Lima tahun terakhir menjadi periode yang menentukan bagi wajah energi Indonesia. Jika angka-angka dalam Neraca Energi Indonesia dibaca dengan saksama, maka yang muncul bukan sekadar tabel produksi dan konsumsi, melainkan sebuah cerita panjang tentang bagaimana sebuah negara besar berusaha menjaga denyut ekonominya di tengah guncangan global, keterbatasan sumber daya, dan tuntutan perubahan zaman.
Tahun 2020 menjadi titik awal yang tidak biasa. Ketika pandemi melanda, konsumsi energi nasional langsung terkoreksi tajam. Total konsumsi energi final Indonesia yang pada 2019 masih berada di atas 7,5 juta terajoule turun signifikan. Sektor transportasi menjadi yang paling terdampak. Konsumsi bahan bakar minyak menurun drastis seiring pembatasan mobilitas. Avtur, bensin, dan solar mengalami penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun pada saat yang sama, konsumsi listrik rumah tangga justru meningkat, mencerminkan pergeseran aktivitas masyarakat ke dalam rumah.
Di sisi produksi, Indonesia tetap menghasilkan energi primer dalam jumlah besar. Pada 2020, produksi energi primer masih berada di kisaran 17 juta terajoule, dengan batubara menyumbang lebih dari 60 persen. Gas alam berada di posisi kedua, disusul minyak bumi, hidro, dan sumber energi terbarukan lainnya. Meski aktivitas ekonomi melemah, produksi batubara tetap tinggi karena kontrak ekspor jangka panjang dan kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri.
Memasuki 2021, pemulihan mulai terasa. Konsumsi energi kembali meningkat seiring dibukanya kembali aktivitas industri dan transportasi. Konsumsi energi final naik mendekati 7 juta terajoule. Batubara semakin mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung energi nasional. Produksi batubara melonjak, menembus 600 juta ton, sebagian besar diekspor. Nilai ekspor batubara menjadi salah satu penopang utama neraca perdagangan Indonesia di tengah pemulihan ekonomi global.
Namun, angka-angka itu juga menyimpan paradoks. Di saat Indonesia mengekspor batubara dalam jumlah besar, konsumsi energi domestik masih sangat bergantung pada impor minyak. Produksi minyak mentah nasional terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2020 produksi minyak berada di kisaran 705 ribu barel per hari, lalu turun menjadi sekitar 660 ribu barel per hari pada 2022, dan terus menurun hingga 2024. Sementara konsumsi BBM nasional tetap tinggi, berkisar di atas 1,4 juta barel per hari. Selisih ini ditutup oleh impor, yang berarti ketergantungan pada pasar global semakin besar.
Gas alam menunjukkan pola yang lebih stabil. Produksi gas berada di kisaran 6 hingga 6,5 miliar kaki kubik per hari selama periode 2020–2024. Gas digunakan untuk pembangkit listrik, industri pupuk, dan diekspor dalam bentuk LNG. Namun, porsi ekspor gas masih cukup besar dibandingkan pemanfaatan domestik, sehingga perannya sebagai energi transisi belum sepenuhnya optimal.
Jika ditarik ke sektor listrik, data menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Produksi listrik nasional meningkat dari sekitar 275 terawatt hour pada 2020 menjadi lebih dari 330 terawatt hour pada 2024. Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara masih mendominasi dengan kontribusi lebih dari 60 persen. Gas menyumbang sekitar 18 persen, sementara energi terbarukan—air, panas bumi, bioenergi, dan surya—masih berada di bawah 15 persen.
Kenaikan produksi listrik ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi listrik per kapita, yang naik dari sekitar 1.100 kWh per orang pada 2020 menjadi mendekati 1.400 kWh pada 2024. Angka ini mencerminkan meningkatnya elektrifikasi dan pertumbuhan kelas menengah, tetapi juga menunjukkan tekanan tambahan terhadap sistem energi nasional.
Struktur konsumsi energi nasional selama lima tahun ini relatif konsisten. Sektor industri menyerap sekitar 45 persen energi final, menjadikannya pengguna energi terbesar. Sektor transportasi menyusul dengan porsi sekitar 30 persen, hampir seluruhnya berbasis BBM. Rumah tangga berada di kisaran 15 persen, sementara sisanya digunakan oleh sektor komersial dan lainnya.
Yang menarik, meskipun konsumsi energi meningkat, intensitas energi Indonesia masih tergolong tinggi. Artinya, untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan negara-negara maju. Ini menunjukkan bahwa efisiensi energi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dalam neraca energi, terdapat satu komponen yang sering luput dari perhatian publik, yaitu losses atau kehilangan energi. Selama periode 2020–2024, kehilangan energi dalam proses konversi dan distribusi mencapai jutaan terajoule setiap tahun. Kehilangan ini berasal dari pembangkit listrik yang belum efisien, jaringan transmisi yang panjang, serta penggunaan teknologi lama. Jika dikonversi ke nilai ekonomi, kerugian ini setara dengan puluhan triliun rupiah per tahun.
Di tengah kondisi tersebut, energi terbarukan mulai menunjukkan pertumbuhan, meski lambat. Kapasitas pembangkit energi terbarukan meningkat setiap tahun, terutama dari tenaga air dan panas bumi. Pada 2024, kapasitas terpasang energi terbarukan mendekati 14 gigawatt, naik dibandingkan sekitar 11 gigawatt pada 2020. Namun jika dibandingkan dengan total kapasitas pembangkit nasional, porsinya masih di bawah 20 persen.
Bioenergi juga mulai memainkan peran lebih besar, terutama melalui program biodiesel. Implementasi B30 dan kemudian B35 membuat konsumsi biodiesel meningkat signifikan, mengurangi ketergantungan terhadap solar impor. Namun kebijakan ini juga memunculkan perdebatan baru terkait keberlanjutan bahan baku dan dampaknya terhadap harga pangan.
Jika dilihat secara keseluruhan, Neraca Energi Indonesia 2020–2024 menunjukkan satu benang merah yang jelas: ketahanan energi Indonesia masih bertumpu pada energi fosil, terutama batubara dan minyak. Transisi energi sudah dimulai, tetapi lajunya belum cukup cepat untuk mengubah struktur dasar sistem energi nasional.
Pada saat yang sama, tekanan global semakin kuat. Komitmen penurunan emisi, tuntutan investasi hijau, dan perubahan arah pasar energi dunia menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, batubara masih menjadi andalan ekonomi. Di sisi lain, masa depan energi global bergerak menjauhi bahan bakar fosil.
Lima tahun ini pada akhirnya dapat dibaca sebagai masa persiapan. Indonesia sedang berada dalam fase transisi yang penuh kompromi. Energi lama masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, sementara energi baru perlahan dibangun sebagai fondasi masa depan. Neraca energi menjadi catatan jujur dari proses itu—tentang apa yang telah dicapai, apa yang masih tertinggal, dan tantangan besar yang menunggu di depan.
Jika arah kebijakan tidak berubah secara signifikan, maka dekade berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah Indonesia mampu keluar dari jebakan ketergantungan energi fosil, meningkatkan efisiensi, dan membangun sistem energi yang berkelanjutan, atau justru terus menunda perubahan dengan biaya yang semakin mahal. Jawabannya, sebagaimana tercermin dalam neraca energi, tidak hanya bergantung pada sumber daya yang dimiliki, tetapi pada keberanian untuk mengambil keputusan hari ini demi masa depan esok.


