(Beritadaerah-Jakarta) Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyampaikan bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap berada dalam jalur yang terkendali meskipun tekanan global meningkat akibat dinamika geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.
Dalam sebuah diskusi bertema “Outlook Indonesia: Peran Penggerak Ekonomi Nasional” di Jakarta, ia mengindikasikan bahwa pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi sebagai langkah strategis menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan tekanan inflasi.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya utama dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Selain itu, dari sisi eksternal, Indonesia dinilai memiliki mekanisme penyeimbang alami yang membantu meredam dampak gejolak global.
Kinerja ekonomi nasional hingga kuartal pertama 2026 disebut masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,4 hingga 6 persen, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, peningkatan ekspor komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit, serta arus investasi yang terus mengalir.
Di sisi fiskal, penerimaan negara dan realisasi belanja juga memperlihatkan performa yang solid. Meskipun anggaran subsidi meningkat, pemerintah melakukan penyesuaian melalui efisiensi belanja di sektor lain tanpa mengurangi efektivitas program prioritas. Dengan langkah tersebut, defisit anggaran tetap mampu dijaga di bawah ambang batas aman sebesar 3 persen dari produk domestik bruto.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa setiap kebijakan fiskal yang diambil telah melalui proses perhitungan yang matang. Oleh karena itu, pendekatan yang adaptif, koordinasi antarotoritas yang kuat, serta komunikasi yang terbuka dinilai menjadi faktor penting dalam merespons ketidakpastian global.
Pemerintah pun meyakini bahwa dengan pengelolaan fiskal yang hati-hati dan terukur, stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan di tengah tantangan eksternal.


