(Beritadaerah-Kolom) Selama berabad-abad, hutan sagu menjadi fondasi kehidupan masyarakat Marind di Papua Selatan. Pohon sagu tidak hanya menyediakan sumber karbohidrat utama, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pangan, budaya, dan identitas masyarakat adat yang diwariskan lintas generasi. Hutan menyediakan sagu, ikan, rusa, babi hutan, serta berbagai hasil alam lain yang menopang kehidupan tanpa harus mengubah bentang alam secara besar-besaran. Namun, perubahan penggunaan lahan dalam dua dekade terakhir telah mengurangi akses masyarakat terhadap sumber pangan tradisional tersebut. Bersamaan dengan itu, pola konsumsi masyarakat juga berubah. Beras dan makanan olahan semakin menggantikan sagu sebagai makanan pokok, sementara berbagai persoalan gizi mulai muncul di sejumlah kampung adat.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang jauh melampaui persoalan pangan. Ketika hutan semakin berkurang, masyarakat kehilangan ruang berburu, mengumpulkan hasil hutan, dan memanen sagu yang selama ini menjadi penyangga ketahanan pangan keluarga. Anak-anak yang sebelumnya mengonsumsi pangan lokal dengan kandungan gizi beragam kini lebih sering mengonsumsi beras, mi instan, dan makanan siap saji. Pergeseran konsumsi ini diikuti meningkatnya kasus malnutrisi dan stunting di sejumlah wilayah, terutama pada kelompok masyarakat adat yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan dan sumber pangan bergizi.
Ironisnya, sagu merupakan salah satu tanaman pangan paling produktif di kawasan rawa tropis. Satu pohon sagu dewasa mampu menghasilkan sekitar 150–300 kilogram pati kering, jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan pangan sebuah keluarga dalam waktu cukup lama. Tanaman ini tidak membutuhkan pupuk kimia maupun sistem irigasi modern sehingga sangat sesuai dengan kondisi ekologis Papua Selatan. Masyarakat Marind telah mengembangkan pengetahuan mengenai pemanenan dan pengolahan sagu secara turun-temurun sehingga keberadaan hutan selama ini menjadi jaminan ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan budaya.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan perkembangan Papua Selatan saat ini. Berdasarkan hasil SUPAS 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 2026, jumlah penduduk Provinsi Papua Selatan telah mencapai sekitar 550,3 ribu jiwa dengan rasio ketergantungan sebesar 75,40. Angka kematian bayi masih mencapai 34,49 per 1.000 kelahiran hidup, sementara fertilitas berada pada 2,74 anak per perempuan. Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kualitas sumber daya manusia, termasuk pemenuhan gizi masyarakat, masih menjadi tantangan utama di provinsi termuda tersebut.
Publikasi Papua Selatan Dalam Angka 2026 juga menunjukkan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan sektor pertanian, kehutanan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Ketersediaan data tersebut menjadi penting karena perubahan bentang alam tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga memengaruhi sistem pangan, mata pencaharian, dan kualitas hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada sumber daya hutan.
Perubahan pola konsumsi yang terjadi di Papua Selatan tidak dapat dipisahkan dari dinamika pembangunan dan perubahan penggunaan lahan. Selama bertahun-tahun, masyarakat adat menggantungkan kebutuhan pangan pada sumber daya yang tersedia di hutan. Selain sagu sebagai sumber karbohidrat utama, hutan juga menyediakan ikan air tawar, rusa, babi hutan, burung, serta berbagai jenis sayuran dan buah liar yang melengkapi kebutuhan gizi keluarga. Sistem pangan tersebut berkembang secara alami sesuai dengan karakter ekosistem rawa dan hutan tropis. Ketika akses terhadap hutan mulai berkurang, masyarakat kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Akibatnya, ketergantungan terhadap bahan pangan yang dipasok dari luar wilayah semakin meningkat, terutama beras dan makanan kemasan yang mudah diperoleh di pasar.
Perubahan itu bukan sekadar persoalan jenis makanan, tetapi juga menyangkut kualitas asupan gizi. Sagu mengandung karbohidrat kompleks yang selama ini dikonsumsi bersama ikan, daging buruan, dan hasil hutan lainnya sehingga membentuk pola makan yang relatif seimbang. Ketika pangan lokal digantikan oleh nasi, mi instan, dan makanan olahan, komposisi gizi keluarga ikut berubah. Dalam banyak rumah tangga, makanan sehari-hari semakin didominasi sumber karbohidrat dengan kandungan protein, vitamin, dan mineral yang terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kekurangan gizi pada balita, terutama ketika disertai infeksi seperti diare atau penyakit menular lainnya.
Upaya memperbaiki kondisi gizi masyarakat di Papua Selatan tidak dapat hanya dilakukan melalui program kesehatan atau bantuan pangan. Persoalan yang dihadapi masyarakat adat berakar pada perubahan sistem pangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika sumber pangan lokal semakin sulit diakses, masyarakat terpaksa bergantung pada bahan makanan yang didatangkan dari luar daerah. Ketergantungan tersebut membuat ketahanan pangan menjadi semakin rentan, terutama ketika terjadi gangguan distribusi, kenaikan harga, maupun perubahan kondisi ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, penguatan sistem pangan lokal perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan yang berorientasi jangka panjang.
Pemerintah daerah sebenarnya terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Berdasarkan perkembangan terbaru di Papua Selatan, prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan hingga berada di kisaran 21 persen pada awal 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai program intervensi gizi mulai memberikan hasil positif. Namun, angka tersebut masih mengindikasikan bahwa lebih dari satu dari lima anak mengalami hambatan pertumbuhan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan pemenuhan gizi belum sepenuhnya teratasi, terutama di wilayah-wilayah yang akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pangan bergizi masih terbatas.
Pelestarian hutan sagu memiliki arti yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar mempertahankan satu jenis tanaman pangan. Hutan sagu merupakan bagian dari ekosistem rawa yang berfungsi menyimpan cadangan air, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjadi habitat berbagai satwa liar yang selama ini menjadi sumber protein masyarakat. Ketika kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga terhadap pola hidup, mata pencaharian, dan budaya masyarakat adat. Kehilangan hutan berarti kehilangan ruang hidup yang selama ini menopang keberlangsungan generasi Marind.
Karena itu, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan seharusnya tidak dipandang sebagai dua tujuan yang saling bertentangan. Papua Selatan memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pembangunan yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pengembangan pertanian modern tetap diperlukan untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kebijakan tersebut perlu berjalan seiring dengan perlindungan kawasan hutan sagu, pemberdayaan masyarakat adat, serta pengembangan pangan lokal sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan daerah. Pendekatan seperti ini tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangannya.
Pangan lokal juga memiliki nilai ekonomi yang semakin besar. Sagu tidak lagi dipandang hanya sebagai makanan tradisional, melainkan mulai dikembangkan menjadi bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari tepung, mi, kue, hingga pangan fungsional yang memiliki nilai tambah tinggi. Apabila didukung oleh inovasi teknologi, peningkatan kualitas pengolahan, dan akses pasar yang lebih luas, komoditas sagu berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal tanpa harus mengorbankan kelestarian hutan. Langkah ini sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat adat dengan tetap mempertahankan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Masa depan Papua Selatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi atau luasnya kawasan yang dikembangkan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, dan budaya. Hutan sagu telah membuktikan perannya sebagai penyangga kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Menjadikan sagu sebagai bagian penting dari strategi pembangunan berarti bukan sekadar melestarikan warisan budaya, melainkan juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki hubungan yang kuat dengan tanah dan sumber kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.


