagai representasi industri semen. Kawasan Industri Tuban memiliki luas sekitar 227 hektare dan tidak memiliki pembangkit listrik captive, sementara di kawasan ini beroperasi PT Semen Indonesia dan PT Solusi Bangun Indonesia sebagai pelaku utama industri semen nasional.
Industri semen merupakan salah satu sektor yang paling sulit menurunkan emisi karena sebagian besar emisi berasal dari proses pembentukan klinker, bukan semata-mata dari penggunaan energi. Artinya, sekalipun efisiensi energi berhasil ditingkatkan, tantangan pengurangan emisi tetap memerlukan pendekatan teknologi yang lebih komprehensif.
Pengalaman dari Tuban akan menjadi dasar untuk mengevaluasi berbagai pilihan teknologi dan strategi dekarbonisasi yang sesuai bagi industri semen. Pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi kawasan industri lain yang memiliki karakteristik serupa.
Cilegon Menjadi Laboratorium Industri Baja Nasional
Kawasan keempat berada di Cilegon melalui Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), PT Krakatau Steel, dan PT Krakatau Posco. KIEC memiliki luas sekitar 630 hektare dengan dukungan pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas 320 megawatt, memberikan fondasi infrastruktur yang penting bagi transformasi industri baja.
Berbeda dengan sektor lainnya, industri baja membutuhkan kombinasi berbagai teknologi untuk menekan emisi. Pilihan teknologi yang dievaluasi mencakup peningkatan efisiensi energi, penggunaan bahan baku scrap, elektrifikasi melalui Electric Arc Furnace (EAF), pemanfaatan green hydrogen, Direct Reduced Iron (DRI), penggunaan biomassa dan bioreduktan, hingga teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS). Tidak ada satu teknologi yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan emisi, sehingga pendekatan yang ditempuh harus bersifat bertahap dan saling melengkapi.
Pemilihan Cilegon menunjukkan bahwa transformasi industri baja tidak hanya berbicara mengenai pergantian teknologi produksi. Perubahan juga mencakup kesiapan infrastruktur energi, pasokan bahan baku, serta pengembangan ekosistem industri yang mampu mendukung penerapan teknologi baru dalam skala komersial.
Lebih dari Sekadar Proyek Percontohan
Keempat kawasan tersebut tidak hanya menjadi lokasi uji coba teknologi rendah karbon. Di dalamnya juga disusun peta jalan transisi, analisis permintaan produk industri hijau, kajian prospek investasi, peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan, hingga pengembangan transisi yang berkeadilan melalui perencanaan tenaga kerja yang inklusif. Seluruh komponen tersebut dirancang sebagai satu sistem yang saling mendukung agar transformasi industri tidak berhenti pada aspek teknis semata.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa dekarbonisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengurangi emisi. Keberhasilannya juga bergantung pada kesiapan pasar, dukungan investasi, penguatan kebijakan, dan kemampuan membangun kolaborasi di tingkat kawasan. Karena itu, keberhasilan empat kawasan ini akan menjadi tolok ukur penting bagi pengembangan kawasan industri rendah karbon di berbagai wilayah Indonesia.
Fondasi Menuju Industri Berdaya Saing
Empat kawasan prioritas tersebut menjadi gambaran bahwa transformasi industri Indonesia akan berlangsung melalui pendekatan yang bertahap, terukur, dan berbasis karakter masing-masing sektor. Halmahera, Sumatera Utara, Tuban, dan Cilegon bukan dipilih karena memiliki persoalan yang sama, melainkan karena masing-masing menawarkan pelajaran yang berbeda mengenai bagaimana industri dapat bertahan, tumbuh, dan sekaligus menurunkan emisi.
Ketika pengalaman dari keempat kawasan tersebut berhasil dikembangkan menjadi model yang dapat direplikasi, Indonesia tidak hanya memperoleh strategi untuk mengurangi emisi sektor industri. Lebih dari itu, Indonesia akan memiliki fondasi baru bagi kawasan industri yang mampu menggabungkan produktivitas, efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.


