(Beritadaerah – Komoditi) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara melakukan terobosan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi lokal. Tahun ini, yaitu pengembangan usaha budidaya bandeng berbasis klaster secara terpadu.
Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo dalam keterangan tertulis, Minggu (27/6/2021) mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendorong optimalisasi potensi nilai ekonomi sumber daya perikanan budidaya di wilayah binaan. Kabupaten Jepara, misalnya, dijadikan salah satu fokus program prioritas nasional.
“Jepara ini punya potensi tambak yang cukup luas, terutama tambak-tambak idle dan ini bisa kita optimalkan lebih produktif. Komoditas bandeng saya kira jadi alternatif yang akan kita inisiasi pengembangannya. Tahun ini kita akan mulai fokuskan dengan penerapan model klaster di Kecamatan Donorojo. Saat ini sudah mulai on progres terutama terkait dengan perencanaan baik teknis maupun kajian model bisinisnya,” kata Sugeng.
KKP akan all out mendukung program program di daerah selama ada komitmen tinggi dari Pemda terutama berkaitan dengan fasilitasi kemudahan akses yang dibutuhkan termasuk aspek regulasi yang pro terhadap iklim usaha budidaya.
Melalui pengembangan klaster budidaya bandeng, pihak Balai juga tengah merancang sebuah model bisnis yang terpadu untuk mengoptimalkan nilai tambah pada masing-masing segmen bisnis dari hulu ke hilir. Dikatakan Sugeng, untuk di hilir, pihaknya akan menginisiasi sebuah brand image yang diberi nama “Bandeng Kartini” sebagai produk lokal khas Jepara.
“Kualitas bandeng Jepara yang baik harus kita tangkap sebagai produk unggulan lokal. Jadi, ke depan orang akan mengenal Jepara dengan Bandeng Kartini-nya. Jika ini berkembang saya rasa akan tumbuh UMKM yang menggerakkan ekonomi. Oleh karenanya, ke depan nanti kita bisa elaborasi untuk bagaimana strategi pengembangan produknya mulai dari diversifikasi olahan sebagai produk yang siap saji (ready to eat) hingga pemasaran produk baik secara konvensional maupun secara online. Saya rasa ini bisa kita bangun dengan kerja sama antar pihak terkait,” tuturnya.
Sugeng menargetkan, dari awal pengembangan klaster 5 hektare dapat dihasilkan produksi minimal 10 ton dengan nilai ekonomi mencapai minimal Rp180 juta per siklus, dalam 1 tahun bisa dua kali siklus. Ini jika dijual dalam bentuk fresh.
Menurut Sugeng, ke depan akan dirancang bagaimana melakukan diversifikasi produk sehingga ada added value minimal 50%. Disamping itu, nantinya ada mata rantai bisnis yang terlibat dan ini akan memperluas kesempatan berusaha bagi masyarakat.
Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani
Foto: Kemkominfo


