Kemenpora Optimistis Industri Olahraga Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi

(Beritadaerah-Jakarta) Kementerian Pemuda dan Olahraga menegaskan komitmennya untuk menjadikan olahraga sebagai salah satu sektor strategis yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan industri olahraga, investasi, dan wisata olahraga (sport tourism).

Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menyampaikan bahwa olahraga kini perlu dipandang sebagai sektor yang mampu menghasilkan nilai ekonomi, bukan sekadar pos pengeluaran pemerintah. Menurutnya, pengembangan olahraga dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus memperkuat citra Indonesia di tingkat internasional.

Ia menjelaskan, perubahan pendekatan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan olahraga sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan daya saing bangsa dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Erick mengungkapkan bahwa secara global sektor *sport tourism* memiliki nilai ekonomi sekitar 625 miliar dolar AS atau hampir Rp9.800 triliun dengan tingkat pertumbuhan sekitar delapan persen per tahun. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan destinasi wisata dan potensi penyelenggaraan berbagai ajang olahraga berskala internasional.

Selain itu, industri olahraga dunia juga terus menunjukkan tren positif dengan nilai mencapai sekitar 521 miliar dolar AS atau setara Rp8.000 triliun, yang diproyeksikan terus meningkat hingga 2032. Peluang tersebut dinilai dapat dimanfaatkan melalui pengembangan ekosistem olahraga yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kemenpora mendorong penyelenggaraan lebih banyak kompetisi olahraga yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, hingga pelaku usaha mikro dan ekonomi kreatif.

Salah satu contoh yang disoroti adalah meningkatnya jumlah penyelenggaraan lomba lari di berbagai daerah. Saat ini tercatat sekitar 104 ajang maraton digelar di Indonesia dengan melibatkan lebih dari 10 juta peserta, sehingga turut mendorong permintaan terhadap perlengkapan olahraga, akomodasi, dan berbagai layanan pendukung.

Erick juga mencontohkan penyelenggaraan ajang MotoGP Mandalika yang dinilai memberikan dampak ekonomi sekitar Rp4,9 triliun. Selain menarik kunjungan wisatawan, kegiatan tersebut turut menggerakkan sektor kuliner, penginapan, investasi properti, hingga destinasi wisata di kawasan sekitar.

Menurutnya, besarnya efek berganda (multiplier effect) dari penyelenggaraan event olahraga menjadi alasan pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan kementerian, pemerintah daerah, dan sektor swasta guna membangun ekosistem olahraga nasional yang semakin kompetitif.

Di sisi lain, liga olahraga profesional dalam negeri juga dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Perputaran ekonomi liga sepak bola nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp700 miliar, sementara liga bola basket menghasilkan sekitar Rp60 miliar di luar aktivitas ekonomi masing-masing klub.

Karena itu, Kemenpora mendorong lahirnya lebih banyak kompetisi olahraga profesional agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas sekaligus memperkuat industri olahraga nasional.

Kebijakan tersebut juga mendukung implementasi program pembangunan nasional dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan prestasi olahraga, pengembangan industri olahraga, wisata olahraga, investasi, dan ekonomi kreatif.

Selain memperluas industri olahraga, Kemenpora terus melaksanakan berbagai program transformasi, antara lain pembinaan atlet jangka panjang, penyempurnaan regulasi keolahragaan, penguatan kerja sama lintas sektor, penyusunan skema dana pensiun atlet, serta peningkatan akses pembinaan bagi atlet penyandang disabilitas guna mewujudkan ekosistem olahraga Indonesia yang lebih profesional dan berkelanjutan.