(Beritadaerah-Bali) Dalam era digital yang dipenuhi arus informasi tanpa batas, kemampuan masyarakat untuk menyaring dan memahami konten menjadi kebutuhan mendesak. Hal itu disampaikan oleh Redaktur Pelaksana Indonesia.go.id, Untung Sutomo, dalam kegiatan IGID Menyapa bertema “Sehat Sejak Dini untuk Generasi Emas” yang digelar di Bali Sunset Road Convention Center, Rabu (29/10/2025).
Untung menuturkan bahwa penyebaran berita negatif yang marak di media sosial kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental dan kepercayaan publik terhadap informasi. Ia mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan bahwa berita bernuansa negatif tersebar enam kali lebih cepat dibandingkan berita positif, sehingga satu isu negatif dapat menenggelamkan berbagai konten positif yang ada.
Ia menjelaskan pula bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan kecenderungan alami manusia yang lebih mudah terpengaruh oleh hal negatif, atau yang dikenal sebagai negativity bias. Menurutnya, otak manusia memproses informasi negatif dua kali lebih cepat dibandingkan yang positif, membuat dampaknya terasa lebih kuat dan bertahan lama.
Kondisi ini, lanjutnya, berpengaruh langsung terhadap kondisi psikologis masyarakat. Berdasarkan hasil riset, sebagian besar pengguna internet mengaku mengalami stres setelah terpapar berita negatif dalam waktu lama, yang berpotensi menurunkan suasana hati, mengganggu tidur, dan menimbulkan kecemasan.
Untung juga menyoroti generasi Z sebagai kelompok yang paling rentan terhadap paparan tersebut, mengingat tingginya intensitas penggunaan gawai dan media sosial. Ia menilai bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan generasi muda di dunia maya belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk hal produktif, melainkan sering tersita oleh konsumsi konten yang bersifat emosional dan sensasional.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa algoritma media sosial berperan besar dalam memperkuat penyebaran konten negatif. Sistem tersebut, katanya, cenderung menampilkan kembali unggahan yang memicu emosi tinggi, sehingga hoaks dan misinformasi menjadi lebih mudah viral. Ia menyebut mekanisme itu sebagai “musuh tersembunyi algoritma” yang dapat memerangkap pengguna dalam siklus stres dan kehilangan daya kritis.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Untung mendorong masyarakat—khususnya kalangan muda—untuk aktif menciptakan dan menyebarkan konten positif. Ia mengingatkan pentingnya membatasi waktu daring, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, serta menggunakan sumber terpercaya seperti portal resmi pemerintah Indonesia.go.id, yang menyediakan data dan berita publik secara akurat dan bertanggung jawab.
Ia menambahkan bahwa literasi digital di masa kini tidak hanya sekadar kemampuan membaca informasi, melainkan juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami pesan visual, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan interaksi sosial di dunia nyata.
Menutup sesi tersebut, Untung menyampaikan pesan optimistis bahwa paradigma lama tentang “bad news is good news” perlu diubah. Menurutnya, sudah saatnya masyarakat membangun kebiasaan baru: “good news is good news”. Ia menegaskan bahwa semangat positiflah yang akan memperkuat karakter bangsa, menjaga kesehatan mental, dan menumbuhkan rasa saling percaya di tengah masyarakat.


