(Beritadaerah-Kolom) Di Bali dan Nusa Tenggara, hutan tidak berbicara melalui jutaan meter kubik kayu. Ia berbicara melalui buah, madu, nira nipah, rotan, dan kayu yang perlahan berubah menjadi bangunan, furnitur, dan produk bernilai tambah.Jika kita membayangkan peta kehutanan Indonesia sebagai sebuah panggung besar, Bali dan Nusa Tenggara mungkin berdiri jauh di belakang sorotan. Di panggung yang sama, Sumatera menghasilkan 42,76 juta m³ kayu bulat, Kalimantan 11,19 juta m³, Jawa 5,53 juta m³, Sulawesi 741,21 ribu m³, dan Maluku-Papua 1,66 juta m³. Bali dan Nusa Tenggara hanya menghasilkan 19.457,11 m³, atau sekitar 0,03 persen dari produksi kayu bulat nasional sebesar 61,90 juta m³ pada 2025. BPS bahkan mencatat angka tersebut sebagai produksi kayu bulat terendah di antara wilayah pulau yang dibandingkan. Tetapi justru karena angkanya kecil, cerita Bali dan Nusa Tenggara menjadi berbeda: di sini, kehutanan tidak terutama tentang skala, melainkan tentang bagaimana sumber daya yang relatif terbatas menemukan banyak bentuk kehidupan ekonomi.
Bayangkan tahun 2025 berjalan seperti sebuah musim panjang. Pada tiga bulan pertama, kayu bulat yang diproduksi Bali dan Nusa Tenggara hanya 1.245,23 m³. Triwulan kedua justru sedikit lebih rendah, 1.073,51 m³. Lalu datang perubahan yang tajam: pada triwulan ketiga produksi melonjak menjadi 5.119,85 m³ dan pada triwulan keempat mencapai 12.018,52 m³. Dengan demikian, lebih dari separuh produksi tahunan terkonsentrasi pada kuartal terakhir. Perubahan ini terutama digerakkan oleh kelompok rimba campuran yang meningkat dari 1.176,97 m³ pada triwulan pertama menjadi 10.264,99 m³ pada triwulan keempat.
Di balik angka kecil itu terdapat komposisi yang cukup jelas. Kelompok rimba campuran menghasilkan 16.443,80 m³ atau 84,51 persen dari seluruh kayu bulat Bali dan Nusa Tenggara. Kelompok indah menyumbang 1.439,30 m³, kelompok meranti 1.180,46 m³, akasia 367,08 m³, dan kelompok eboni 26,47 m³. Tidak tercatat produksi dari kelompok “lainnya”. Dengan demikian, 15,49 persen sisanya memang berasal dari kelompok indah, meranti, akasia, dan eboni. BPS mencatat dominasi 84,51 persen rimba campuran ini secara khusus sebagai karakter utama produksi kayu bulat wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Namun, ada sesuatu yang menarik ketika kita berhenti menghitung batang pohon dan mulai mengikuti perjalanan kayunya. Kayu yang diproduksi di Bali dan Nusa Tenggara tidak berhenti sebagai kayu bulat. Ia masuk ke industri pengolahan dan pada 2025 berubah menjadi 12.057,21 m³ kayu gergajian, 4.005,87 m³ veneer, 3.747,61 m³ bahan bangunan prefabrikasi, 3.581,59 m³ kayu lapis, 707,17 m³ furnitur kayu, dan 566,06 m³ barecore. Di luar produk yang dihitung dalam meter kubik tersebut, terdapat pula produksi wood pellet sebesar 328,05 ton. Jika produk-produk dalam satuan m³ dijumlahkan, total produksi kayu olahan wilayah ini mencapai 24.665,51 m³.
Menariknya, pola tersebut tidak identik dengan pulau-pulau lain. Sumatera memiliki kekuatan pada chip dan partikel, pulp, fiberboard, kayu gergajian dan veneer; Jawa menonjol pada plywood, kayu gergajian, veneer, wood working dan barecore; Sulawesi memiliki keunggulan yang sangat kuat pada wood pellet. Bali dan Nusa Tenggara mengambil jalur yang lebih beragam tetapi dalam skala lebih kecil: kayu gergajian menjadi produk terbesar, diikuti veneer, bahan bangunan prefabrikasi, kayu lapis dan furnitur kayu. BPS secara eksplisit menempatkan lima produk tersebut sebagai produk kayu olahan utama Bali dan Nusa Tenggara pada 2025.
Kayu gergajian sendiri memiliki perjalanan yang menarik sepanjang tahun. Produksinya mencapai 3.466,54 m³ pada triwulan pertama, turun menjadi 2.998,98 m³ pada triwulan kedua, kembali sedikit turun menjadi 2.930,65 m³ pada triwulan ketiga, dan menjadi 2.661,04 m³ pada triwulan keempat. Veneer justru bergerak berlawanan: dari 713,00 m³ pada triwulan pertama, meningkat menjadi 1.060,00 m³, lalu 1.104,05 m³ dan mencapai 1.128,82 m³ pada triwulan keempat. Bahan bangunan prefabrikasi hanya mulai tercatat pada triwulan kedua sebesar 741,60 m³, melonjak menjadi 2.257,37 m³ pada triwulan ketiga, kemudian 748,64 m³ pada triwulan keempat.
Kayu lapis memperlihatkan pola yang serupa dengan veneer. Produksinya meningkat dari 722,39 m³ pada triwulan pertama menjadi 833,66 m³ pada triwulan kedua, kemudian 995,37 m³ pada triwulan ketiga dan 1.030,17 m³ pada triwulan keempat. Furnitur kayu justru menurun sepanjang tahun, dari 355,78 m³ menjadi 199,45 m³, kemudian 72,16 m³ dan 79,78 m³. Barecore juga bergerak turun, dari 177,36 m³ pada triwulan pertama menjadi 137,01 m³, 128,38 m³ dan 123,31 m³ pada triwulan keempat. Sementara wood pellet yang dihitung dalam ton menghasilkan 84,12 ton pada triwulan pertama, 90,36 ton pada triwulan kedua, 65,67 ton pada triwulan ketiga dan 87,90 ton pada triwulan keempat.
Tetapi kalau kita hanya melihat kayu, kita akan kehilangan bagian paling khas dari Bali dan Nusa Tenggara. Sebab di wilayah ini, hutan justru berbicara lebih banyak melalui apa yang tidak menjadi kayu. Pada 2025, BPS mencatat produksi hasil hutan bukan kayu berupa nira nipah, buah-buahan, bambu, rotan, madu, asam, getah pinus, daun-daunan, umbi-umbian, kemiri, lonto, dan kelompok lainnya. Daftar ini membuat gambaran kehutanan wilayah tersebut terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sesuatu yang dipanen, dikumpulkan, diolah, dimakan, atau diperdagangkan, bukan semata-mata ditebang dan dikirim.
Yang paling besar secara volume justru datang dari nira nipah. Produksinya mencapai 241.600 liter sepanjang 2025, dengan 57.600 liter pada triwulan kedua, 120.000 liter pada triwulan ketiga, dan 64.000 liter pada triwulan keempat; pada triwulan pertama tidak tercatat produksi. Angka ini jauh melampaui produksi madu yang mencapai 180 liter. Buah-buahan menghasilkan 1.277,90 ton, terdiri dari 54,40 ton pada triwulan pertama, 664,00 ton pada triwulan kedua, 355,00 ton pada triwulan ketiga dan 204,50 ton pada triwulan keempat. Dengan angka produksi buah dalam ton tersebut, BPS bahkan menyebut Bali dan Nusa Tenggara sebagai salah satu kontributor utama produksi buah-buahan hasil hutan bukan kayu.
Kemudian ada asam, sebuah komoditas yang jumlahnya mungkin tidak terdengar besar dalam statistik nasional tetapi memberi warna tersendiri pada cerita wilayah ini. Produksinya mencapai 166,22 ton, dengan 20,50 ton pada triwulan pertama, tidak ada produksi pada triwulan kedua, kemudian melonjak menjadi 135,22 ton pada triwulan ketiga dan turun menjadi 10,50 ton pada triwulan keempat. Getah pinus menghasilkan 91,01 ton, sementara daun-daunan menghasilkan 65,00 ton dan umbi-umbian 57,00 ton. Ketiganya memperlihatkan bahwa bahkan ketika produksi kayu bulat sangat terbatas, hutan masih menyediakan berbagai bahan yang dapat keluar dari kawasan hutan dalam bentuk yang berbeda-beda.
Rotan juga hadir dalam cerita ini dengan produksi 585,50 ton. Tidak ada produksi yang tercatat pada triwulan pertama, kemudian muncul 24,00 ton pada triwulan kedua, melonjak menjadi 279,50 ton pada triwulan ketiga dan mencapai 282,00 ton pada triwulan keempat. Bambu tercatat sebanyak 725 batang, seluruhnya pada triwulan keempat. Kemiri menghasilkan 18,73 ton, dengan 1,23 ton pada triwulan pertama, 6,00 ton pada triwulan kedua dan 11,50 ton pada triwulan ketiga, sementara tidak ada produksi pada triwulan keempat. Ada pula lonto sebesar 1,60 ton dan kelompok hasil hutan lainnya sebesar 30,00 ton.
Jika angka-angka tersebut disusun seperti warna pada sebuah lukisan, hasilnya tidak menyerupai hutan industri berskala besar. Tidak ada jutaan ton chip seperti Sumatera, tidak ada jutaan meter kubik plywood seperti Jawa, dan tidak ada ratusan ribu meter kubik wood pellet seperti Sulawesi. Yang muncul justru mosaik: 19.457,11 m³ kayu bulat, 24.665,51 m³ kayu olahan, 328,05 ton wood pellet, 241.600 liter nira nipah, 1.277,90 ton buah-buahan, 585,50 ton rotan, 180 liter madu, 166,22 ton asam, 91,01 ton getah pinus, 65 ton daun-daunan, 57 ton umbi-umbian, 18,73 ton kemiri, 1,60 ton lonto, 725 batang bambu, dan 30 ton hasil hutan lainnya.
Ada sebuah pesan menarik dari komposisi tersebut. BPS mencatat bahwa Bali dan Nusa Tenggara merupakan kontributor utama produksi buah-buahan dalam satuan ton dan madu dalam satuan liter di antara wilayah pulau yang dibandingkan. Pada saat yang sama, Sulawesi lebih menonjol pada getah pinus dan rotan dalam satuan ton, Jawa pada bambu, gula aren, getah pinus, getah karet hutan, buah-buahan, umbi-umbian, madu dan daun kayu putih, sedangkan Maluku dan Papua pada sagu serta daun kayu putih. Artinya, setiap wilayah memiliki “bahasa” hasil hutan bukan kayunya sendiri, dan Bali-Nusa Tenggara berbicara cukup kuat melalui buah dan madu.
Mungkin karena itulah angka 0,03 persen tidak seharusnya dibaca sebagai angka yang kecil lalu selesai. Angka tersebut hanya menjelaskan volume kayu bulat. Ia tidak menjelaskan keseluruhan hubungan antara hutan dan ekonomi di Bali dan Nusa Tenggara. Di luar 19.457,11 m³ kayu bulat, terdapat kegiatan pengolahan kayu menjadi berbagai produk, lalu ada hasil hutan bukan kayu yang sama sekali tidak membutuhkan pohon untuk berubah menjadi batang kayu terlebih dahulu. Dalam statistik BPS, seluruhnya berdiri berdampingan sebagai bagian dari produksi kehutanan.
Dan mungkin di sinilah kisah Bali dan Nusa Tenggara menjadi berbeda dari cerita kehutanan pulau-pulau besar lainnya. Di wilayah dengan produksi kayu bulat hanya 0,03 persen dari nasional, nilai hutan tidak tampak dalam satu angka raksasa. Ia tersebar dalam banyak angka yang lebih kecil: dalam buah yang dipanen, nira yang dikumpulkan, rotan yang dipisahkan, madu yang dihasilkan, kayu yang digergaji, veneer yang dibuat, furnitur yang dirakit, hingga bangunan prefabrikasi yang diproduksi. BPS menggunakan cakupan Data Kehutanan Triwulanan 2025 yang mencakup seluruh Dinas Kehutanan Provinsi di Indonesia, dengan metode pencacahan lengkap melalui Computer-Assisted Web Interviewing (CAWI), sehingga data ini memang dimaksudkan untuk merekam produksi kehutanan secara rinci dari sumber pemerintah daerah.
Bali dan Nusa Tenggara mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: hutan tidak selalu harus besar untuk menjadi berarti. Ada wilayah yang kekuatan hutannya terletak pada jutaan meter kubik kayu, ada yang pada industri pulp dan chip, ada yang pada wood pellet. Tetapi ada pula wilayah yang nilai hutannya tersebar dalam banyak bentuk kecil yang hidup berdampingan dengan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Di Bali dan Nusa Tenggara, hutan tidak datang sebagai satu raksasa. Ia datang sebagai kumpulan cerita—buah, nira, rotan, madu, kayu, furnitur, dan bangunan—yang bersama-sama membentuk sebuah ekonomi hutan dengan karakter yang sangat berbeda.


