(Beritadaerah-Kolom) Jawa Tengah mulai menunjukkan posisi yang semakin penting dalam peta investasi Indonesia. Pada 2025, realisasi investasi di provinsi ini mencapai Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp37,64 triliun. Nilai tersebut merupakan capaian tertinggi Jawa Tengah dalam satu dekade terakhir dan meningkat 28,88 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp68,67 triliun. Investasi tersebut terealisasi melalui 105.078 proyek dan menyerap 418.138 tenaga kerja. Jika dibaca menggunakan kerangka Investment Competitiveness Scoreboard yang dikembangkan McKinsey, angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Tengah bukan sekadar mengalami peningkatan investasi, tetapi sedang membangun posisi sebagai salah satu basis produksi baru yang semakin diperhitungkan dalam kompetisi antarwilayah.
Investasi tumbuh lebih cepat daripada ekonomi
Dari perspektif investment intensity, perkembangan Jawa Tengah cukup menarik karena peningkatan investasi berlangsung bersamaan dengan penguatan pertumbuhan ekonomi. Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen pada 2025, meningkat dari 4,95 persen pada 2024. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tetap ekspansif di tengah perubahan lingkungan ekonomi nasional dan global. Pada saat yang sama, ekspor barang dan jasa tumbuh 10,04 persen dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa peningkatan kapasitas produksi di Jawa Tengah semakin terhubung dengan pasar yang lebih luas, bukan hanya konsumsi domestik.
Namun, intensitas investasi Jawa Tengah perlu dibaca secara berbeda dibandingkan Jawa Barat. Nilai investasi Rp88,50 triliun memang jauh lebih kecil daripada Jawa Barat, tetapi ukuran investasi absolut bukan satu-satunya ukuran daya saing. Dalam kerangka McKinsey, investasi perlu dibandingkan dengan ukuran ekonomi dan kapasitas produktif daerah. Dengan pendekatan tersebut, Jawa Tengah dapat dinilai berdasarkan seberapa besar modal baru yang masuk dibandingkan dengan PDRB, jumlah pekerja, serta kapasitas ekonomi yang sudah tersedia. Pendekatan ini penting karena wilayah dengan investasi nominal lebih kecil belum tentu memiliki daya saing investasi yang lebih rendah apabila investasi tersebut jauh lebih besar relatif terhadap ukuran ekonominya.
PMA menjadi mesin penting
Struktur investasi Jawa Tengah juga memberikan sinyal penting. Dari total Rp88,50 triliun pada 2025, PMA mencapai Rp50,86 triliun atau sekitar 57 persen dari total investasi, sementara PMDN mencapai Rp37,64 triliun. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa investor asing memainkan peranan besar dalam ekspansi kapasitas produksi di Jawa Tengah. Pada saat yang sama, PMDN yang mencapai lebih dari Rp37 triliun menunjukkan bahwa investasi domestik juga berkembang dan tidak sepenuhnya tersingkir oleh masuknya modal asing. Kombinasi keduanya penting karena daya saing daerah yang sehat seharusnya mampu menarik modal asing sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan domestik berkembang.
Kekuatan PMA juga sudah terlihat sejak awal 2025. Pada triwulan I, Jawa Tengah mencatat investasi sekitar Rp21,85 triliun, terdiri dari PMA Rp14,08 triliun dan PMDN sekitar Rp7,77 triliun. Investasi tersebut berasal antara lain dari Tiongkok, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, dan Belanda. Struktur ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah semakin masuk ke dalam jaringan rantai pasok internasional, terutama pada sektor manufaktur.
Manufaktur menjadi jantung investasi Jawa Tengah
Kekuatan utama Jawa Tengah dalam dimensi investment allocation terletak pada industri pengolahan. Pada 2025, industri pengolahan tetap menjadi sektor terbesar dalam struktur ekonomi Jawa Tengah. Pada triwulan III, kontribusinya mencapai 33,43 persen terhadap perekonomian provinsi. Dengan demikian, investasi yang masuk memiliki hubungan yang kuat dengan basis produksi yang sudah terbentuk.
Komposisi investasi 2025 bahkan menunjukkan struktur manufaktur yang cukup beragam. Lima sektor investasi terbesar mencakup industri barang dari kulit dan alas kaki sebesar Rp11,37 triliun, industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi Rp9,70 triliun, industri karet dan plastik Rp8,96 triliun, industri tekstil Rp7,97 triliun, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp7,47 triliun. Struktur tersebut memperlihatkan bahwa Jawa Tengah tidak hanya bergantung pada satu jenis industri, meskipun industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki masih memiliki peran besar.
Kehadiran investasi pada mesin, elektronik, dan peralatan presisi menjadi sinyal yang sangat penting. Jika sektor ini berkembang lebih cepat, Jawa Tengah memiliki peluang untuk bergerak dari basis manufaktur yang terutama mengandalkan biaya tenaga kerja menuju basis produksi yang semakin mengandalkan teknologi dan keterampilan. Perubahan tersebut akan menentukan apakah investasi yang masuk hanya meningkatkan kapasitas produksi atau benar-benar meningkatkan kualitas struktur ekonomi daerah.
Keunggulan Jawa Tengah terletak pada kombinasi biaya dan lokasi
Daya tarik Jawa Tengah tidak hanya berasal dari insentif atau kebijakan pemerintah. Salah satu keunggulan pentingnya adalah kemampuan menawarkan kombinasi antara biaya produksi yang relatif kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, dan konektivitas. Jawa Tengah memiliki jaringan jalan tol Trans-Jawa, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri yang memungkinkan perusahaan menghubungkan fasilitas produksinya dengan pasar domestik maupun rantai pasok internasional. Infrastruktur tersebut semakin penting karena investor tidak hanya menghitung biaya tenaga kerja, tetapi juga biaya logistik dan waktu yang diperlukan untuk membawa bahan baku maupun produk ke pasar.
Kawasan industri Kendal dan Batang menjadi contoh bagaimana ekosistem tersebut mulai terbentuk. Pemerintah Jawa Tengah menyebut adanya relokasi usaha dari China dan Korea Selatan menuju Batang dan Kendal, sementara kawasan industri di kedua wilayah tersebut telah menarik puluhan perusahaan. Ini menunjukkan bahwa keputusan investasi mulai dipengaruhi oleh terbentuknya industrial cluster, bukan hanya oleh biaya produksi individual. Ketika perusahaan pemasok, tenaga kerja, kawasan industri, infrastruktur, dan fasilitas pendukung berkumpul dalam satu wilayah, investasi baru dapat masuk dengan biaya dan risiko yang lebih rendah.
Pantura mulai membentuk koridor investasi baru
Penyebaran investasi di Jawa Tengah juga memberikan cerita penting. Lima daerah dengan kontribusi investasi terbesar pada 2025 adalah Kabupaten Kendal sebesar Rp15,86 triliun, Kota Semarang Rp11,15 triliun, Kabupaten Demak Rp9,06 triliun, Kabupaten Batang Rp6,73 triliun, dan Kabupaten Semarang Rp4,38 triliun. Konsentrasi tersebut menunjukkan bahwa koridor Pantura dan kawasan sekitar pusat industri mulai menjadi pusat baru investasi Jawa Tengah.
Perubahan ini penting karena investasi tidak lagi hanya terkonsentrasi di Kota Semarang. Kendal, Demak, Batang, dan daerah sekitarnya mulai mengambil peran sebagai lokasi produksi. Jika perkembangan ini berlanjut, Jawa Tengah berpotensi membangun jaringan kawasan industri yang saling terhubung dari sisi logistik, pemasok, tenaga kerja, dan pasar. Dengan kata lain, daya saing investasi Jawa Tengah dapat berkembang dari keunggulan beberapa lokasi menjadi keunggulan sebuah koridor ekonomi.
Tenaga kerja menjadi keunggulan sekaligus tantangan
Jawa Tengah memiliki basis tenaga kerja yang besar. Pada 2025, jumlah penduduk yang bekerja mencapai sekitar 21,36 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka juga membaik, dengan angka 4,32 persen pada November 2025. Namun, dalam konteks investment competitiveness, jumlah pekerja tidak dapat dipisahkan dari produktivitas dan kualitas pekerjaan. Pada Agustus 2025, proporsi pekerja formal Jawa Tengah baru mencapai 41,21 persen. Artinya, sebagian besar pekerja masih berada di sektor informal.
Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika struktur investasi mulai berubah. Industri tekstil, alas kaki, dan makanan memang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi investasi pada mesin, elektronik, peralatan presisi, kendaraan listrik, dan industri teknologi membutuhkan keterampilan yang berbeda. Semakin tinggi teknologi yang digunakan, semakin besar kebutuhan terhadap operator terampil, teknisi, engineer, tenaga pemeliharaan, dan pekerja dengan kemampuan digital.
Karena itu, Jawa Tengah memiliki peluang untuk mengubah jumlah tenaga kerja yang besar menjadi keunggulan produktivitas. Pemerintah daerah sendiri telah menempatkan balai latihan kerja, pendidikan vokasi, dan perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya menyediakan tenaga kerja kompeten. Dengan lebih dari 1.500 SMK dan sekitar 2.000 lembaga pelatihan kerja yang disebut dalam platform investasi Jawa Tengah, basis kelembagaannya relatif besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri yang masuk.
Human capital menentukan tahap berikutnya
Indeks Pembangunan Manusia Jawa Tengah pada 2025 mencapai 74,77, meningkat 0,90 poin dari tahun sebelumnya. Harapan lama sekolah mencapai 13,05 tahun, sementara rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas meningkat menjadi 8,15 tahun. Angka tersebut menunjukkan perbaikan modal manusia, tetapi masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja.
Bagi investasi, persoalannya bukan semata-mata berapa tahun seseorang bersekolah. Investor membutuhkan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam proses produksi. Karena itu, hubungan antara perusahaan, SMK, politeknik, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan akan menjadi semakin penting. Jika Jawa Tengah mampu menghubungkan sistem pendidikan dengan kebutuhan kawasan industri, maka keunggulan tenaga kerja murah dapat berkembang menjadi keunggulan tenaga kerja produktif.
Investasi 2026 menjadi ujian berikutnya
Perkembangan 2026 menunjukkan bahwa momentum investasi belum berhenti. Pada Januari–Maret 2026, Jawa Tengah mencatat realisasi investasi sebesar Rp23,02 triliun, terdiri dari PMA Rp12,98 triliun dan PMDN Rp10,04 triliun. Nilai tersebut setara dengan 23,23 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp99,09 triliun dan berasal dari 24.957 proyek dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan bahwa pada awal 2026 Jawa Tengah masih mampu mempertahankan arus investasi yang kuat.
Namun, angka tersebut tidak boleh dibandingkan secara langsung dengan total 2025 karena periode pengukurannya berbeda. Untuk membaca momentum secara benar, investasi Januari–Maret 2026 harus dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Prinsip ini penting apabila Jawa Tengah nantinya benar-benar dimasukkan ke dalam scoreboard 2025–2026 karena indikator investment momentum harus menggunakan periode yang sebanding.
Dari kawasan industri menuju ekosistem industri
Jawa Tengah sekarang berada pada titik penting. Investasi yang masuk semakin besar, kawasan industri berkembang, dan relokasi produksi dari negara Asia mulai memberikan momentum baru. Tetapi tahap berikutnya akan lebih sulit. Pembangunan kawasan industri saja tidak cukup jika tidak disertai pemasok lokal, tenaga kerja terampil, infrastruktur logistik yang efisien, layanan energi yang andal, dan koneksi dengan pasar ekspor.
Karena itu, pengembangan 12 kawasan industri baru yang sedang disiapkan di Rembang, Demak, Kendal, Batang, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, Semarang, Boyolali, Grobogan, dan Kota Semarang perlu dilihat bukan sekadar sebagai penambahan lahan industri. Tantangan sebenarnya adalah memastikan kawasan-kawasan tersebut membentuk jaringan produksi yang saling memperkuat. Jika setiap kawasan hanya menjadi lokasi pabrik tanpa pemasok dan ekosistem pendukung, efek penggandanya akan terbatas. Sebaliknya, jika kawasan tersebut terintegrasi dengan logistik, pendidikan, pemasok, teknologi, dan pasar, daya saing Jawa Tengah akan meningkat secara lebih struktural.
Jawa Tengah memiliki profil daya saing yang berbeda dari Jawa Barat
Perbandingan dengan Jawa Barat memperlihatkan karakter yang menarik. Jawa Barat unggul dalam skala investasi absolut, dengan realisasi Rp296,8 triliun pada 2025, sedangkan Jawa Tengah mencapai Rp88,50 triliun. Tetapi Jawa Tengah memiliki cerita yang berbeda: investasi tumbuh sangat cepat, PMA memiliki peranan besar, dan kawasan industri baru berkembang di sejumlah wilayah Pantura. Jawa Tengah juga menawarkan kombinasi biaya, tenaga kerja, dan ruang untuk ekspansi industri yang dapat menjadi semakin menarik bagi investor yang mencari lokasi alternatif di Pulau Jawa.
Dengan demikian, Jawa Tengah tidak harus mengejar Jawa Barat dalam hal nominal investasi. Strategi yang lebih tepat adalah membangun keunggulan yang berbeda. Jika Jawa Barat telah menjadi pusat manufaktur dengan skala besar dan kedekatan yang sangat kuat dengan pasar Jabodetabek, Jawa Tengah dapat membangun posisi sebagai basis manufaktur kompetitif untuk ekspor dan relokasi industri. Posisi tersebut dapat semakin kuat jika biaya produksi tetap kompetitif sementara produktivitas tenaga kerja terus meningkat.
Dari low-cost manufacturing menuju productive manufacturing
Inilah tantangan utama Jawa Tengah dalam perspektif Investment Competitiveness Scoreboard. Keunggulan biaya dapat menjadi pintu masuk investasi, tetapi produktivitas menentukan apakah investor akan bertahan dan melakukan ekspansi. Industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki dapat menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, tetapi investasi pada mesin, elektronik, peralatan presisi, dan sektor teknologi memberikan peluang untuk meningkatkan nilai tambah.
Karena itu, indikator yang perlu diperhatikan bukan hanya total investasi, tetapi juga investasi per pekerja, investasi terhadap PDRB, pertumbuhan PMTB, struktur investasi sektoral, produktivitas tenaga kerja, penyerapan tenaga kerja formal, dan kemampuan investasi menciptakan ekspor serta nilai tambah. Dengan indikator tersebut, kita dapat melihat apakah Jawa Tengah benar-benar bergerak menuju struktur ekonomi yang lebih produktif.
Pada akhirnya, Jawa Tengah sedang mengalami perubahan penting dalam peta investasi Indonesia. Realisasi Rp88,50 triliun pada 2025 yang merupakan rekor satu dekade, pertumbuhan ekonomi 5,37 persen, dominasi industri pengolahan, serta investasi awal 2026 sebesar Rp23,02 triliun menunjukkan adanya momentum yang kuat. Namun, kekuatan tersebut baru akan menjadi daya saing jangka panjang apabila Jawa Tengah mampu mengubah keunggulan biaya dan ketersediaan tenaga kerja menjadi produktivitas, teknologi, keterampilan, ekspor, dan nilai tambah yang lebih tinggi. Dalam kerangka Investment Competitiveness Scoreboard, Jawa Tengah dengan demikian dapat dipandang bukan hanya sebagai wilayah yang berhasil menarik investasi, tetapi sebagai wilayah yang sedang membangun kapasitas baru untuk menjadi salah satu pusat manufaktur paling kompetitif di Indonesia.


