Dari Viral ke Perubahan: Kisah Yamisa dan Harapan Program Makan Bergizi Gratis di Nias Selatan

(Beritadaerah-Nasional) Sebuah pertemuan daring yang berlangsung dari kediaman pribadi Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, pada Senin (9/3/2026) menghadirkan kembali kisah anak-anak sekolah dari Nias Selatan yang sebelumnya sempat menarik perhatian publik. Anak-anak yang dulu viral karena harus menyeberangi sungai demi pergi ke sekolah kini tampil sebagai simbol perubahan setelah jembatan yang mereka dambakan akhirnya terbangun.

Dalam dialog melalui konferensi video tersebut, Presiden menyapa langsung para kepala daerah, aparat setempat, serta masyarakat dari berbagai wilayah. Salah satu yang ikut berbicara adalah **Yamisa Zebua**, pelajar kelas 12 berusia 17 tahun yang sebelumnya dikenal publik karena keberaniannya menyampaikan keluhan tentang sulitnya akses menuju sekolah.

Pada kesempatan itu, Yamisa menyampaikan apresiasi atas pembangunan jembatan yang kini memudahkan perjalanan para siswa. Ia menuturkan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah yang dinilai telah mengubah keseharian anak-anak di daerah tersebut.

Presiden pun mengingat kembali video Yamisa yang sempat ramai dibicarakan di media sosial. Dengan nada bersahabat, ia menyebut bahwa keberanian Yamisa saat itu justru membuat pemerintah segera mengetahui kondisi yang dialami para pelajar di daerah terpencil.

Meski persoalan akses menuju sekolah telah terbantu dengan hadirnya jembatan baru, Yamisa menyampaikan satu harapan lain. Ia menuturkan bahwa sekolahnya hingga kini belum merasakan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis yang tengah dijalankan pemerintah.

Mendengar hal itu, Presiden menunjukkan perhatian serius dan memastikan bahwa pemerintah akan berupaya agar program tersebut segera menjangkau sekolah di wilayah tersebut. Ia menilai kebutuhan gizi bagi pelajar, terutama di daerah terpencil, merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Yamisa juga menegaskan bahwa program makan bergizi sangat dibutuhkan oleh siswa di daerahnya. Menurutnya, kondisi ekonomi banyak keluarga masih terbatas sehingga bantuan tersebut dinilai sangat berarti bagi para pelajar.

Percakapan singkat itu menggambarkan realitas yang masih dihadapi sebagian daerah di Indonesia: akses pendidikan mulai membaik berkat pembangunan infrastruktur, tetapi kebutuhan dasar seperti pemenuhan gizi masih menjadi tantangan.

Sebelum dialog berakhir, Yamisa juga sempat menyampaikan aspirasi lain mengenai kondisi jalan desa serta fasilitas sekolah yang memerlukan perbaikan. Presiden mendengarkan berbagai masukan tersebut sambil memberikan pesan kepada Yamisa agar tetap fokus menempuh pendidikan.

Bagi masyarakat Nias Selatan, pembangunan jembatan tidak sekadar menghadirkan sarana penghubung fisik. Infrastruktur tersebut menjadi simbol perubahan yang membuka akses pendidikan lebih aman bagi anak-anak sekaligus membawa harapan baru bagi masa depan mereka.