Pekerjaan
Ilustrasi: Pencari Kerja di Batam (Foto: Kemkominfo)

Ketika Teknologi Tumbuh Lebih Cepat dari Pekerjaan

(Beritadaerah-Kolom) Bayangkan suatu pagi sebuah pabrik berdiri seperti biasa. Pintu gerbang terbuka, mesin-mesin menyala, kendaraan keluar masuk membawa bahan baku, dan para pekerja datang dengan wajah yang masih menyimpan sisa kantuk. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Tetapi ketika seseorang masuk lebih jauh ke dalam, ia akan menemukan sesuatu yang berbeda. Di antara deretan mesin, manusia mulai semakin sedikit karena pekerjaan yang dahulu dilakukan puluhan orang kini dapat dikerjakan beberapa orang yang mengawasi sistem otomatis dari balik layar.

Di tempat lain, sebuah gudang mungkin bahkan tidak lagi membutuhkan banyak manusia untuk memindahkan barang. Robot bergerak mengikuti jalurnya sendiri, sistem digital menghitung persediaan, dan kecerdasan buatan membaca pola permintaan. Dunia kerja sebenarnya tidak sedang berhenti. Ia justru bergerak semakin cepat. Persoalannya, manusia tidak selalu mampu bergerak dengan kecepatan yang sama. Ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi, pekerjaan yang selama ini dianggap aman dapat berubah menjadi pekerjaan yang terancam.

Inilah paradoks besar teknologi. Ia membuat barang lebih murah, produksi lebih cepat, perusahaan lebih produktif, dan kehidupan konsumen lebih mudah. Tetapi teknologi yang sama juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap tenaga manusia. Kita mungkin tidak akan mengalami kekurangan barang karena mesin mampu menghasilkan semakin banyak. Yang justru perlu dipikirkan adalah kemungkinan bahwa manusia mengalami kekurangan kesempatan untuk bekerja. Persoalannya bukan apakah teknologi akan datang, tetapi apakah masyarakat sudah siap menghadapi konsekuensinya.

Seorang pengusaha tentu tidak menggunakan robot karena membenci pekerja. Ia menggunakannya karena perusahaan harus bertahan. Ketika biaya produksi meningkat, persaingan semakin ketat, dan perusahaan lain mampu menghasilkan barang lebih murah, otomatisasi menjadi pilihan ekonomi yang masuk akal. Robot tidak membutuhkan cuti, tidak sakit, dan dapat melakukan pekerjaan berulang dengan konsistensi tinggi. Bagi perusahaan, teknologi berarti efisiensi. Tetapi bagi pekerja yang pekerjaannya digantikan, efisiensi tersebut dapat berarti sesuatu yang jauh lebih personal: kehilangan sumber penghasilan.

Dahulu teknologi terutama menggantikan pekerjaan fisik. Sekarang batas tersebut semakin kabur. Kecerdasan buatan mulai membantu pekerjaan administrasi, analisis data, layanan pelanggan, desain, pemrograman, hingga pengambilan keputusan tertentu. Inilah yang membuat perubahan kali ini terasa berbeda. Teknologi tidak hanya mengambil alih tangan manusia, tetapi juga mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sebagai kekuatan utama manusia, yaitu kemampuan mengolah informasi dan mengambil keputusan.

Masalah terbesar bukanlah robot. Masalah sebenarnya adalah manusia yang kehilangan pekerjaan tetapi tidak memiliki jalan menuju pekerjaan berikutnya. Seorang pekerja dapat kehilangan pekerjaan bukan karena ia malas atau tidak mampu, melainkan karena teknologi membuat pekerjaannya tidak lagi diperlukan dalam jumlah yang sama. Inilah perubahan yang sering luput ketika kita hanya berbicara mengenai produktivitas. Perusahaan dapat menjadi semakin produktif sekaligus membutuhkan semakin sedikit pekerja untuk menghasilkan jumlah barang yang sama.

Pertanian modern memberikan gambaran yang menarik. Melalui smart farming, sensor, data, otomatisasi, dan teknologi presisi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam proses tertentu. Dari sisi ketahanan pangan, ini merupakan kabar baik. Dunia dapat menghasilkan lebih banyak makanan dengan sumber daya yang lebih efisien. Tetapi muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting: jika satu orang dapat menghasilkan apa yang dahulu membutuhkan sepuluh orang, ke mana sembilan orang lainnya harus pergi?

Pertanyaan tersebut sangat penting bagi Indonesia. Setiap tahun jutaan orang memasuki pasar kerja, sementara sebagian besar tenaga kerja masih berada pada pekerjaan dengan produktivitas relatif rendah. Pada Februari 2026, angkatan kerja Indonesia disebut mencapai sekitar 154,9 juta orang dan penduduk yang bekerja sekitar 147,6 juta. Sekitar 60 juta berada di sektor formal, sedangkan sekitar 87,7 juta berada di sektor informal. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan Indonesia bukan hanya menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan yang sudah ada.

Di balik angka tersebut terdapat manusia. Ada pengemudi yang bekerja sepanjang hari untuk mengejar pendapatan, pedagang kecil yang membuka lapak sejak pagi, pekerja pabrik yang berharap kontraknya diperpanjang, dan anak muda yang baru lulus sekolah lalu mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Ada pula pekerja berusia empat puluhan yang selama puluhan tahun menguasai satu pekerjaan, tetapi tiba-tiba harus belajar kembali karena teknologi membuat keterampilannya tidak lagi cukup. Bagi mereka, perubahan ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan. Perubahan itu menyentuh kehidupan sehari-hari.

Karena itu, sektor informal tidak boleh sekadar dianggap sebagai tempat untuk menampung mereka yang belum mendapatkan pekerjaan formal. Sektor informal seharusnya menjadi jembatan menuju pekerjaan yang lebih produktif. Masalahnya, jembatan tersebut terlalu sering berubah menjadi rumah permanen. Banyak orang bertahun-tahun bekerja tanpa kepastian pendapatan, perlindungan sosial yang memadai, atau kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Mereka memang bekerja, tetapi belum tentu memiliki jalan untuk naik kelas.

Inilah mengapa tingkat pengangguran saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi tenaga kerja. Seseorang bisa bekerja sepanjang hari tetapi tetap miskin. Seseorang bisa memiliki pekerjaan tetapi tidak memiliki kepastian masa depan. Seseorang juga bisa menerima penghasilan hari ini tetapi tidak tahu apakah pekerjaan tersebut masih ada tahun depan. Pekerjaan bukan hanya tentang menerima upah. Pekerjaan memberikan rasa berguna, identitas, martabat, dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Bayangkan seorang pekerja yang sudah dua puluh tahun bekerja di sebuah pabrik. Ia memahami mesin, mengetahui proses produksi, mengenal rekan kerja, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi masalah. Kemudian perusahaan membeli mesin baru yang mampu melakukan pekerjaan yang sama dengan lebih cepat. Dari sudut pandang perusahaan, keputusan itu mungkin rasional. Perusahaan sedang berusaha bertahan dan meningkatkan produktivitas. Tetapi bagi pekerja tersebut, kedatangan mesin dapat mengubah kehidupan dalam waktu singkat.

Di sinilah konflik antara produktivitas dan kesejahteraan sering muncul. Pengusaha membutuhkan perusahaan yang produktif agar bisnis tetap hidup. Pekerja membutuhkan pendapatan yang layak agar kehidupan mereka tetap berjalan. Sebenarnya keduanya bukan musuh. Perusahaan yang bangkrut tidak dapat membayar pekerja, sementara pekerja yang tidak sejahtera juga tidak dapat menjadi konsumen yang kuat. Karena itu, tujuan akhirnya bukan memilih antara perusahaan atau pekerja, melainkan membangun ekonomi yang memungkinkan keduanya tumbuh bersama.

Perlindungan terbaik bagi pekerja juga bukan semata-mata mempertahankan pekerjaan lama. Perlindungan yang lebih penting adalah memastikan seseorang memiliki kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan baru ketika pekerjaan lama hilang. Seorang operator pabrik harus memiliki kesempatan belajar teknologi baru. Pekerja berusia empat puluh tahun harus dapat mengikuti pelatihan tanpa merasa sudah terlambat. Pekerja informal harus memiliki jalur menuju pekerjaan formal. Anak muda tidak cukup hanya memperoleh ijazah. Mereka membutuhkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

Di sinilah pendidikan harus berubah. Ijazah tetap penting, tetapi pengetahuan tidak lagi hanya berada di sekolah dan universitas. Internet membuat seseorang dapat mempelajari teknologi, bahasa, bisnis, desain, pemrograman, pemasaran, hingga berbagai keterampilan profesional dari mana saja. Karena itu, kemampuan belajar kembali akan menjadi semakin penting. Dunia kerja masa depan bukan tempat bagi orang yang hanya mengandalkan apa yang pernah dipelajari. Dunia tersebut akan lebih menghargai manusia yang mampu terus memperbarui dirinya.

Masalahnya bukan AI. Masalahnya adalah bagaimana AI digunakan. Robot dapat menjadi ancaman apabila tujuan satu-satunya adalah mengurangi manusia sebanyak mungkin. Tetapi teknologi yang sama dapat menjadi alat untuk mengurangi pekerjaan berat, meningkatkan keselamatan, membantu pekerja mengambil keputusan, dan menciptakan pekerjaan baru yang lebih bernilai. Teknologi pada akhirnya adalah alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana perusahaan, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat menggunakannya.

Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar. Industri hijau, ekonomi digital, manufaktur berteknologi tinggi, energi, pariwisata, serta industri maintenance, repair and overhaul dapat menciptakan pekerjaan bernilai lebih tinggi. Tetapi peluang tersebut membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai. Jika perusahaan berkembang tetapi tenaga kerja lokal tidak siap, maka pekerjaan bernilai tinggi dapat diisi oleh tenaga ahli dari tempat lain. Karena itu, investasi harus dilihat bukan hanya dari berapa besar modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar kemampuan manusia yang dibangun bersamanya.

Investasi Rp1.000 triliun, misalnya, tidak otomatis menyelesaikan persoalan tenaga kerja. Investasi memang penting untuk membangun industri dan meningkatkan kapasitas ekonomi. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah investasi tersebut menciptakan pekerjaan seperti apa. Jika investasi sangat padat modal dan hanya menghasilkan sedikit pekerjaan, maka pertumbuhan investasi belum tentu berjalan seiring dengan pertumbuhan kesempatan kerja. Angka sekitar Rp700 juta investasi untuk setiap pekerjaan dari skenario Rp1.000 triliun dan 1,4 juta tenaga kerja menunjukkan mengapa hubungan antara investasi dan pekerjaan perlu dilihat lebih dalam.

Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk mengabaikan persoalan tersebut. Kita memiliki penduduk besar, pasar domestik luas, sumber daya alam, dan posisi strategis di kawasan. Namun kita juga memiliki jutaan manusia yang membutuhkan pekerjaan produktif. Karena itu, pekerjaan masa depan harus diciptakan bersama kompetensi masa depan. Setiap kawasan industri, investasi besar, dan proyek ekonomi baru seharusnya memiliki hubungan dengan sekolah, politeknik, universitas, lembaga pelatihan, dan pusat riset agar investasi tidak hanya membawa modal dan mesin, tetapi juga membawa transfer pengetahuan.

Pengusaha, pekerja, pemerintah, dan dunia pendidikan harus duduk di meja yang sama. Pengusaha berbicara tentang produktivitas, pekerja berbicara tentang kesejahteraan, sementara pemerintah membangun ekosistem agar keduanya dapat bertemu. Tidak ada pihak yang benar-benar bisa berjalan sendiri. Perusahaan membutuhkan pekerja produktif, pekerja membutuhkan perusahaan yang sehat, dan negara membutuhkan keduanya untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Ekonomi bukan permainan yang selesai setelah satu periode atau satu generasi. Ia adalah infinite game. Teknologi berubah, pekerjaan berubah, kebutuhan berubah, dan keterampilan yang hari ini dianggap aman bisa menjadi usang beberapa tahun kemudian. Karena itu, kemenangan bukan ketika manusia mengalahkan mesin. Kemenangan adalah ketika manusia mampu menggunakan mesin untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ketika perusahaan tetap hidup, pekerja tetap memiliki kesempatan, dan mereka yang kehilangan pekerjaan memiliki jalan untuk kembali.

Mungkin suatu hari robot akan bekerja lebih cepat daripada manusia. Mungkin AI akan mengetahui lebih banyak daripada manusia. Mungkin mesin akan mengerjakan pekerjaan yang dahulu membutuhkan ratusan orang. Semua itu mungkin terjadi. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: keyakinan bahwa kemajuan ekonomi tetap harus memiliki manusia di dalamnya. Sebab sebuah negara tidak hanya dibangun oleh investasi, mesin, angka pertumbuhan, dan teknologi. Negara dibangun oleh manusia yang merasa memiliki masa depan.

Selama pekerjaan masih menjadi jalan menuju martabat, menciptakan pekerjaan bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ia adalah janji tentang masa depan. Janji bahwa teknologi boleh berkembang, perusahaan boleh semakin produktif, dan investasi boleh semakin besar, tetapi manusia tidak boleh ditinggalkan. Ukuran kemajuan pada akhirnya bukan hanya seberapa pintar mesin yang berhasil kita ciptakan, melainkan seberapa banyak manusia yang memperoleh kesempatan untuk hidup lebih baik karena kemajuan tersebut.