(Beritadaerah-Nasional) Indonesia memasuki babak baru dalam pengelolaan sumber daya alam. Data terbaru dari Direktori Perusahaan Kehutanan 2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 660 perusahaan berbasis hutan yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, mencerminkan betapa besarnya peran kawasan hijau dalam perekonomian nasional. Jumlah ini terdiri dari 256 perusahaan HPH, 370 perusahaan hutan tanaman (HPHT), serta 34 perusahaan TSL. Dari total tersebut, sebagian besar masih aktif beroperasi dan memegang izin resmi.
Yang menarik, Kawasan Barat Indonesia (KBI) mendominasi dengan 551 perusahaan, sementara Kawasan Timur Indonesia (KTI) memiliki 109 perusahaan. KBI yang mencakup Sumatera, Kalimantan, dan Jawa selama ini memang menjadi pusat industri berbasis hutan, terutama untuk kebutuhan pulp, kertas, kayu olahan, hingga biomassa. Di wilayah ini terdapat 178 HPH, 340 HPHT, dan 33 TSL, menjadikannya episentrum ekonomi lanskap Indonesia.
Sementara itu, KTI yang meliputi Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua memiliki 78 perusahaan HPH, 30 HPHT, dan hanya 1 TSL. Meski jumlahnya kecil, wilayah timur justru menyimpan potensi besar untuk pengembangan ekonomi hijau di masa mendatang karena masih kaya akan keanekaragaman hayati dan hutan primer.
Dari sisi aktivitas, sebagian besar perusahaan terdaftar masih beroperasi. Data menunjukkan ada 186 HPH aktif, 321 HPHT aktif, dan 27 TSL aktif yang masih menjalankan fungsi produksi, pengelolaan, atau konservasi. Angka ini menunjukkan bahwa sektor berbasis lanskap tetap menjadi tulang punggung ekonomi hijau, sekaligus penyedia lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Para pengamat menilai bahwa industri lanskap Indonesia kini memasuki fase transformasi. Jika dulu hutan identik dengan penebangan kayu, kini peran ekonomi hutan semakin melebar. Ekspansi industri pulp dan kertas, meningkatnya kebutuhan biomassa, serta tumbuhnya pasar karbon membuat hutan tidak lagi sekadar sumber bahan baku, tetapi juga aset ekologi bernilai tinggi.
Banyak perusahaan hutan tanaman industri kini menjadi pemasok utama bahan baku untuk industri pulp dan kertas yang berorientasi ekspor. Dengan 321 perusahaan HPHT yang masih aktif, Indonesia menjadi salah satu produsen pulp terbesar di dunia dan bersaing dengan negara-negara seperti Brasil dan Kanada.
Selain itu, peluang baru juga muncul dari pasar karbon. Dengan aset alam yang besar, Indonesia memiliki kapasitas menyerap karbon yang sangat tinggi. Perusahaan-perusahaan pemegang izin kini mulai melirik proyek-proyek pengurangan emisi dan konservasi yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan. Pohon yang hidup kini memiliki nilai ekonomi yang hampir setara — bahkan lebih besar — dibanding pohon yang ditebang.
Namun tantangan tetap ada. Konflik tenurial, ketidakpastian tata ruang, dan biaya sertifikasi keberlanjutan masih membayangi industri ini. Sertifikasi seperti SVLK, audit rantai pasok, serta standar ESG membuat biaya operasional meningkat, terutama bagi perusahaan kecil.
Meski demikian, banyak pihak optimistis. Pemerintah terus mendorong perhutanan sosial, yang membuat masyarakat lokal turut mengelola kawasan hutan secara legal. Di banyak daerah, program ini terbukti menurunkan konflik sekaligus membuka sumber pendapatan baru.
Dengan 660 perusahaan yang tersebar di dua kawasan besar, ekonomi lanskap Indonesia diyakini akan terus berkembang. Transformasi dari sekadar penebangan kayu ke ekonomi hijau berbasis karbon, biomassa, dan konservasi memberi harapan baru bahwa hutan Indonesia tidak hanya menjadi benteng ekologis, tetapi juga motor ekonomi masa depan.


