Ilustrasi Hilirisasi Kelapa (Foto: Kementan)

Bangkitkan Komoditas Kelapa, Kementan Fokus Replanting hingga Hilirisasi

(Beritadaerah – Komoditi) Pemerintah menyiapkan kebangkitan komoditas kelapa nasional dengan membenahi fondasi utamanya, yaitu kebun rakyat. Kementerian Pertanian (Kementan) memprioritaskan peremajaan (replanting) tanaman kelapa tua dan rusak sebagai langkah awal, sebelum mendorong pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peremajaan kebun menjadi kunci mengatasi stagnasi produktivitas kelapa nasional yang selama ini membebani petani. Tanpa kebun yang produktif, hilirisasi tidak akan berjalan optimal.

“Kelapa adalah komoditas rakyat yang melibatkan jutaan petani. Fondasinya harus dibenahi terlebih dahulu, kemudian dikembangkan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir agar memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Mentan Amran.

Saat ini, produktivitas kelapa nasional masih stagnan di kisaran 1,1 ton kopra per hektare per tahun. Tantangan lain meliputi dominasi tanaman tua, keterbatasan benih unggul, belum meratanya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta panjangnya rantai pasok yang melemahkan posisi tawar petani.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat menyampaikan, kebijakan pengembangan kelapa dilakukan secara menyeluruh dengan menempatkan replanting sebagai prioritas, disertai perluasan areal tanam dan intensifikasi kebun melalui bantuan benih unggul bersertifikat dan sarana produksi.

Indonesia memiliki potensi besar dengan luas areal kelapa lebih dari 3,3 juta hektare dan produksi sekitar 2,8 juta ton per tahun yang melibatkan lebih dari 5,5 juta keluarga petani. Kondisi agroklimat yang sesuai menjadi modal pengembangan kelapa berbasis kawasan dan korporasi petani.

Seiring perbaikan hulu, pemerintah mengakselerasi hilirisasi kelapa sejak 2025 melalui pengembangan kawasan seluas 11.515 hektare. Target tersebut meningkat menjadi 154.000 hektare pada 2026 dan diperluas lagi pada 2027 seiring penguatan industri pengolahan dan kemitraan usaha.

Hilirisasi dinilai mampu melipatgandakan nilai ekonomi kelapa. Dari harga sekitar Rp3.000 per butir, kelapa dapat bernilai hingga Rp40–50 ribu setelah diolah menjadi berbagai produk turunan. Dengan penguatan kelembagaan petani, akses pembiayaan, dan kemitraan usaha, Kementan optimistis kelapa kembali menjadi komoditas unggulan nasional berdaya saing global.