(Beritadaerah-Nasional) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kinerja APBN hingga akhir Januari 2026 menunjukkan kondisi yang tetap kuat di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, ia menguraikan bahwa pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun atau sekitar 5,5 persen dari target tahunan, tumbuh 9,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut ditopang oleh performa penerimaan perpajakan yang meningkat signifikan serta mulai membaiknya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Penerimaan pajak pada Januari bahkan tercatat melonjak lebih dari 30 persen secara tahunan, yang mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi sekaligus peningkatan efektivitas administrasi perpajakan.
Dari sisi belanja, pemerintah mempercepat realisasi anggaran sejak awal tahun. Hingga 31 Januari 2026, belanja negara tercatat Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN, tumbuh 25,7 persen dibandingkan tahun lalu. Akselerasi ini diarahkan untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejak kuartal pertama.
Pada aspek keseimbangan fiskal, defisit APBN tercatat Rp54,6 triliun atau sekitar 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai masih dalam koridor yang dirancang dalam APBN 2026. Sementara itu, keseimbangan primer menunjukkan defisit Rp4,2 triliun, mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap berhati-hati.
Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp105,1 triliun atau 15,2 persen dari target tahunan. Langkah ini ditempuh secara terukur guna menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan.
Secara keseluruhan, APBN 2026 ditegaskan tetap memainkan peran strategis sebagai peredam gejolak sekaligus penggerak ekonomi nasional, dengan optimisme bahwa stabilitas fiskal dan momentum pertumbuhan dapat terjaga sepanjang tahun.


