(Beritadaerah-Nasional) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa musim kemarau 2026 mulai meluas secara bertahap di berbagai daerah Indonesia. Hingga awal Juni, sekitar 28,6 persen zona musim tercatat telah memasuki periode kering, terutama di kawasan selatan Tanah Air yang dipengaruhi aliran massa udara kering dari Australia.
Meski sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara, BMKG menyebut peluang hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih dapat terjadi di beberapa daerah, khususnya di bagian utara Indonesia. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir tercatat di wilayah Sumatra Utara, Papua Tengah, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, dan Papua Barat.
Lembaga tersebut juga menjelaskan bahwa dinamika atmosfer global dan regional masih berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Pasifik utara Papua diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan lebat dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
Untuk periode awal hingga pertengahan Juni 2026, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami hujan ringan hingga lebat. Peringatan dini dengan status siaga terkait hujan lebat yang berpotensi disertai petir dan angin kencang diberikan bagi wilayah Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta beberapa daerah lain yang berisiko terdampak cuaca ekstrem.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi. Warga juga disarankan untuk rutin memantau informasi cuaca resmi guna mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer yang masih dinamis selama masa peralihan menuju musim kemarau.


