(Beritadaerah-Jakarta) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pengelolaan kas negara kini menjadi salah satu instrumen fiskal yang dioptimalkan pemerintah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, strategi tersebut melengkapi peran belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang selama ini menjadi motor utama kebijakan fiskal.
Dalam kuliah umum di Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, Jumat (10/7), Purbaya menjelaskan bahwa kontribusi langsung belanja pemerintah terhadap aktivitas ekonomi nasional hanya berkisar 7 hingga 10 persen. Karena itu, pemerintah berupaya memanfaatkan pengelolaan kas agar mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap sektor swasta yang mendominasi perekonomian nasional.
Ia menerangkan, langkah yang ditempuh pemerintah dilakukan dengan menempatkan sebagian dana negara ke sistem perbankan. Dana yang sebelumnya tersimpan di Bank Indonesia dialihkan ke perbankan agar dapat memperkuat likuiditas dan meningkatkan kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan kepada dunia usaha.
Menurut Purbaya, kebijakan tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan uang primer (base money/M0) sehingga dapat mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter tanpa mengurangi independensi Bank Indonesia dalam menjalankan tugasnya.
Ia menambahkan, strategi penempatan dana pemerintah juga diterapkan ketika aktivitas ekonomi mengalami perlambatan pada Mei dan Juni 2026. Saat itu, pemerintah menempatkan sekitar Rp400 triliun di perbankan guna memperkuat kondisi likuiditas sehingga kapasitas penyaluran kredit meningkat dan mampu mendorong kembali kegiatan ekonomi.
Ke depan, pemerintah akan memperluas pemanfaatan manajemen kas sebagai instrumen kebijakan fiskal. Purbaya menilai, pengelolaan kas yang lebih optimal dapat menjaga kecukupan likuiditas di sektor keuangan sekaligus menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi, sehingga kebijakan fiskal tidak lagi hanya bergantung pada belanja negara semata.


