(Beritadaerah-Kolom) Selama bertahun-tahun, pembangunan industri Indonesia identik dengan pembangunan kawasan industri baru, smelter, pabrik semen, hingga kompleks petrokimia yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Kini, tantangan yang dihadapi mulai bergeser. Bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memastikan kawasan-kawasan industri tersebut mampu beradaptasi dengan tuntutan global terhadap produk yang diproduksi dengan emisi karbon lebih rendah.
Laporan Climateworks Centre menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan kawasan industri rendah karbon melalui pendekatan Net Zero Industrial Precinct (NZIP). Pendekatan ini tidak berfokus pada satu perusahaan saja, melainkan mengintegrasikan berbagai pelaku industri dalam satu kawasan agar dapat berbagi infrastruktur, energi bersih, teknologi, dan investasi untuk menekan emisi secara kolektif.
Dalam kajian tersebut, ribuan lokasi industri di Indonesia diseleksi secara bertahap hingga menghasilkan 20 kawasan yang mewakili sebagian besar produksi tujuh sektor industri strategis nasional, yaitu baja, semen, tekstil, kimia, aluminium dan alumina, pulp dan kertas, serta nikel. Kawasan-kawasan tersebut tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua Barat.Keberadaan kawasan-kawasan tersebut menunjukkan bahwa transformasi industri Indonesia tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa. Sebaliknya, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru mulai terbentuk di berbagai wilayah yang selama ini berkembang berkat hilirisasi sumber daya alam dan investasi manufaktur.
Cilegon tetap menjadi pusat industri baja
Cilegon menjadi salah satu kawasan yang memperoleh perhatian besar dalam kajian tersebut. Kawasan ini merupakan rumah bagi industri baja nasional, termasuk PT Krakatau Steel dan PT Krakatau Posco, yang didukung kawasan industri Krakatau Industrial Estate.Kawasan ini dinilai memiliki keunggulan karena berbagai fasilitas industrinya berada dalam jarak yang relatif berdekatan. Kondisi tersebut membuka peluang pembangunan infrastruktur bersama untuk mendukung transisi menuju industri rendah karbon, termasuk pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi proses industri, serta pengembangan teknologi hidrogen untuk proses produksi baja.Cilegon memiliki akses terhadap pelabuhan dan jaringan logistik yang telah berkembang sehingga dinilai memiliki modal kuat untuk mempertahankan daya saing industri baja Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan pasar internasional terhadap produk rendah emisi.
Gresik mengembangkan ekosistem industri yang beragam
Di Jawa Timur, Gresik memiliki karakter yang berbeda karena menjadi pusat berbagai sektor industri sekaligus, mulai dari semen, pupuk, hingga baja.Keberagaman tersebut memberikan peluang terciptanya sinergi antarsektor dalam membangun ekosistem industri rendah karbon. Kajian tersebut juga menyoroti mulai berkembangnya inisiatif pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau yang berpotensi mendukung proses dekarbonisasi industri kimia dan pupuk.Keberadaan pelabuhan, jaringan energi, dan kawasan industri yang telah berkembang membuat Gresik dipandang memiliki potensi untuk mengintegrasikan berbagai teknologi rendah karbon dalam satu kawasan industri.
Tuban menghadapi tantangan industri semen
Tuban dikenal sebagai salah satu sentra produksi semen terbesar di Indonesia. Industri semen menjadi salah satu sektor yang paling menantang dalam upaya pengurangan emisi karena sebagian besar emisi berasal dari proses produksi klinker, bukan hanya dari penggunaan energi.
Karena itu, berbagai teknologi seperti carbon capture and storage (CCS), pemanfaatan hidrogen, serta penggunaan energi terbarukan menjadi alternatif yang dipertimbangkan untuk mendukung penurunan emisi di kawasan tersebut.Meskipun kesiapan teknologinya masih memerlukan penguatan, kedekatan lokasi fasilitas industri dinilai memberikan peluang untuk membangun infrastruktur bersama sehingga investasi yang dibutuhkan dapat dilakukan secara lebih efisien.
Morowali menjadi pusat perhatian industri nikel
Morowali di Sulawesi Tengah merupakan salah satu kawasan industri yang berkembang paling pesat dalam satu dekade terakhir melalui pembangunan smelter nikel dan industri baja.Pertumbuhan tersebut menjadikan Morowali sebagai salah satu pusat penting dalam rantai pasok bahan baku kendaraan listrik dunia. Namun di sisi lain, kawasan ini juga memiliki konsumsi energi berbasis batu bara yang sangat tinggi karena sebagian besar fasilitas industrinya masih bergantung pada pembangkit listrik captive berbahan bakar batu bara.Kajian tersebut menilai bahwa besarnya konsumsi energi fosil membuat Morowali memiliki potensi pengurangan emisi yang juga sangat besar apabila penggunaan energi terbarukan dan elektrifikasi proses industri dapat dikembangkan secara bertahap.
Halmahera menghadapi tantangan serupa
Halmahera di Maluku Utara juga berkembang sebagai salah satu pusat hilirisasi nikel nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini menarik investasi besar pada pembangunan smelter dan industri pengolahan mineral.Namun, seperti Morowali, kawasan ini masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis batu bara dan masih terbatasnya infrastruktur energi terbarukan.Kajian tersebut menilai bahwa pengembangan kawasan industri rendah karbon di Halmahera membutuhkan investasi yang lebih besar pada infrastruktur energi bersih agar proses transisi dapat berjalan lebih efektif.
Kawasan lain juga memiliki potensi besar
Selain lima kawasan yang direkomendasikan untuk dipertimbangkan sebagai proyek percontohan, laporan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah kawasan lain yang memiliki potensi penting dalam transformasi industri Indonesia.Di Jawa Barat terdapat Bekasi, Citeureup, dan Karawang yang menjadi pusat industri baja, semen, kimia, tekstil, serta pulp dan kertas. Semarang berkembang dengan kombinasi industri tekstil, semen, serta pulp dan kertas.
Di Sumatra terdapat Sumatra Utara, Palembang, dan Riau yang menjadi pusat industri aluminium, baja, pulp, kertas, dan kimia. Sementara di Kalimantan terdapat Bulungan dan Bontang yang memiliki potensi pada industri aluminium, kimia, serta nikel.Di Sulawesi terdapat Motui, Pomalaa, dan Sulawesi Selatan yang berkembang melalui industri nikel, semen, serta aluminium. Sementara Batam di Kepulauan Riau dan Teluk Bintuni di Papua Barat juga masuk dalam pemetaan sebagai kawasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan kawasan industri rendah karbon.
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa transformasi industri Indonesia tidak lagi terpusat pada satu wilayah, melainkan mulai menyebar ke berbagai daerah yang memiliki karakter industri berbeda. Kajian ini menggambarkan bahwa masa depan industri Indonesia tidak hanya bergantung pada besarnya investasi atau melimpahnya sumber daya alam. Daya saing juga akan ditentukan oleh kemampuan setiap kawasan industri membangun sistem produksi yang lebih efisien, memanfaatkan energi yang lebih bersih, serta memperkuat kolaborasi antarperusahaan dalam satu kawasan. Jika langkah tersebut dapat diwujudkan, kawasan-kawasan industri di berbagai daerah berpeluang menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mendukung transisi Indonesia menuju industri yang lebih berkelanjutan.


