(Beritadaerah-Merak) PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) perkuat kesiapan angkutan penyeberangan laut dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem memang berada di luar kendali manusia, namun tingkat kesiapsiagaan terus ditingkatkan oleh ASDP.
Menghadapi kondisi tersebut, ASDP mengimbau seluruh pengguna jasa penyeberangan, khususnya di lintas utama Sumatera–Jawa–Bali, agar meningkatkan kewaspadaan dan menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap perjalanan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul dinamika operasional di Pelabuhan Merak, Banten, pada Jumat (23/1), yang dipengaruhi kondisi cuaca kurang bersahabat.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa faktor alam memiliki peran besar dalam operasional penyeberangan, terutama pada jalur-jalur vital penghubung pusat mobilitas nasional.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 25–31 Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada puncak musim hujan. Kondisi ini dipicu penguatan Monsun Asia serta aktivitas gangguan tropis di wilayah selatan Indonesia, yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan, kecepatan angin, dan tinggi gelombang di sejumlah perairan strategis.
BMKG memprakirakan kecepatan angin di perairan Selat Sunda, Laut Jawa, hingga Selat Bali berada pada kisaran 14–16 knot, dengan hembusan angin (gust) mencapai 25–30 knot.
Sementara tinggi gelombang signifikan diperkirakan berada di rentang 1,2–1,6 meter, dengan potensi meningkat secara fluktuatif mengikuti dinamika atmosfer harian. Dalam kondisi tersebut, sejumlah kapal penyeberangan di Selat Sunda dilaporkan menghadapi tantangan navigasi akibat gelombang dan angin kencang, di antaranya KMP Rishel milik PT Surya Timur Lines dan KMP Dorothy milik Damai Lintas Bahari pada Jumat (23/1).
Peristiwa ini menegaskan bahwa cuaca ekstrem dapat berdampak pada stabilitas pelayaran dan pengamanan muatan, sehingga kewaspadaan serta kepatuhan terhadap standar keselamatan menjadi hal krusial bagi operator maupun pengguna jasa.
Terkait dengan kondisi tersebut, Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan bahwa prakiraan BMKG menjadi acuan utama dalam setiap kebijakan operasional penyeberangan.
“Keselamatan adalah prioritas mutlak. ASDP tidak akan memaksakan operasional apabila kondisi cuaca berisiko. Kami mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dengan bijak, memantau informasi cuaca terkini, serta tidak memaksakan diri menyeberang ketika kondisi tidak aman,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, ASDP melakukan penyesuaian operasional secara dinamis melalui koordinasi intensif dengan KSOP dan BPTD, termasuk pengaturan ulang jadwal hingga penundaan keberangkatan bila diperlukan.
Di sisi darat, pengaturan arus lalu lintas sekitar pelabuhan, optimalisasi kantong parkir, serta pengendalian kepadatan kendaraan terus diperkuat demi menjaga keselamatan dan kelancaran layanan.
Sementara itu, Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menambahkan bahwa perlindungan pengguna jasa juga diwujudkan melalui fleksibilitas layanan.
“ASDP menerapkan kebijakan refund 25 persen dan reschedule 10 persen melalui Ferizy agar perjalanan dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca. Keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
ASDP mengajak masyarakat menjadikan informasi cuaca sebagai rujukan utama dalam merencanakan perjalanan. Informasi terkini terkait jadwal dan kondisi operasional dapat diakses melalui Contact Center 021-191, situs www.ferizy.com, Instagram @asdp191, atau WhatsApp 0811-1021-191.


